Survey Eset: Indonesia Adopsi Knowledge Cyber Security

0
3033

Jakarta, KomIT – Survey ESET Asia Pasifik tentang cyber savviness terhadap pengguna internet , dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat cyber savviness masyarakat di masing-masing negara.

Survei yang melibatkan sekitar 1800 responden di enam negara Asia: India, Malaysia, Singapura, Hongkong, Thailand dan Indonesia terungkap 32% responden tidak memiliki pendidikan formal dibidang teknologi. Sedangkan bagaimana masyarakat tahu tentang keamanan cyber? Ada 31% mempelajari keamanan cyber dengan cara belajar secara mandiri, dengan cara browsing, membaca dari sumber online, dan 13% diantaranya memperoleh informasi dari orang-orang sekitar seperti dari keluarga, dan dari teman atau kolega.

Pada dasarnya pengetahuan yang dimiliki seseorang terkait erat dengan kemampuan menguasai informasi, demikian juga dalam hal cyber savviness. Kemampuan cyber savviness seseorang berkorelasi secara positif dengan tingkat keamanan dirinya sendiri di dunia maya. Untuk memiliki knowledge tentang cyber savvines khususnya yang terkait dengan keamanan cyber, masyarakat umumnya memperoleh informasi dengan berbagai cara.

Jika masyarakat di banyak negara sangat khawatir dengan resiko kejahatan cyber, maka sebaliknya Indonesia. Nettizen di Indonesia justru tergolong paling tidak khawatir dengan resiko online. Temuan tersebut menjadi menarik ketika dibandingkan dengan skor cyber security knowledge Indonesia yang rendah. Pengetahuan tentang cyber security-nya rendah tapi tidak khawatir dengan resiko online.

Namun, pada sisi penerapan langkah keamanan cyber, Indonesia berada pada posisi yang tinggi, yaitu kedua setelah India. Sehingga boleh dikatakan Indonesia termasuk negara yang paling proaktif dalam hal keamanan baik untuk perangkat yang digunakan, maupun mengamankan aktivitas online-nya. Pada aspek tersebut, langkah pengamanan proaktif yang dilakukan mulai dari mengganti password secara berkala, melakukan back up data hingga menginstall software keamanan versi terbaru.

“Pada akhirnya pemahaman tentang cyber savviness juga ikut menentukan tingkat keamanan seseorang di dunia maya” kata Yudhi Kukuh, Technical Consultant, PT. Prosperita-ESET Indonesia “Umumnya masyarakat Indonesia mengadopsi knowledge tentang cyber security secara parsial dan hanya bergantung pada software keamanan cyber, padahal keamanan cyber tidak hanya tentang software keamanan saja, tapi juga soal perilaku, disiplin dalam mengupdate informasi, kewaspadaan, bahkan social engineering. (red)