Reposisi PT. POS Indonesia di Era Digital

0
2844

Jakarta, KomIT – Kian berkembangnya bisnis perdagangan elektronik (e-commerce) di Indonesia membuat PT Pos Indonesia (Posindo) sebagai perusahaan pos tertua di Indonesia diharapkan dapat mengambil ceruk keuntungan dari bisnis tersebut dengan aktif mereposisi dirinya dalam ekosistem bisnis e-commerce. Apalagi salah satu isu di e-commerce adalah soal logistik yang menjadi salah satu kekuatan Posindo.

Posindo dengan puluhan ribu outlet yang tersebar di dalam negeri dan luar negeri seharusnya bisa menjadi nomor satu di Indonesia dalam bisnis logistik e-commerce. Jangan sampai akhirnya PT Pos tinggal sejarah saja dan dikenang sebagai tukang antar surat.

PT Posindo dalam arsitektur katakanlah dalam 10 tahun kedepan akan tetap fokus pada lima core business, bisnis surat dan paket menjadi inti bisnis sebagai legacy perseroan. Bisnis paket bisa digabung dengan dengan logistik untuk menangkap e-commerce sebagai potensi besar dan pertumbuhanya luar biasa. Bisnis logistik ini harus menjadi backbone bagi sistem logistik nasional, karena secara by design PT Posindo sudah memiliki jaringan distribusi di 4.500 titik di seluruh indonesia (Bisnis Indonesia).

Logistik bagi e-commerce memegang peranan penting mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Tak heran, perusahaan e-commerce asing membuka bisnis logistik untuk menunjang bisnisnya di Indonesia. Sementara, Posindo memiliki kekuatan dengan kantor cabangnya hingga ke pelosok. Maka jika Posindo dapat membangun ekosistemnya akan menjadi kekuatan yang dahsyat.

PT Pos Indonesia yang fokus pada logistik juga dapat menggarap ekosistem e-commerce lainnya. Tercatat, di Indonesia ada 160 juta pelanggan selular, 100 juta pengguna internet, 76 juta pengguna Facebook, 43 juta pengguna Twitter. Namun baru 60 juta nomor rekening bank dan 12 juta pemilik kartu kredit. Di sisi lain, perkembangan e-commerce terus bertumbuh kian pesatnya. Transaksi e-commerce tahun lalu yang baru US$ 12 miliar, ditargetkan dengan penerapan roadmap eCommerce bisa tembus US$ 130 miliar atau US$ 1.800 triliun.

Melihat potensi itu, dari sisi kebijakan, maka tugas Direksi yang baru harus mendorong Pos Indonesia sebagai bagian dari ekosistem e-commerce. Apalagi saat ini Pos Indonesia, masih tertinggal jauh baik dari sisi kelengkapan layanan dibandingkan pesaingnya. Ibaratnya, PT Pos Indonesia merupakan perusahaan berskala dan berpotensi besar namun sedang dalam keadaan tidur.

Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi Wahju Setijono pun ingin menciptakan kesadaran di lingkungan perseroan bahwa zaman sudah berubah. Sehingga, berbagai pembenahan dan perubahan perlu dilakukan antara lain konteks bisnis, lansekap persaingan, dan teknologi.

Di samping itu, Pos Indonesia tidak bisa menunggu konsumen, namun perlu untuk “menjemput bola” agar tetap dapat eksis. Gilarsi ingin melakukan transformasi bisnis pos tradisional menjadi pos dan logistik yang lebih maju, seperti misalnya pada DHL, FedEx, dan UPS. Juga dengan mencontoh bisnis pos tradisional seperti di Jepang dan Jerman.

Dia optimistis bahwa Pos Indonesia dapat dibangun dan dikembangkan kembali. “Saya merasa bangga bahwa di Pos Indonesia banyak orang baik. Ini modal besar bukan hanya aset fisik, tapi juga aset sumber daya manusia,” imbuhnya. Untuk pengembangan teknologi informasi (IT), yang memperkuat bisnis PT Posindo maka diperlukan pengembangan bersama BUMN dalam hal ini PT Telekomunikasi Indonesia atau sinergi BUMN. Sebagai contoh PT KAI yang mengembangkan IT untuk ticketing dengan sinergi bersama PT Telkom.(*)