BMKG Gelar Roving Seminar on Weather Forecaster Of GFCS

0
2611

Jakarta, KomIT – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Roving Seminar on Weather Forecaster Verification In Support Of Global Framework for Climate Service (GFCS). World Meteorological Organization (WMO) memilih BMKG karena Indonesia memiliki jumlah forecaster atau prakirawan yang cukup banyak.

Seminar ini dihadiri Barbara Brown (USA), Marion Mittermaier (UK), Laurie Wilson (Canada), Pertti Nurmi (Finland), dan diikuti para forecaster BMKG Pusat serta UPT daerah. “Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, dan dapat memberikan masukan kepada para pengamat BMKG sehingga dapat meningkatkan tingkat akurasi dan kualitas pengamatan,” kata Kepala BMKG, DR. Andi Eka Sakya, M.Eng, di sela Roving Seminar tersebut, di kantor BMKG, baru-baru ini.

Andi menegaskan, seminar yang pertama kali diadakan di Asia ini begitu penting bagi Indonesia, khususnya BMKG. Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, Indonesia sedang memasuki musim transisi musim kemarau ke musim penghujan. “Bencana alam sering terjadi dan mengalami peningkatan. Sekitar 80 persen kejadian bencana alam disebabkan oleh hidrologi, meteorologi, dan iklim. Kejadian tersebut telah menewaskan korban jiwa sekitar 45 persen dan 79 persen orang kehilangan harta benda,” tuturnya.

Dalam kondisi musim transisi ini, BMKG merasa perlu mengkaji dan mengevaluasi metode perkiraan. Apakah sistem peringatan dini meteorologi, klimatologi (InaMCEWS/Meteorological and Climatological Early Warning Centre) yang dibangun BMKG bagus, teliti, akurat atau tidak.

Menurut Andi, pengkajian dan evaluasi begitu penting mengingat Indonesia berbeda dengan negara lain. Indonesia memiliki banyak pulau dan berada di garis khatulistiwa yang membuat interaksi atmosfir dan iklim cukup kompleks. “Sistem ini memang diharapkan dapat meningkatkan layanan informasi cuaca dan iklim secara cepat, tepat akurat, serta mudah dipahami oleh stakeholders,” kata Andi.

Kedua, jika roving seminar ini dilakukan di negara lain, BMKG hanya bisa mengutus beberapa orang saja. Karena roving seminar ini dilakukan di Indonesia, maka banyak informasi yang bisa didapat oleh prakirawan atau foreceaster. “Dalam seminar ini juga dilengkapi video streaming sehingga bisa diikuti oleh BMKG dan seluruh dunia, bahkan seminar ini menjadi percontohan,” tambah Andi. Ketiga, seminar ini menjadi kesempatan yang sangat bagus untuk pertukaran informasi sehingga dapat dihasilkan paradigma baru diseminasi peringatan dini yang berdasarkan impact dan resiko.

Kepala BMKG menyadari peralatan yang dimiliki BMKG belum cukup tetapi sudah membantu meningkatkan prakiraan MKG. Saat ini BMKG memang baru memiliki 35 radar pemantau cuaca di seluruh Indonesia.Karena juga dibantu oleh teknologi satelit cuaca dari Jepang, NASA, Korea, dan Cina, Indonesia kini memiliki 179 stasiun cuaca dan lebih dari 5000 pengukur curah hujan. Semakin rapat semakin bagus, katanya.“Mengenai ketelitian memang tidak sampai 100%, ketelitiannya sekitar 755-80%. Tidak mudah untuk meningkatkan sampai 100%, di dunia pun begitu. Ketelitian 75% saja sudah cukup bagus,” kata Andi.

Nanette Lomarda, WMO representative, menambahkan, berbagai hasil riset tentang cuaca juga perlu diverifikasi apakah betul sesuai yang diharapkan sehingga benar-benar dapat diketahui tingkat akurasinya. “Indonesia kenapa menjadi pilihan, karena BMKG memiliki prakirawan cuaca yang cukup banyak karenanya verifikasi menjadi sangat penting sehingga layanan juga menjadi lebih baik,” katanya.
Melalui roving seminar ini, jadi tidak mengejutkan jika nanti para prakirawan menjadi pengajar pada rolling seminar berikutnya, termasuk menjadi tutor pada workshop di Jerman pada 2017. (red)