Batan Kelola Limbah dari Penggunaan Zat Radioaktif

0
983

Jakarta, KomIT – Di Indonesia, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) merupakan satu-satunya lembaga yang ditunjuk menjadi pengelola limbah radioaktif yang merupakan konsekuensi logis dari aktivtas manusia. Jika limbah B3 domestik dan radioaktif yang dihasilkan dari industri maupun rumah sakit tidak dikelola secara baik maka akan mencemari lingkungan.

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, aktivitas para pengguna radioaktif tersebut tentu akan menghasilkan limbah. Berdasarkan UU No 10/2007 tentang Ketenaganukliran dan di PP No 61/2013 Tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif disebutkan, Batan satu-satunya lembaga yang punya kewajiban pengelolaan sampai penyimpanan limbah radioaktif. Setelah melalui proses pengolahan agar aman, limbah disimpan dan usia limbah yang sudah tersimpan bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun.

Kepala Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR), Suryantoro menambahkan pengolahan limbah oleh BATAN menggunakan metode evaporasi atau penguapan. Hasil proses penguapan itu menghasilkan konsentrat dan air suling. “Konsentrat tinggi radioaktif tersebut dicampur semen dan dipadatkan. Sehingga aman dari radioaktif,” ucapnya di sela seminar Teknologi Pengelolaan Limbah di Puspiptek Serpong, kemarin. Seminar dan workshop bertema ‘Penguasaan teknologi

Limbah radioaktif, menurut dia pengolahannya lebih susah dibandingkan limbah B3 karena limbah radioaktif harus dimasukkan dahulu ke dalam kapsul. Kemudian diolah sedemikian rupa hingga tidak mengandung radioaktif. Di PTLR, untuk limbah cair diolah melalui pengupan. Lalu, limbah padat dipressure/padatkan setelah itu disemen. “Kami juga menyediakan kendaraan khusus untuk membawa limbah radioaktif,” ujarnya.

Sekedar diketahui, berdasarkan data statistik, lndonesia menghasilkan limbah tidak kurang dari 38 juta ton per tahun. Berdasarkan catatan Badan Pengawas Tenaga Nuklir, saat ini ada 13.000 pengguna atau pemegang izin radioaktif di seluruh Indonesia, seperti industri dan rumah sakit. Pemegang izin tinggal membayar jasa pengolahan limbah ke Batan dan akan masuk sebagai penerimaan negara bukan pajak. Sebab, Batan memiliki storage atau wadah penyimpanan hingga 20-30 tahun yang sudah mumpuni di Asia Tenggara. (red)