IDC : Potensi Bisnis IoT di Asia Tenggara Besar

0
315

Jakarta, KomiT – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara meyakini bahwa potensi bisnis IoT di kawasan Asia Pasifik, termasuk Asia Tenggara, sangat besar. Bahkan data IDC menyebutkan bahwa IoT di Asia Pasifik (tidak termasuk Jepang) diproyeksikan akan bertambah dari 3,1 miliar perangkat menjadi 8,6 miliar perangkat. Hal tersebut akan diiringi dengan pertumbuhan pasar dari US$ 250 miliar menjadi US$ 583 miliar pada periode 2015 -2020.

Khusus Indonesia yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 235 juta jiwa dan 297 juta jiwa pelanggan seluler, fakta ini menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar ke-4 di dunia. Ini belum termasuk perkembangan industri di Indonesia, di mana pada tahun 2030, sektor otomotif diperkirakan akan mencapai 46 juta kendaraan. Sementara itu, di sektor layanan umum, akan tersedia 83 juta rumah untuk 300 juta penduduk. Di sisi lain, di sektor keuangan, ada 4,8 juta UKM yang akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Dengan kondisi seperti itu, Indonesia diharapkan akan menjadi pemeran utama dalam pertumbuhan IoT terbesar di Asia Tenggara. Indonesia menawarkan peluang yang luar biasa dalam hal skala dan penggunaan solusi IoT/M2M, serta memanfaatkan teknologi melalui perusahaan-perusahaan besar dan pengambilan kebijakan, dan memimpin transformasi di seluruh wilayah ASEAN,” ungkap Menteri Rudiantara di sela Konferensi Asia IoT Business Platform ke-9, IoT Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Asia IoT Business Platform 2016 merupakan suatu perhelatan konferensi dan pameran tertutup, dan suatu platform bagi para pengambil keputusan, baik dari pihak penyedia layanan maupun perusahaan, untuk bertemu dan bertukar pikiran dalam rangka mendorong dan membangun solusi-solusi teknologi cerdas demi mengatasi tantangan bisnis dan masalah-masalah sosial.

Pertemuan ini diharapkan memberi dampak nyata bagi produktivitas dan pertumbuhan teknologi di ASEAN. Hal ini termasuk peningkatan produktivitas perusahaan-perusahaan swasta dan publik, serta pemanfaatan TIK dan jaringan untuk mengatasi permasalahan di kota-kota besar. Oleh karena itu, pertemuan strategis ini akan berfokus pada perusahaan telekomunikasi lokal, lembaga pemerintahan, pelaku usaha, serta para pengguna akhir. Konferensi tahun ini akan fokus membahas tentang pertumbuhan ekosistem IoT di Indonesia. Sesi-sesi yang akan dibahas meliputi: IoT Industri; Pemerintahan dan Kesehatan; Otomotif, Transportasi dan Logistik; Smart City; serta Retil, Perbankan dan Keuangan.

Dengan tingkat penetrasi mobile sebesar 120% di Indonesia, Indosat Ooredoo meyakini bahwa CSP (communication service provider) adalah mitra terpercaya untuk membantu adopsi IoT. Indosat Ooredoo ingin memimpin pengembangan IoT melalui portofolio solusi dan layanan yang komprehensif mulai dari konektivitas, infrastruktur, layanan cloud, analisa data sebagai solusi dan layanan IoT; mempromosikan inovasi sederhana dan lingkungan terbuka bagi para pengembang lokal untuk membangun layanan IoT inovatif; dan Big Data.

“Kami telah banyak melakukan pendidikan pasar dalam 2 tahun terakhir dan tahun ini kami akan terus mempercepat pertumbuhan di sektor perbankan, transportasi dan keamanan, ditambah mengembangkan pasar baru di bidang eHealth, asuransi berbasis pengguna, aplikasi bisnis, IoT industri, minyak dan gas, serta Smart Cities,” ujar Hendra Sumiarsa, Kepala Divisi M2M Indosat Ooredoo di Jakarta.

Kepala Divisi IoT XL Axiata juga menekankan bahwa solusi Telco memainkan peran yang sangat penting dalam dunia IOT. “Kita bisa menyediakan solusi untuk layanan IoT. Untuk pelanggan, tidak ada kerumitan bagi mereka saat menggunakan solusi IoT karena perusahaan telekomunikasi sebagai penyedia solusi untuk IoT telah menyediakan segala sesuatu mulai dari konektivitas, aplikasi dan perangkat, serta semua sensor yang menyediakan layanan secara total,” tambah Arifa. (red)