Dirjen Inovasi Kementerian Ristek Dikti Beri Kuliah Umum di Kampus Unikal

0
758

20160901_1108141paralon-1Pekalongan, KomIT – Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Ristek dan Dikti, Jumain Appe memberikan kuliah umum dihadapan ratusan mahasiswa Universitas Pekalongan (Unikal), Kamis (1/8). Berbarengan acara tersebut, diresmikan pula Pusat Inovasi Teknologi (PIT) Universitas Pekalongan dan launching Mata Kuliah Technopreneurship.

Kuliah umum yang bertema ‘Inovasi sebagai langkah hilirisasi hasil hasil riset perguruan tinggi (PT) ‘ diikuti oleh ratusan mahasiswa tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa agar tidak berorientasi mencari pekerjaan namun berorientasi menciptakan lapangan pekerjaan untuk dirinya dan orang lain.

“Jiwa wirausaha harus ditanamkan pada generasi muda. Seharusnya masyarakat serta generasi muda mulai melihat technopreneur itu sebagai pilihan karir yang cerdas, apalagi mulai banyak perguruan tinggi telah memasukannya ke dalam program perkuliahan yang pengajarannya memberikan dasar wirausaha yang berbasis teknologi,” katanya. Pemantapan kurikulum berbasis kewirausahaan tentunya akan memberi nilai lebih bagi mahasiswa menyiapkan lulusan dalam menghadapi dunia kerja.

BPPT mendorong tecnoprenersip karena sebagian besar hanya 3 hingga 7 persen dari mahasiswa Indonesia yang siap untuk kembangkan wirausaha, sementara yang lainnya hanya jadi pegawai.“Kami berharap mahasiswa Unikal ini mulai berpikir dan punya cita-cita untuk menjadi wirausaha dan menciptakan pekerjaan. Oleh karena itu kami mendorong mata kuliah ini untuk menciptakan enterpreneur yang berbasis teknologi,” tambahnya.

Disisi lain, Rektor Unikal, Suryani menyampaikan fungsi PIT ini sendiri adalah menampung hasil karya dosen dan mahasiswa, sehingga dapat memberikan manfaat lebih untuk hasil karya yang diciptakan.” Mata kuliah technopreneurship tersebut diharapkan mampu memberikan pembelajaran dunia industri yang berbasis teknologi,” ungkapnya. Kebijakan pemerintah terkait moratorium seyogyanya mahasiswa harus merubah mindset nya bukan lagi mencari kerja namun membangun usaha sendiri. Unikal bediri sejak tahun 1982 jadi sudah 35 tahun, atas dasar UU Unikal telah memenuhi standar dan mulai tahun ini Unikal akan mengadopsi mata kuliah Technopreneurship untuk 7 program studi.

Sementara itu Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Dr. Eniya Listiani Dewi, mengatakan Unikal merupakan ke 13 perguruan tinggi yang akan membuka mata kuliah Technopreneurship yang bertujuan untuk melahirkan technopreneur-technopreneur muda yang dapat membuka peluang usaha baru, menciptakan kreativitas baru. “Budaya inovasi dikembangkan di Perguruan Tinggi, melalui implementasi kurikulum technopreneurship yang nantinya akan menghasilkan mahasiswa kreatif serta menghasilkan riset yang inovatif,” tegasnya.

Dengan pendidikan technopreneurship itu, lulusan Unikal memiliki kemampuan ‘lebih’ dibanding lulusan perguruan tinggi lainnya yakni bisa langsung menciptakan lapangan pekerjaan. Karena sekarang ini, banyak sarjana yang bercita-cita menjadi PNS, atau pekerja kantoran. “Kita harapkan inovasi yang dihasilkan Perguruan tinggi dapat mendukung kesejahteraan masyarakat. Karena itu lulusan PT harus memiliki tenaga yang terampil. Salah satunya adalah harus memiliki jiwa kewirausahaan. Karena itu, dengan adanya Pusat Inovasi Unikal bertujuan membimbing dan membina mahasiswa yang memiliki jiwa kewirausahaan untuk bisa memiliki ketrampilan dengan insentif dari Kemenristek Dikti,” papar Jumain.

Terakhir, Jumain menambahkan kenapa inovasi itu ada? Selama ini disinyalir terjadi gap antara dunia pendidikn, penelitian dan dunia usaha sehingga tidak banyak lulusan PT yang bekerja di industry tsersebut. Jadi, Pusat Inovasi ini untuk menjembatani apa yang dihasilkan PT supaya sampai ke dunia usaha. Ke depan, kita akan jadikan Pusat Inovasi ini ada di semua PT. “Tahun 2006 ada sekitar 150 calon perusahaan pemula berbasis teknologi yang tersebar di berbagai PT,” tutupnya.

Pameran Inovasi dan Kreativitas Kota Pekalongan

Kemenristek Dikti akan terus mendorong perkembangan potensi keandalan inovasi kreatif yang memiliki ketahanan yang kuat, apalagi ditengah kondisi turbulensi ekonomi global. Vitalnya peran pemerintah dalam menata ruang atmosfir kondusif bagi tumbuh kembangnya kreativitas dan budaya berinovasi di masyarakat.

“Tugas kami menfasiisiltasi para pelaku ekonomi kreatif masuk ke dalam ekosistem ekonomi digtal sehingga dapat menjangkau makin variatif dan dinamisnya kebutuhan pasar,” ujar Direktur Jenderal Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi Dr. Ir. Jumain Appe saat membuka Pameran Inovasi Dan Kreativitas Kota Pekalongan Tahun 2016 yang berlansung 1-4 September 2016 di GOR Jetayu Pekalongan, Kamis (1/8). Hadir dalam kegiatan tersebut, Walikota Pekalongan HA Alf Arslan Djunaid dan Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Dr. Eniya Listiani Dewi.

Pameran yang bertemakan “Inovasi Dan Industri Kreatif Untuk Kemandirian Daeah” ini diharapkan dapat mengembangkan ekonomi kreatif masyarakat sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah Pekalongan yang mandiri. Pameran kali ini diikuti lebih dari 100-an stan, terdiri dari kampus dan universitas yang ada di Pekalongan, LPM/BKM, kuliner, industri otomotif, telepon seluler, dan berbagai perwakilan daerah di Jawa Tengah lainnya yang juga ikut meramaikan dan menyemarakkan pameran tersebut.

Lebih lanjut Jumain mengatakan kini persaingan antar bangsa sudah bergeser dari era konvesional berbasis negara bangsa (nation state) ke era globalisasi berbasis negara wilayah (territory state). Posisi daya saing akan bergantung pada kemampuan bangsa ini untuk menguasai teknologi berbasis Iptek dan kreativitas dan inovasi. “Dengan anggaran yang kecil kita harus mencari akal melalui alternative pembiayaan untuk riset yang potensial dengan membangun kolaborasi di sector R&D sampai produksi komponen dimana quality control, final assembly serta pemasarannya difasilitasi oleh pemerintah sedangkan dukungan produksi diserahkan kepada industry kecil sebagai local supplier,” tegasnya.

Seperti diketahui, Pekalongan sudah lama dikenal sebagai Kota Batik. Hal ini membuat UNESCO memberi perhatian tersendiri pada Pekalongan dengan menetapkan kota ini sebagai salah satu jaringan kota kreatif. Pekalongan punya ciri batik yang sangat berbeda dengan kota lainnya. Batik Pekalongan merupakan salah satu jenis batik pesisir. Batik pesisir memiliki ciri khas yang sangat kuat dari segi warna cerahnya.Dengan masuk ke dalam jejaring Kota Kreatif Dunia, maka Kota Pekalongan bisa bertukar pengalaman dengan kota-kota lain di dunia yang meraih predikat yang sama. Serta, meningkatkan komitmen kerjasama internasional dengan sesama kota kreatif dunia untuk menunjang pembangunan berkelanjutan. (red/