Dampak El-Nino & Teknologi Modifikasi Cuaca

0
815

Jakarta, KomIT- Saat ini sedang terjadi EL-Nino moderat menuju kuat dan diprediksi akan berlangsung hingga awal tahun 2016. Diprediksi EL-Nino 2015 lebih kuat dibandingkan dengan fenomene Dipole (IOD) masih dalam kondisi netral, maka dampaknya bagi Indonesia diperkirakan tidak akan separah 1997. “Dampak fenomena iklim global ini sudah sangat terasa pada bulan Agustus ini dan akan semakin parah pada bulan September mendatang,” kata Kepala UPT Hujan Buatan-BPPT, F. Heru Widodo, di Ruang Suma 4 Lanud Halim Perdana Kusumah, Jakarta, kemarin

Heru, menjelaskan pengaruh EL-Nino berupa berkurangnya curah hujan di beberapa wilayah Indonesia sangat sulit untuk direndam karena fenomena ini adalah fenomena global. Namun, berbagai upaya telah, sedang, dan akan terus dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan menerapkan teknologi tepat guna dan upaya-upaya konsensional lainnya seperti dropping air bersih, pembuatan sumur, dan lain-lain. Oleh karena itu, diputuskan bahwa salah satu rencana aksi yang akan dilakukan untuk penanggulangan bencana kekeringan adalah melalui upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang lebih dikenal dengan istilah hujan buatan.

Sementara itu, Koordinator Lapangan TMC, Tri Handoko Seto, menjelaskan pelaksanaan hujan buatan yang akan dilakukan oleh UPT Hujan Buatan BPPT di bawah koordinasi BNPB akan diperioritaskan pada daerah-daerah endemis kekeringan yang juga merupakan lumbung beras nasional, yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. “Aktivitas TMC akan dikendalikan dari Pos Komando )Posko) yang bertempatan di Lanud Halim Perdakusuma, Jakarta, dengan daerah target pulau Jawa terutama Jawa Barat dan Jawa Tengah,” kata Tri Handoko.

Namun, TMC dikerjakan dengan melakukan analisis dan prediksi cuaca harian, memantau pertumbuhan awan, lalu melakukan penyemaian awam menggunakan pesawat CN-295 milik TNI AU yang mampu mengangkut bahan semai sebanyak 2,8 ton. Sementara untuk memantau pertumbuhan awan digunakan radar cuaca milik BMKG yang terpasang di Cengkareng, Cilacap, Semarang, dan Surabaya, serta dilakukan juga pengukuran cuaca pada pos-pos meteorolgi (Posment) di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pelaksanaan TMC pada bulan Agustus di Pulau Jawa bukanlah hal yang mudah karena potensi pertumbuhan awan yang sangat sedikit. “Namun, demikian, TMC harus dilakukan dalam kondisi sulit seperti ini untuk mengupayakan terjadinya hujan dari awan-awan marginal yang berpeluang tumbuh,” ujarnya. (red)