Menkominfo, RI-Jepang Siap Kerjasama Teknologi White Space TV

0
786

Jakarta, KomIT – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mengungkapkan, selama kunjungan ke Jepang baru-baru ini, pihaknya telah menandatangani memorandum of Cooperation dan cooperation package dengan Minister Internal Affairs and Communications Jepang, Yoshitaka Shindo.

Menurut dia, ada 3 poin utama dari kesepakatan tersebut. Pertama, Indonesia akan bekerjasama dengan Jepang dalam meningkatkan uji coba penerapan teknologi white space TV, untuk meningkatkan penetrasi internet di daerah remote.

Kedua, one segmen television. Dimana jika ada satu daerah di pulau terpencil yang belum memiliki aliran listrik, tapi tetap dapat menikmati siaran televisi. Untuk ini, upaya yang dilakukan adalah uji coba perangkat semacam antena yang dapat menangkap konten TV, untuk selanjutnya diredistribusi ke sekitar 50 rumah di wilayah itu.

“Uji coba semacam ini sudah mulai dilakukan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat. Dengan adanya kesepakatan ini, uji coba akan diperluas, terutama untuk daerah-daerah yang tidak mendapat akses listrik,” ucap Menkominfo, di Jakarta, Rabu (23/9).

Selanjutnya kesepakatan ketiga, adalah disaster management. Ini karena antara Indonesia dan Jepang sama-sama merupakan negara yang sering mengalami bencana.

“Wilayah kita mulai dari Sumatera, Jawa hingga Bali masuk dalam volcano bel, sehingga tiap tahun terjadi gempa bumi. Dan di Jepang, bencana itu frekuensinya lebih sering lagi. Nah, bagaimana kita mengkomunikasikan disaster management,” paparnya.

Menkominfo juga menjelaskan, selama kunjungan di Jepang, dirinya juga belajar dari stasiun televisi NHK, khususnya yang terkait kebijakan operasional stasiun tv itu di Jepang. “Ini terkait rencana kita untuk menggabungkan TVRI dan RRI,” ucapnya.

Menurut Menkominfo, ada kesamaan antara NHK dengan TVRI dan RRI. Karenanya, NHK yang merupakan gabungan antara TV dan radio Jepang sejak tahun 1930-an, bisa menjadi contoh untuk dipelajari dan ditiru.

“Di sana kan NHK itu independen. Di Indonesia juga sama, TVRI dan RRI statusnya lembaga penyiaran publik, jadi mereka independen artinya siaran publik. Hanya saja di Indonesia biayanya masih dibayari oleh pemerintah. Nah di Jepang dibayar dari iuran masyarakat. Jadi ini modelnya kita pelajari bagaimana agar bisa seperti ini,” pungkasnya. (Red)