BBM & WhatsApp, Chat Platform Favorit di Indonesia

0
1114

Jakarta, KomIT – Indonesia Digital Association (IDA) didukung Baidu Indonesia telah merilis hasil risetnya terkait Studi Konsumsi Media Online, yang hasilnya dapat dijadikan pegangan pengiklan agar produk yang ditawarkannya tepat sasaran. Riset dikategorikan dalam 3 bagian, yaitu device behaviour, media behaviour (TV, radio, print, majalah) dan other data set (purchase data, demographic, lifestyle data) .

Riset yang dilaksanakan di beberapa wilayah yaitu Jakarta, Bodetabek, Bandung, Semarang dan Surabaya dilakukan pada Oktober-November 2015 dengan 1.521 panelis yang ditanam melalui perangkat mereka dan 775 responden diwawancarai secara langsung. Hasilnya, 96% masyarakat mengonsumsi berita melalui ponsel, televisi (91%), surat kabar (31%) dan radio (15%).

Sementara mengenai kontennya, masyarakat lebih menggemari hiburan (73%), isu sosial (70%) dan politik (49%), olah raga (48%). Ketua IDA Edi Taslim, mengatakan kemajuan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi dan hal ini dapat dijadikan peluang untuk menyuguhkan konten yang tepat. “Kami berharap studi dapat membantu pertumbuhan industri digital di Indonesia,” ujar Edi Taslim. Serupa dengan yang disampaikan IDA, melalui penelitian ini, Baidu juga berharap membantu para pelaku industri digital, khususnya di Indonesia, untuk lebih memahami konsumsi pengguna media online. “Kami berharap riset ini menjadi salah satu acuan bagi pemain digital di Indonesia dan mempelajari kebiasaan netizen di Indonesia,” ungkap Country Director Baidu Bao Jianlei.

Media Director Consumer Choices GFK Indonesia Robin Muliady menjelaskan, ‎pembaca berita online cenderung didominasi oleh kelompok usia 33-42 tahun dan sedikit lebih banyak pria dibanding wanita. Dari segi status sosial ekonomi, ternyata lebih banyak SES A dan B, dimana kebanyakan dari mereka sebesar 60% mengkonsumsi berita secara ruti setiap minggu, bahkan ada 24% yang membaca berita online setiap hari.
Sedangkan waktu yang menjadi pilihan favorit konsumsi juga bervariasi. Misalnya pada Senin sampai Jumat, terjadi puncak konsumsi pada pukul 12-15.00 karena bertepatan dengan jam istirahat makan siang. Sementara itu pada Sabtu paling tinggi pada pukul 12-18.00 dan Minggu menjadi kian panjang lagi atau cenderung merata dari pukul 12-21.00.

GfK juga mencatat durasi pemakaian smartphone setiap harinya rata-rata sebanyak 5,5 jam, dan sebanyak 44 kali aplikasi dibuka oleh pengguna setiap harinya. Untuk platform chat messaging BBM dan WhatsApp masih mendominasi dan merupakan chat platform favorit di Indonesia. Sementara untuk media sosial, Facebook mengalami jumlah penurunan dan kenaikan yang kerap berubah sementara Instagram terus merangkak naik, mulai dari jumlah pengguna hingga engagement.

Untuk platform mobile, Android di Indonesia masih mendominasi dengan besar persentase 96%. Untuk aplikasi yang paling banyak diunduh oleh pengguna dalam smartphone adalah games/permainan, disusul dengan chat/messaging dan tentunya media sosial. Clash of Titans merupakan games paling banyak diunduh, Snapchat merupakan layanan pesan foto yang paling digemari, OLX menjadi aplikasi terkait e-commerce yang paling populer, dan GO-JEK merupakan aplikasi transportasi yang paling banyak diunduh oleh pengguna Android di Indonesia.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengatakan, industri kreatif di Indonesia terus berkembang, terlebih pada sektor teknologi dan konten online. “Konten yang disajikan terus berkembang pesat, sehingga kita perlu perbanyak riset seperti ini untuk bisa melihat pergerakan dunia media yang begitu progresif,” ujar Triawan.

Triawan pun mengajak para kreator untuk terus berkreasi dan pintar dalam memanfaatkan teknologi, sebab hal ini sejalan dengan rencana pemerintah menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru ekonomi digital di Asia. “Karena kita ketahui bahwa lanskep media sangat dinamis, berubah cepat, gadget juga terus mengalami perubahan dari yang biasa sampai yang paling cangih, kalau dulu TV dan media cetak, kini jenis media berevolusi jadi lebih baik yaitu media online,” tuturnya. 9red)