Dian Siswarini : Strategi Cari Sweet Spot & Efesiensi

0
1003

Jakarta, KomIT – Sosok Dian Siswarini sudah tidak asing lagi dikalangan industry telekomunikasi selular, khususnya di komunitas ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Dian menjadi nahkoda XL Axiata dalam kapasitasnya sebagai CEO/Presiden Direktur pada era transisi dan disrupsi data dan mobile computing, dimana strategi manajemen yang harus dikawal oleh Dian menjadi sangat stategis dan krusial, seiring ketat dan makin kompetitifnya persaingan di industry Telekomunikasi Selular,” demikian pandangan tim redaksi Komite.ID dari hasil wawancara dengan Dian Siswarini CEO XL Axiata Tbk, dikantor CEO di kawasan Mega Kuningan Jumat (15/4) silam.

Sehingga ‘Only the Fittest with Competitive advantage could survive, saat industri berada di persimpangan jalan dari voice/SMS menuju data, the new norm,’ kata beberapa ekonom membaca trend ekonomi Indonesia kedepan akibat disrupsi teknologi dan beberapa pemain inti melakukan strategi merger, akuisisi, sharing infrastruktur menjadi industri yang lebih efesien dan kompetitif serta memiliki daya saing yang kuat menghadapi disrupsi teknologi, globalisasi serta AEC.

‘Lifestyle dan user experience Generasi Y dan Millenia serta kelas menengah mengubah industri yang sebelumnya mengandalkan revenue dan yield dari Voice dan SMS menjadi Data, dalam bentuk Messaging Aplikasi seperti Whattsapp messaging atau Voice seperti Skype dan Whattsapp Voice’ ujar Dian. Ditambahkan ‘Siapa lagi yang masih pakai SMS, kadang di buat gratis pun susah, sehingga bentuk pasarnya mengalami ‘scicor effect atau efek gunting’ trafik ‘Data naik, trafik voice/SMS turun’.‘Ini Big Challenge yang harus dihadapi oleh XL Axiata kedepan’, tambah Dian.

Serta bagaimana mengantisipasi disrupsi data yang meningkat tajam disertasi penurunan bisnis voice dan SMS, padahal gross (profit) margin di era 2G dan 3G dahulu untuk voice mencapai 50% dan SMS 70% sangat tinggi dibandingkan dengan margin pada era 4G/LTE untuk Data, sehingga strategi baru seperti meningkatkan efisiensi operasi dan strategi meningkatkan revenue yields dan margin harus segera dijalankan memasuki era ‘the new norm’ ekonomi dan persimpangan jalan data dan SMS ini. Data yang dikompilasi oleh Komite.ID dari Worldbank di edisi ini menunjukkan bahwa tarif selular di Indonesia sangat kompetitif bahkan cenderung lebih murah dibanding dengan AS dan Eropa, bahkan yield dari operator di Singapura dan Malaysia lebih tinggi (Red: Lihat artikel tariff interkoneksi).

Dijelaskan, strategi untuk mengurangi investasi dengan restrukturisasi asset serta melakukan infrastruktur sharing dengan sesame operator seluler anggota ATSI misalnya dalam hal infrastruktur sharing serta mendorong Menteri Kominfo untuk dapat segera menetapkan regulasi Infrastruktur Sharing yang semestinya sudah diberlakukan 2016. Infrastruktur sharing model RAN sudah dilakukan agar dapat menghemat hingga 20-30% efisiensi dan diharapkan kedepan dapat meningkat ke infrastruktur model Network Sharing MOCN yang dapat menghemat lebih dari 50% karena Network merupakan komponen terbesar pada operator Telco disusul oleh biaya marketing.

Sayang dari bincang bincang dengan ATSI memang banyak anggota yang mulai merasakan kebutuhan dari kebijakan infrastruktur sharing ini untuk meningkatkan daya saing, coverage dan kualitas jaringan sehingga mendorong agar regulator cepat mengeluarkan kebijakannya, meskipun tentu masih ada incumbent dan major players yang merasa penghematan melalui infrastruktur sharing tidak urgent dan mendesak.

Menurut Dian, ‘Strategi positioning harga mencari ‘sweet-spot’ menjadi sangat strategis karena ini menentukan peningkatan pangsa pasar ‘data’ dari XL Axiata trade off antara peningkatan revenue yang juga berdampak pada penurunan yield dan margin, scissor effect, sehingga harus dicari ‘sweet-spot’ yang terbaik selain meningkatkan pangsa pasar juga profit margin XL AXIATA’.

Sedangkan strategi yang lain untuk meningkatkan pasar data adalah sebelumnya bekerjasama dengan operator Korea mempopulerkan Kakaotalk tapi hasilnya kurang berkenan dibandingkan dengan masifnya penetrasi Whattsapps dan Line di Indonesia, dilanjutkan dengan kolaborasi dengan Video apps ‘Tribe’ yang fleksibel untuk mendorong perfilman nasional karena ini juga merupakan produk anak Bangsa Indonesia. Kedepan kolaborasi semacam ini akan dilanjutkan dengan ‘genre music dan aplikasi music seperti Indosat juga bekerjasama dengan Spotify.

XL juga mendorong penurunan tarif interkoneksi agar mengurangi tariff ‘Off Net’ antar operator, karenamenurut studi dari Komite.id perbadingan rasio yang terlalu tinggi antara ‘On Net’ dan ‘Offnet’ dibandingkan dengan tariff Voice Call via Whattsapps dan Social Media messaging yang lain, hanya mendorong penetrasi dari OTT Global ini dan meggerus bandwidth operator tanpa menghasilkan tambahan yield (Lihat artikel laporan utama Interkoneksi).

XL Axiata juga aktif mendorong OTT Nasional seperti Catfish, Sebangsa dan Qlue bersama Telkomsel, Indosat, Smart dan anggota ATSI lainnya agar meningkatkan kemandirian industri aplikasi Internet dalam negeri ditengah gencarnya pemain dominan OTT Global. Dian menyadaribahwa yangdihadapioleh OTT Nasional ini adalah raksasa pemain OTT Global, sehingga upaya kolaborasi dan dukungan operator sangat dibutuhkan mengingat total jumlah mobile phone unik di Indonesia sudah lebih dari 167 juta dari 305 SIM Ponsel yang beredar di tanah air. Skala ekonomi (Economic of Scale) sangat dibutuhkan dan harus di fasilitasi oleh ATSI melalui anggotanya agar pemain nasional ini bisa bersaing setara (equal playing field) dengan OTT Global.

Sebagai anggota ATSI untuk membantu program Pemerintah meningkatkan penetrasi broadband di Rural Area Indonesia bagian Timur dan salah satu program USO (Universal Service Obligation), PT XL Axiata Tbk juga berkolaborasi dengan PT Indosat Ooredoo Tbk bersama PT Alita Praya Mita menggarap proyek Palapa Ring II bagian Timur. Bahkan ketika Presiden Jokowi mengunjungi Amerika, Dian bersama Alexander Rusli (CEO Indosat Ooredoo), Ririek Adriansyah (CEO Telkomsel) dan Rudiantara (Menteri Kominfo) bertemu dengan VP Project Loon Google Mike Cassidy di kantor Google X Mountain View, California bersama sama menandatangani kerjasama akses Internet melalui Proyek balon Loon Google di daerah terpencil selah Timur Indonesia. Untuk kelanjutan dari Google Loon, dapat dibaca di artikel Digitalisasi Rural yang meliput isu Rural Akses dan Telekomunikasi secara lebih detail. (rrusdiah@yahoo.com)