Jacobus Busono Raih DR (HC) dari BPPT

0
2043

Jakarta, KomIT- Setelah beberapa kali menerima penghargaan, pemilik dan Chairman Pura Group DR (HC) Jacobus Busono kembali menerima anugerah Perekayasa Utama Kehormatan tahun 2015 dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di bidang teknologi material.Penganugerahan dilakukan oleh Ketua Majelis Perekayasa BPPT yang juga kepala BPPT Unggul Priyanto, di Gedung BPPT, Jakarta.

Menurut Unggul, pak Bus, panggilan akrab Jacobus dinilai sebagai tokoh yang banyak berperan dan kerekayasaan, riset dan pengembangan serta inovasi di industri bidang percetakan yang digelutinya sejak tahun 1970. Bahkan hingga kini sudah menghasilkan 152 paten. Kiprahnya telah menghasilkan inovasi industri di bidang percetakan dan kemasan, pembuatan kertas sekuriti dan kertas uang, sistem anti pemalsuan terpadu, smart card, converting dan engineering terpadu ditopang oleh penguasaan iptek.

“Jacobus Busono tidak berhenti berinovasi di bidang percetakan security paper, smart technology yang memproduksi kartu pintar, membangun Pura Power Plant, pembangkit listrik bertenaga uap dengan sistem co-generation. Selain itu juga memproduksi solar window film yang dikembangkan dengan partikel nano yang berisi elemen-elemen optik,” paparnya. Turut hadir dalam kesempatan itu, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri, Menristek dan Dikti Mohammad Nasir, Menteri Perindustrian Saleh Husin, Mensesneg Pramono Anung, dan lainnya.

Dalam orasinya berjudul Pembinaan Karakter Sumber Daya Manusia Landasan Utama Pembangunan Infrastruktur Teknologi, pria kelahiran Kudus ini mengatakan pengembangan Pura Group tidak bangun atas dasar pengetahuan belaka, melainkan infrastruktur yang dibangun dengan landasan yang paling utama yaitu karakter sumber daya manusia. Menurutnya sumber daya manusia itu sendiri mempunyai infrastruktur utama yaitu karakter. Kebanyakan orang masih berpendapat bahwa tingkat kecerdasan atau IQ adalah segala-galanya. Gelar akademis kerap kali diutamakan, sementara karakternya kurang atau bahkan tidak dikaji lebih dalam. (red)