Gejolak Rupiah “Pukul” Penjualan Komputer

0
793
Ketua Umum Apkomindo Rudi Rusdiah (tengah) foto bersama Pengurus DPD Apkomindo DKI Jakarta

Jakarta, KomIT – Para pedagang di pusat penjualan komputer di Jakarta mengaku, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, beberapa bulan belakangan ini sangat berpengaruh terhadap penjualan komputer. Bahkan dibanding sebelumnya, omzet penjualan turun hingga mencapai 30% lebih.

Adnan, salah seorang pedagang sekaligus Ketua Paguyuban Pedagang Komputer Orion Dusit Mangga Dua mengatakan, pada kuartal 1 dan 2 tahun 2015, sebenarnya penjualan komputer di tempatnya berjualan cukup ramai. Rata-rata pada kuartal tersebut terjadi peningkatan penjualan hingga mencapai 10%.

Tapi memasuki kuartal ketiga, yaitu mulai awal bulan Juli praktis tidak ada transaksi penjualan. Penyebab pertamanya, menurut Adnan, karena pada kuartal ketiga ini berbarengan dengan tahun ajaran baru sekolah. Jadi orang tentu lebih mementingkan menggunakan uangnya untuk biaya masuk sekolah anak-anaknya.

“Tapi begitu persoalan biaya masuk sekolah selesai, masyarakat dihadapkan dengan gejolak nilai tukar rupiah yang sempat melambung hingga Rp 14.000 lebih per dolar AS. Jadi praktis sekarang, jangankan pembeli komputer, orang atau pengunjung yang datang ke Mall saja sepi,” ucap Adnan yang juga Bendahara DPD Apkomindo DKI Jakarta.

Hal senada diungkapkan oleh Fadry Sumar, pedagang yang juga pengurus Paguyuban Harco Mangga Dua Computer Center (HMCC). Bahkan menurut dia, khusus penjualan komputer komputer di Harco Mangga Dua, bisa dibilang sepanjang tahun 2015 ini sepi pembeli.

“Kalo di Harco Mangga Dua, terus terang sejak awal tahun sampai sekarang ini bisa dibilang sudah tidak ada pembeli. Memang pada bulan Januari dan April sempat ramai, tapi diluar itu bener-bener gak ada pembeli,” ucap Fadri, yang juga anggota DPD Apkomindo DKI Jakarta.

Terlebih sekarang ini, lanjut dia, gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bukan hanya membuat tidak ada orang yang mau membeli komputer, karena harganya yang tinggi dan berubah-ubah. Tapi para pedagang pun tidak mau jual barang dagangannya.

“Karena kami tidak mau ambil resiko. Misalnya sekarang kita jual dengan harga sekian, tapi kalau tiba-tiba besok dolar-nya naik lagi, ya kan kami rugi dong. Makanya lebih baik kami tahan barangnya, dari pada jual rugi,” tambah Fadry.

Begitupun dengan kondisi penjualan di Glodok Harco Mangga Dua. Menurut Suwandi, pedagang komputer yang juga anggota DPD Apkomindo DKI Jakarta, sejak awal tahun hingga saat ini penjualan komputer di Glodok pun ikut sepi.

Menurut dia, sepinya pembelian komputer sejak awal tahun 2015 tersebut memang dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari adanya demam smartphone oleh masyarakat, kebutuhan menjelang lebaran, hingga kebutuhan biaya pendidikan anak.

“Dan kondisi ini diperparah dengan nilai tukar rupiah yang anjlok dan bergejolak. Sekarang ini, jangankan untuk pembeli rumahan, untuk proyek-proyek pemerintah saja banyak yang menunda pembelian perangkat komputernya, karena dana yang sudah dialokasikan dalam anggaran tidak lagi sesuai dengan harga saat ini,” papar Suwandi.

Dalam kesempatan ini, para pedagang komputer yang tergabung dalam DPD Apkomindo DKI Jakarta ini berharap, agar pemerintah bisa menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Karena kestabilan nilai tukar rupiah ini, dapat menjadi patokan bagi para pedagang untuk menentukan harga jual komuter yang menjadi dagangannya.

Mereka juga berharap, penyelenggaran pameran komputer terbesar di Indonesia dan Asia, Indocomtech 2015 yang akan diselenggarakan pada mulai tanggal 22 Oktober 2015 di Jakarta Convention Center (JCC), mampu mendongrak penjulan komputer dan sekaligus menutup anjloknya penjualan sejak awal tahun 2015. (Red)