Menristek & Dikti: Hadapi MEA, Perkuat Inovasi

0
1181

Jakarta, KomIT – Menjelang diberlakukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada Desember tahun ini, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi telah menyiapkan langkah-langkah persiapan. Namun, kunci utama dalam kompetisi regional dan global adalah daya saing.

“ Melalui pelaksanaa MEA 2015, para pelaku usaha dalam negeri agar tidak terlalu khawatir yang berlebihan. Sebab, justru yang paling ditakuti negara lain itu Indonesia. Dengan jumlah penduduk 250 juta, itu artinya jumlah pelaku usaha di Indonesia juga paling banyak dibanding negara lain. Karena itu, begitu pasar Asean dibuka, maka potensi terbesar untuk ‘menyerbu’ adalah pengusaha dan tenaga kerja Indonesia,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir disela seminar ISEI bertema Upaya Meningkatkan Kualitas SDM Indonesia untuk Menghadapi Persaingan MEA di kampus Universitas Mercubuana, Jakarta, (22/9) kemarin. Indonesia akan banyak diuntungkan dengan dibukanya MEA 2015. Ia mencontohkan, tenaga kerja medis maupun profesional lain asal Indonesia yang sebelumnya kesulitan mencari kerja akhirnya bisa menyerbu negara lain seperti Singapura atau Malaysia.

Selain itu, M Nasir memaparkan strategi lain dalam menghadapi MEA 2015 adalah dengan melakukan inovasi dengan didukung riset kelembagaan dan sumber daya yang kuat. Dahulu pengembangan perguruan tinggi fokus pada pemerataan. Tahun ini kementerian berusaha mendorong mutu yang ditargetkan pada 2019 nanti ada 5 perguruan tinggi Indonesia yang masuk 5 besar kelas dunia.

Sementara Rektor Universitasa Mercu Buana Arissetyanto Nugroho mengatakan saat MEA diberlakukan, tenaga kerja Indonesia siap bersaing. Bahkan dia yakin Indonesia pada tahun 2030 akan menjadi kekuatan ekonomi 5 terbesar di dunia. “Bonus demografi bisa dimanfaatkan secara optimal maka tidak menutup kemungkinan target Indonesia menjadi kekuatan ekonomi 5 terbesar dunia pada tahun 2030,” katanya.

Universitas Mercu Buana, kata Rektor, terus melakukan peningkatan kualitas agar lulusannya memperoleh kemampuan (skill) dan pengetahuan (knowledge) yang relevan dengan kebutuhan industri, perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan. Hal yang menjadi prioritas pengembangan Universitas Mercu Buana ke depan adalah membangun sertifikasi profesi yang diwajibkan diikuti oleh mahasiswa. Sertifikasi ini merupakan bukti (legitimasi) bahwa mahasiswa tersebut memiliki kemampuan tertentu yang dibutuhkan oleh industri.

Lebih lanjut M Nasir, instrumen-instrumen untuk menjadi World Class itu harus diperhatikan betul. Oleh sebab itu kita harus punya komitmen bersama tanpa ada komitmen sulit untuk maju ke depan. “Kalau kita punya komitmen kuat, punya integritas dan punya team work yang baik saya yakin akan banyak perguruan tinggi yang menjadi World Class University,” ujarnya.

Pihak Kementerian Ristekdikti ke depan akan menuntaskan pembangunan infrastruktur di berbagai perguruan tinggi. Kemudian Kemenristekdikti juga akan menyiapkan dana untuk membiayai riset dan penelitian dalam rangka meningkatkan kemampuan dosen. (red)