GDILAB: Analytics Sosial Media Informasi Insight Berdayakan UKM

0
1071

Jakarta, KomIT – GDILab startup dibidang Social Media Analytics meluncurkan produk GDI Analytics pada hari Jumat(18/3) di FX Sudirman yang memiliki Dashboard yang terintegrasi untuk menganalisa Twitter – Facebook dan Instagram sekaligus, dimana sebelumnya harus disediakan oleh dua produk dan dashboard yaitu Irish untuk analytics Instagram dan Polaris untuk analytics Facebook dan Twitter seperti yang di jelaskan oleh Cofounder GDILab Billy Boen bersama Yopie Suryadi, Jefri Dinomo dan Masas Dani sejak berdiri Desember 2013.

Peluncuran dilakukan bersamaan dengan kolaborasi dengan produk Sound and Video analytics Digital Associates Co.Ltd, Thailand. Menurut Billy Boen kolaborasi strategic ini dimanfaatkan agar GDILab dapat memasuki pasar Thailand dan Asean dalam rangka MEA, dan produk Sound Analytics dari Digital Associates dapat menjadi komplemen produk GDI Analytics ditanah air.

Produk Sosial Media Analytics ini telah mendisrupsi perusahaan konsultan survey demografi melalui sample telpun atau fax atau tatap muka dimana harga sebuah sample menjadi sangat mahal dan jumlah populasinya pun tidak akan banyak karena membutuhkan waktu yang lama. Dengan social media pengumpulan sentiment dan survey dapat dilakukan instant melalui Facebook yang populasinya di Indonesia sudah lebih dari 60 juta pengguna.

GDI merupakan analytics toos yang dibuat dengan model Software as a Service (SaaS) jadi dapat dijalankan melalui Cloud Based dari PC atau gadget dari pimpinan sebuah UKM. Dulunya software Analytics Big Data memanfaatkan data dari Sosial Media ini dikenal dengan Data Warehousing atau Data Mining dimana sumber data masih banyak structured data, namun saat ini jumlah unstructured data sudah mencapai lebih dari 80% karena disrupsi social media dan Internet dan majoritas data 90% dikumpulkan pada dua tahun terakhir ini. Sebagai media social dengan banyak pengguna, Facebook menjadi wadah berinteraksi dengan Fan Page sebuah brand atau produk. Sedangkan Twitter menjadi wadah bagi masyarakat untuk membicarakan suatu topic yang berkaitan dengan sebuah brand atau produk, serta meng-update pemakai dengan berita berita terkini.

Sedangkan Instagram dimanfaatkan untuk berkampanye melalui hashtag tertentu dan bisa di response oleh followers dengan mudah. Kini keberadaan unstructured data pada ketiga media social tersebut semakin dimanfaatkan dengan kehadiran GDIAnalytics yang dikembangkan oleh mesin analytic smart seperti Genesis Technology. Beberapa perusahaan seperti Blue Bird, Gold’s Gym, Prudential, Seven Eleven, Telkomsel dan lainnya hingga program televise Kick Andy memanfaatkan GDI Anaytics untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, mengembangkan produk, atau mengukur efektifitas influencer serta menganalisa competitor anda.

Target segmen pasar adalah UKM mengingat ada 600,000- 700,000 UKM di tanah air yang memiliki daya beli serta daya saing kelas nasional dan regional sehingga mampu dan membutuhkan digital marketing insight dari program Analytics untuk memberdayakan dan meningkatkan daya saing bisnis UKM bekerjasama dengan Kementrian Koperasi dan UKM. Untuk itu menurut Billy harganya pun dibuat sangat kompetitif seharga Rp 500.000 perbulan untuk analytics bagi sebuah UKM dimana produk global sejenis minimal mempunyai tariff $ 99/ bulan atau Rp 1.3 juta membuat produk GDI Analytics ini memiliki keunggulan kompetitif bagi untuk pasar domestic maupun pasar regional Asean. Proses pembayaran pun dipermudah bagi UKM melalui Paypall, Doku yang bekerjasama dengan Alfamart, sehingga pembayaran dapat dilakukan bulanan melalui Alfamart (rrusdiah@yahoo.com).

Acara launching menjadi semarak dengan kehadiran Gunawan Susanto CEO IBM mengngat GDILab adalah salah satu startup yang dibina oleh IBM sehingga menjadi besar, sehingga IBM merupakan partner dari GDILab sejak berdiri. Juga hadir Roy Simangunsong, Country Head Twitter Indonesia mengingat Twitter menjadi salah satu partner strategic dan juga unstructured data strategic yang sangat penting bagi software analytics di dunia. Menurut Roy kepada Rudi Rusdiah Editor Komite.id terdapat 4.1 miliar Twitter per tahun dari Indonesia bayangkan jika pada satu Twit maksimum dapat berisi 140 characters. Roy menambahkan bahwa dari sebuah twit dapat dianalisa 200 atribute bayangkan. Dibulan Ramadhan ada 4 miliar Twit dan 20% dari Indonesia, itulah sebabnya Jakarta, Indonesia adalah ibukota Twitter Global. (rrusdiah@yahoo.com)