FGD Tren & Peran Big Data Untuk Monitoring dan Development

0
1323

Jakarta, KomIT – Indonesia memiliki potensi untuk menjadi produsen yang baik terutama di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hal itu dikarenakan banyak sumber daya manusia berkualitas yang bisa dikembangkan di negeri ini. Pemerintah cq Kominfo harus menfasilitasi sehingga bangkitnya industri konten dan aplikasi menjadi tumbuh dan berkembang pesat. Pasalnya, salah satu kendala yang kerap ditemui adalah kecepatan internet dan infrastruktur.

“Kita jangan hanya jadi konsumen teknologi, tetapi bisa menjadi produsen teknologi. Sayang, kita selama ini hanya terbuai dan menjadi penikmat atau pengguna dari teknologi tersebut. Selalu membanggakan kita di posisi 4 pengguna twiter atau media sosial lainnya,” kata Kepala Badan Litbang SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika Basuki Yusuf Iskandar pada acara diskusi Focus Group Discussion (FGD) bertema Tren dan Peran Big data Untuk Monitoring & Development di Balai pelatihan & Riset TIK, Pusat TIK Nasional Kementerian Kominfo, Jakarta, Senin (21/9).

Setelah dibuka oleh Basuki Yusuf Iskandar, FGD dilanjutkan dengan pemaparan oleh empat pembicara yakni Pakar TI yang juga Ketua Umum Apkomindo, Rudi Rusdiah, Heru Sutadi — Executive Director di Indonesia ICT Institute yang pernah menjadi Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Dua pembicara lainnya, yakni Direktur Political Wave, Jose Rizal yang juga staf khusus Presiden bidang Komunikasi serta Ismail Fahmi, CO Founder Awesometrics. Dipandu moderator dari DetikNas, Gerry Firmansyah.

Rudi Rusdiah mengatakan adanya ledakan data (big data) akibat internet of things ini meningkat eksponensial dari jumlah akses internet yang juga membutuhkan perangkat keras hardware sebagai penunjangnya. Kebutuhan Bigdata yang semakin besar membuka peluang baru bagi masyarakat TIK untuk memasuki pasar tersebut. Dan, Hadoop, project opensource dibawah Apache adalah implementasi core bigdata. “Hadoop meliputi data warehousing dan kemudian prosesnya pada tahap data analitic. Dengan menggunakan Hadoop bisa efesiensi waktu dalam menganalisis data,” kata Rudi yang juga CEO Micronics.

Sementara itu, Heru Sutadi menjelaskan bahwa Big data mengacu pada datasets dimana ukurannya di luar kemampuan dari software database pada umumnya untuk menangkap, menyimpan, memanaje dan menganalisanya. “Big data akan terus tumbuh, dengan alasan berdasar faktor: pertukaran informasi/data yang makin besar dan meningkat, aplikasi-aplikasi baru seperti media sosial maupun application store, log file seiring penambahan pengguna, aplikasi maupun pertukaran informasi,” kata Heru.

Lebih lanjut Heru memaparkan Dimensi big data 4 V yakni Volume, Velocity, Variety dan Veracity.Pertama, Volume: Data tumbuh di semua jenis. Tiap hari disebutkan ada 2,5 quintillion byte data (2,5×1018) bytes. Kedua, Velocity: Big Data akan semaksimal mungkin untuk digunakan. Misalnya, meneliti 5 juta peristiwa perdagangan yang dibuat setiap hari untuk mengidentifikasi potensi penipua, atau menganalisis 500 juta detail catatan panggilan secara real-time untuk memprediksi churn pelanggan lebih cepat.

Ketiga, Variety: Data Big adalah jenis data – data yang terstruktur dan tidak terstruktur: seperti teks, sensor data, audio, video, streaming, file dan log. Hasil baru ditemukan ketika menganalisis data secara bersama. Pertumbuhan data di gambar, video dan dokumen dapat digunakan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Dan, terakhir Veracity: 1 dari 3 pemimpin bisnis tidak mempercayai informasi yang ada untuk mereka membuat keputusan. “Bagaimana dapat bertindak atas informasi yang sulit dipercaya? Membangun kepercayaan di Big Data merupakan tantangan besar di saat keberagaman dan jumlah sumber meningkat,” tutupnya. (red)