Pakar Industri Berbagi Strategi Mengelolah Disrupsi Ekonomi Digital (Bag. 2)

0
693

Lanjutan artikel sebelumnya:

Pada era 1980 an awalnya Intel hanya sebuah perusahaan startup memory mendisrupsi dunia Mainframe dan Mini Komputer yang dikuasai oleh raksasa IBM, Digital, HP, Honeywell, Wang dll dengan membuat prosesor, sehingga Mainframe harus migrasi ke backoffice ketika PC berada disemua lini kehidupan di meja kantor, sekolah dll bersama Microsoft (Windows) dikenal dengan Wintel. Almarhum Founder Intel Andy Grove menulis buku “Only the Paranoid Survive” artinya anda harus gila dan paranoid, jika ingin menang dalam persaingan, kalau sekarang mungkin menjadi aktor disrupsi.

Awal Internet, 1990 an, akses Internet dan aplikasi Office hanya dengan PC dan Notebook. Namun ketika Wintel menjadi raksasa incumbent dan PC menguasai pasar dunia dimana lebih dari 1 miliar penduduk dunia memiliki PC, lahirlah produk disrupsi baru yaitu Smartphone. Sehingga akhir-akhir ini majoritas akses Internet menggunakan Smartphone dan PC pun mulai terdisrupsi ke backoffice, sedangkan yang selalu dibawa adalah Smartphone, yang memiliki hampir semua kemampuan PC, artinya Wintel sebagai incumbent pun terdisrupsi.

Pada diskusi ini, panelist ke empat, Harry Nugraha menjelaskan strategi bagaimana Intel melakukan strategi comeback dan survive pada era digital ekonomi disrupsi ini dan merebut kembali peranan disruptor pada era Internet of Thing (IoT) yang akan datang. Memang siapa yang terlena walaupun singkat akan terdisrupsi oleh disruptor yang lebih mengenal pasar dan dekat customer anda serta dapat memanfaatkan teknologi disrupter dengan efektif untuk menguasai pasar. Di CommunicAsia Singapura, panelis dari Dell mengatakan “If you doze off… you might be disrupted and gone.”

Big Data juga menjadi unsur disrupsi memasuki era Teknologi Data, ujar Jack Ma dari Alibaba di Cebit dan perusahaan panelist kelima seperti Teradata membantu pelanggan mendapatkan value dan insight dari data baik yang ‘on premise’ dari sebuah perusahaan, maupun data dalam bentuk unstructured di sosial media atau public clouds. Banyak perusahaan seperti Telco, Perbankan, Ecommerce yang mulai memanfaatkan data base profile client nya untuk lebih mendekatkan perusahaan kepada clientnya serta meningkatkan pelayanan kepada client nya, ujar Fajar Muharandy, Chief Consultant Architect, bersama Erwin Achir, Countri Manager, Teradata Indonesia. Di Indonesia Dirjen Pajak juga memanfaatkan Big Data dari Teradata untuk melakukan data analytics wajib pajak, SPT dan juga unstructured data yang berada di instansi lain seperti perbankan, sosial media dst.

Ditengah disrupsi digital ekonomi dan kondisi ekonomi nasional dan pasar Global yang kurang bergairah, maka banyak Venture Capital(VC) mulai memalingkan perhatiannya pada model UniCroach yang lebih prudent ketimbang Unicorn yang sangat megah dan membutuhkan gelontoran dana CAPEX dan OPEX yang sangat besar, ujar panelist keenam Sebastian Togelang, Founding partner dari Kejora Group, sebuah perusahaan Venture Capital joint venture dengan Mountain Partners Group di Swiss dan Ideabox bersama Indosat Oorredo.

Rudiantara, Menkominfo dalam roadmap Ecommerce kedepan akan mengembangkan 200 Technopreneur dan beberapa Unicorn setiap tahunnya, melihat perkembangan besarnya dana model Unicorn yang digelontorkan pada perusahaan seperti Gojek ($200 juta); MatahariMall ($500 juta); Grab ($600juta +) dst. Kejora lebih memilih model UniCroach artinya tidak jor joran dalam besarnya modal yang digelontorkan, namun lebih fokus pada bagaimana mengembalikan modal investasi dan prudent ditengah hype ecomerce dan iklim ekonomi Global yang tidak menentu. Menteri Tom Lembong juga menyarankan VC lebih konservatif dan hati hati dengan kondisi ekonomi 2016 ini dibandingkan dengan Rudiantara yang lebih optimis.

Moderator diskusi panel, Rudi Rusdiah, Editor Komite.ID tidak memberikan kesimpulan mengingat para panelist diatas adalah tokoh dan pakar ahli dibidangnya masing masing, namun memaparkan oleh oleh breaking news dari Summit di CommunicAsia Singapura, termasuk ramalan futurist Gerd Leonhard dari Swiss sebagai berikut: Disrupsi adalah nyata (real) dan disrupsi lebih pada framework (bingkainya) daripada objeknya atau gambarnya, jika sebuah lukisan. Disrupsi akan semakin kencang dan eksponensial pada beberapa industri terutama memasuki tahap Artifisial Intelijen, hubungan antara Manusia dan Mesin. Banyak yang masih optimis 5 tahun mendatang, namun sayangnya Teknologi tidak memiliki etika, ujar futurist Gerd Leonhard. Artinya Manusialah yang tetap harus mengontrol dan menguasai Teknologi Disrupsi kedepan. Tulisan lebih detail dapat dibaca pada artikel CommunicAsia series khusus di Komite.ID (rrusdiah@yahoo.com).