Demo akbar Startup, Ecommerce & Investor Asian Terbesar

0
1119

bolnas-duaJakarta, KomIT – Tech in Asia (TIA), Jakarta konperensi dan demo akbar komunitas startup diselenggarakan kemarin selama dua hari (16 dan 17 November2016 ) berturut di Balai Kartini, yang kelima kalinya di Jakarta. TIA yang dihadiri oleh 5,500 pengunjung (2016) meningkat dari 3,885 (2015) memadati area pameran ditambah 6 panggung khusus dan unik yaitu Main Stage; Product Stage; Marketing Stage; Revenue Stage; Startup 101 dan Developer Stage.

Tidak ketinggalan pembicara kondang Ecommerce seperti Nadiem Makarim,CEO Gojek; Khailee Ng, CEO 500 Startups; William Tanuwijaya; CEO Tokopedia; Hadi Wenas CEO Matahari Mall; Simon Kahn, CMO, Google Asia Pacific; Wilix Halim COO, Bukalapak; Pieter Kemps,VP Sequoia Capital memberikan keynotes bersama 100+ pembicara dari dalam dan luar negeri dan 200+ investor yang hadir.

Jumlah startup yang hadirpun mencapai record sebanyak 241 startup diarea Bootstrap Alley, dari Indonesia (203); Singapore (11); India (5); Thailand (5); Malaysia (5); Filipina (5) dan dari Vietnam, Jepang, Jerman serta Taiwan. Startup ini dari beranekaragam sektor industri seperti Advertisement; Big Data; Ecommerce; Educations; Fintech;Gaming; Virtual Realities; Logistics; Media; Social; SaaS; Healthcare dll. Techin Asia sendiri digelar 3 kali di Jakarta; Singapura dan Tokyo dalam setahun dengan kantor pusat di Singapura. Mengunjungi TIA layaknya seperti mengunjungi pasar kaget startup, investor dan lautan manusia dari entrepreneur; C-level eksekutif; Investor; Government Representative; Developers; Media; Creatives; Marketing dan Mahasiswa serta Masyarakat.

CEO Mandiri Capital Eddi Danusaputra pada konferensi TechInAsia di Balai Kartini (16/11) meramalkan sebagai berikut: Pada tahun 2017, Mandiri akan lebih fokus pada startup disektor Fintech (Financial Technology), namun 2017 regulasi di Indonesia untuk sektor Fintech akan semakin ketat mengatur sertifikasi dan standar kompetensi dari startup, meliputi system pembayaran hingga minimum pendanaan.

Sebelumnya memang aturannya masih longgar, sehingga banyak startup tumbuh hingga ke P2P (Peer to Peer) dan Crowd funding Fintech companies dan kedepan startup di sektor Fintech harus semakin mature (matang) untuk melindungi investor; masyarakat dan konsumen. Kementrian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Kementrian Perdagangan; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) akan bersinerji untuk membuat peraturan di sektor FinTech maupun ecommerce. Membuat guideline untuk pinjaman P2P; bagaimana agar compliant dengan UU yang ada; dan relasi dengan regulator, namun yang terpenting adalah agar tidak menghambat pembangunan.

Terkait masalah keamanan, Andi Budiman Managing Partner, IdeoSource menekankan bahwa industry Fintech harus memberi prioritas pada pertama aspek Finansial, baru Teknologi menyusul nomor dua, agar terhindar dari malapetaka Skema Ponzi yang melarikan dana masyarakat dan investor. Menurut Andi, sudah banyak pemain besar seperti Matahari; BliBli; TokoPedia; Lazada dll., yang mengelontorkan dananya di Marketplace, sehingga investasi seperti ini lebih cocok untuk pemain besar dengan modal besar.

Sedangkan startup yang lain diharapkan dapat fokus pada niche market dan ROI (Return on Investment). Teknologi seperti IOT (Internet of Thing) kedepan akan menjadi menarik, apalagi startup yang dapat memanfaatkan Big Data Analytics untuk meningkatkan level keunggulan kompetitif dari startup masa depan, memasuki era Data Driven Company. Baik Eddy maupun Andi masih optimis dengan kondisi pasar dalam negeri RI kedepan melihat fundamental ekonomi dan indikator seperti Pertumbuhan GDP; Pertumbuhan Konsumen; Pertumbuhan Daya beli serta Sektor Menengah dan Dividen Demografi.

Startup disektor Logistik, Transportation, ecommerce, travel dan jaringan sosial masih akan berkembang pesat dan dilirik investor. Pasar Indonesia masih sangat besar dan kedepan akan lebih banyak pemain asing besar yang akan datang seperti Alibaba, Amazon dll, meski demikian peran investor lokal dan startup lokal masih sangat tinggi untuk mengembangkan aneka jenis startup.

Salah satu investor yang sudah datang dan menyatakan minat adalah Gan Kapital yang mengunjungi Presiden Jokowi di Istana bersama Plug and Play Tech Center, sebagai balasan ketika Presiden Jokowi berkunjung ke kantor Plug and Play di Silicon Valley, California, AS. Pasar AS yang sudah matang satu dekade yang lalu dan Pasar Tiongkok lima tahun yang lalu akan menjadi batu Kristal (,alat ramal), yang dapat meramalkan pertumbuhan pesat ecommerce di Indonesia dan tentu menjadi fokus Plug and Play kedepan, ujar Saeed Amidi, CEO Plug and Play (rrusdiah@yahoo.com)