Panglima TNI Beri Kuliah Umum di Universitas Brawijaya Malang

0
1225

Malang, KomIT – Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberikan kuliah umum kepada sekira12.500 Mahasiswa Universitas Brawijaya di Gedung Sasana Samanta Krida Universitas Brawijaya Malang, Selasa (1/9). Gatot Nurmantyo memberikan materi kuliah umum dengan tema ”Ancaman terhadap Negara dan cara menyikapinya” Hadir pula, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Sumardi.

Panglima TNI bercerita tentang proxy war atau perang menggunakan pihak ketiga. Menurut dia, proxy war di Indonesia semakin nyata, seiring dengan pergeseran konflik dunia yang berlatar belakang energi. “Perang proksi (proxy war) merupakan ancaman bagi pertahanan Indonesia dalam masa mendatang,” kata Gatot Nurmantyo.

Cara mengatasi Proxy War, Panglima TNI menjelaskan secara urut bahwa kita punya modal geografis dan demografi, dataran kita luas dan harus dijadikan sebagai Negara agraris. Teknologi pangan harus dikembangkan, kita juga punya laut yang luas, bisa diekploitasi, kita juga punya kearifan lokal yaitu nailai sejarah kejuangan sejak jaman Sriwijaya dan Majapahit termasuk pelajaran-pelajaran konflik internal yang menyebabkan kerajaan-kerajaan tersebut hancur. Kita punya Pancasila yang mengajarkan nilai agama dan cara mensejahterakan rakyat dan cara berdemokrasi yang bermatabat yaitu musyawarah mufakat. Maka kearifan lokal dan Pancasila harus dijadikan modal dasar dalam rangka revolusi mental.

Yang diperlukan Negara saat ini adalah saling mendukung dan menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Tantangan kedepan semakin nyata, maka pemuda harus bersatu karena sejarah membuktikan sejak dulu Indonesia ditangan pemuda yang bersatu dan berjuang untuk Indonesia. “Sekian ratus tahun kita dijajah tiba-tiba muncul pemuda yang mencetuskan sumpah pemuda, begitu juga saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan, para Pemuda bersatu dan berjuang,”  terang Panglima TNI.

Dalam kuliah umum ini, Gatot juga menjelaskan bahwa pada tahun 2013 Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan kalau Rusia menyerang Ukraina, maka Nato akan berperang dengan Rusia, itu disebabkan karena Ukraina punya cadangan minyak yang melimpah. Cadangan minyak dunia hanya untuk 28 tahun lagi sampai tahun 2043 dan belum ada temuan baru untuk mengganti energi, sehingga muncul alat yang memanfaatkan energi hayati.

“Dengan pemanfaatan energi hayati maka harga-harga pangan akan meningkat 75 %, dan bahan pangan hayati dapat tumbuh subur di Negara Equator dimana salah satunya yaitu Indonesia dan hal tersebut dapat menyebabkan krisis pangan karena pemanfaatannya dibagi dua antara energi dan pangan. Dari krisis tersebut kedepannya akan terjadi perang karena pangan.”  jelas Panglima TNI. (red)