Berdasarkan internet security Threat Report dari survey yang dilakukan Trend Micro terungkap, terjadi tren perubahan dari perilaku cybercrime (penjahat cyber), di mana mereka tak hanya mengincar perusahaan besar (enterprise), namun juga mulai meningkatkan sasaran perusahaan skala Usaha kecil dan Menengah (UKM). Sayang kesadaran para pelaku UKM terhadap pentingnya perlindungan sistem keamanan jaringan IT (information teknologi) masih rendah.

Perusahaan besar atau enterprise, pada umumnya sudah makin menyadari pentingnya mengimplementasikan sistem keamanan untuk perlindungan jaringan IT dari ancaman penjahat dunia maya (cybercrime).  Apalagi kerugian yang ditimbulkan akibat ulah cybercrime juga makin mengkhawatirkan. Belakangan para penjahat dunia maya ini juga mulai mengalihkan aksinya dengan banyak mengincar perusahaan skala menengah kebawah.

“Dari survei yang prakarsai Trend Micro antara lain terdapat indikasi adanya serangan cybercrime dengan sasaran perusahaan skala UKM ini makin intens. Umumnya kesadaran para pelaku UKM akan pentingnya implementasi system keamanan juga masih rendah. Misalnya untuk Web Security yang sehari-hari mereka pakai, sehingga mudah dijebol,” ungkap Country Manager, Trend Micro Indonesia, Andreas Kagawa menjawab pertanyaan PLIMBI, di Jakarta, belum lama ini.

Pada umumnya, serangan banyak melalui jarngan web atau internet. Mereka tak hanya menyebarkan virus yang bisa merusak jaringan komputer, namun juga mengarah pada pencurian data penting, menjebol password, serta aksi lain yang bisa menimbulkan kerugian besar bagi para korban. Mereka merencanakan aksi kejahatan lebih besar  dari tahun-tahun sebelumnya. Dari perspektif industri, ditemukan pula adanya geliat aktivitas yang mengancam keamanan industri kesehatan dan sistem point-of-sale (PoS). Dari pantauan di seluruh aktivitas keamanan selama tiga bulan pertama di 2015, laporan temuan Trend Micro menunjukkan adanya kelemahan kewaspadaan para profesional di bidang keamanan.

“Tahun ini diprediksi akan diwarnai catatan-catatan tentang meningkatnya serangan-serangan, ditilik dari sisi volume, kecerdikan, serta kecanggihan serangan. Seluruh lapisan, baik kalangan individu maupun, harus selalu proaktif dalam menerapkan upaya perlindungan terhadap ancaman-ancaman keamanan yang bakal hadir. Tak terkecuali bagi UKM sekalipun,” ujar Andreas Kagawa.

Ditambahkan, sejalan dengan tren peningkatan global, Trend Micro mencatat sejumlah ancaman keamanan cyber di Asia Pasifik dan Indonesia, diantaranya URL situs-situs berbahaya, jumlah klik ke URL berbahaya, spam dan malaware. Di kawasan Asia Pasifik sendiri tercatat terjadi peningkatan host aktif untuk situs-situs berbahaya, dari 41 juta aktivitas di Q4 2014 menjadi 61 juta di Q1 2015. Di luar kawasan Asia Pasifik, Tiongkok menjadi kontributor terbesar, dengan 76 % dari total host aktif untuk total situs berbahaya yang tercatat berasal dari negara tersebut.

Disebutkan, lebih dari sepertiga upaya akses yang tercatat di kawasan Asia Pasifik, sejumlah 189 juta akses berasal dari Jepang. Di Indonesia sendiri, di kuartal yang sama, sebanyak 5,1 juta upaya akses ke situs berbahaya berhasil diblokir oleh Trand Micro. Angka tersebut meningkat sebesar 6 % dari kuartal sebelumnya dengan 4,8 juta upaya berhasil diblokir.
Untuk IP pengirim spam yang berhasil diblokir, di Q1 2015, terdapat 342 juta alamat IP yang ditengarai sebagai pengirim spam berhasil dicegah dari upaya mereka melintas di inbox email pengguna dari kawasan Asia Pasifik. Angka tersebut menurun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencatat 349 juta email spam masuk yang berhasil diblokir Trend Micro.

Negara-negara di kawasan Asia Pasifik, Tiongkok dan Jepang menjadi kontributor utama yang tercatat telah mengirimkan 194 juta email spam atau lebih dari separuh total jumlah email spam yang berhasil diblokir Trend Micro. Di Indonesia, Trend Micro berhasil memblokir lebih dari 18,5 juta alamat IP yang ditengarai mengirimkan email spam, meningkat dari kuartal sebelumnya yang mencatat 14,7 juta. Selaras dengan tren yang terjadi di tingkat global, Trend Micro juga mencatat adanya peningkatan jumlah infeksi ransomware di Indonesia. (AC)