Outlook Ritel 2017: Anomali Data Ritel Online dari berbagai sektor

0
4251

img_20161130_154621Jakarta, KomIT – Tren Kontribusi Ritel Online di Indonesia menurut data Bank Indonesia (BI) meningkat seiring dengan disrupsi digital ekonomi terhadap ekonomi tradisional (brick & mortal)(Bisnis:14/12/2016). Sebelum 2013, kontribusi ritel online dibawah 0.5% dari total ritel Indonesia meningkat menjadi 0.6% (2014) dan 1% (2015) menggerus ritel tradisional. Geliat ritel online ini dapat di lihat dari omset Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) 2016 dimana banyak pengusaha ecommerce yang merasakan peningkatan transaksi hingga 50% dibandingkan 2015 dengan 140 situs ecommerce sebesar Rp2.1 Triliun, sedangkan 2016 dengan 200 situs ecommerce dan www.tradesmesco.com mencapai Rp 4 Triliun dengan targetnya mencapai Rp 6.1 Triliun (13/12/2016)

Terlepas dari substitusi dan tergerusnya industri ritel RI oleh industri ritel online akibat disrupsi digital ekonomi, pertumbuhan industri ritel RI masih terus positif menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey pada konferensi pers (Kompas: 28/12/2016), karena memang industri ritel tradisional sendiri masih rendah dari omset PDB RI dan peranan UMKM masih juga banyak di industri ritel tradisional terlepas mulai ada UMKM yang juga mulai pindah ke industri online dan SmescoTrade.com sendiri juga ikut meramaikan Harbolnas 2016.

Omset industri ritel Indonesia mencapai Rp 199.1 Triliun (2016) atau 10%, meningkat dari Rp 181 Triliun (2015) dan diharapkan dapat mencapai Rp 219 Triliun (2017) atau meningkat 12%. PDB meningkat 4.7% (2015) dan optimis pada 5.4% (2017). Diharapkan 2017 prakarsa Tol Laut dan gerai maritim yang dapat menekan biaya transportasi antar pulau dari 45-65% menjadi 25-35%, yang dapat meningkatkan perekonomian Indonesia bagian Timur dengan pesat sebesar 20-30%. Rumus dari industri ritel menurut Roy harus tumbuh 2.5 kali dari pertumbuhan PDB, karena penerimaan PDB kita masih sangat bergantung terbesar pada konsumsi rumah tangga. Namun menurut Roy jika omset retil ang Rp 200 Triliun (2016) ditambahkan dengan omset makanan dan minuman olahan, omsetnya menjadi Rp 1.630 Triliun (2016).

Country Manager IDC (International Data Corporation), Sudev Bangah meragukan omset dan definisi ecommerce dari Kementrian Kominfo yang mengharapkan Indonesia menjadi raja ekonomi digital pada 2020 dengan valuasi ecommerce mencapai US$ 130 miliar (Bisnis:22/11/2016). Komite.ID juga sempat membandingkan data ecommerce RI 2020 ini dengan data ecommerce India yang mencapai US$ 136 miliar bertolak belakang dengan jumlah penduduk India empat-lima kali lebih besar dari Indonesia. (Komite.ID: Feb/Mar2016). Valuasi bisnis online menurut Riset Google dan Temasek mencapai US$ 81 miliar atau Rp 1071 Triliun (2025) (Tempo:14/11/2016).

Hasil Riset Google dan Temasek pasar e-dagang Indonesia 2015 mencapai $1.7 miliar atau sekitar Rp 22.1 Triliun, terbesar dengan porsi 31% dari pasar e-dagang Asia Tenggara sebesar $5.5 Miliar. (Kompas:26/8/2016).
Jika di gabungkan omset transaksi, valuasi dan perusahaan O2O, maka omset penjualan online mencapai $8 miliar (2016) atau Rp 107 Triliun, sedangkan toko online murni (pure play ecommerce) hanya $ 200 juta (2016) atau Rp 2.6 Triliun. Survey IDC menemukan hanya 13.3% pengguna Internet yang berbelanja melalui platform digital dengan pengeluaran rata-rata $ 50.

Apabila data BI di interpolasikan dengan data Aprindo, maka jumlah ritel online 2016 sekitar 1% menurut BI dari omset ritel Indonesia atau omset ritel online sekitar Rp 2 Triliun, sepertinya terlalu pesimis dan rendah dibandingkan dengan gelat Harbolnas 2016 sekitar Rp 4 Triliun. Kecuali jika menurut Roy ditambahkan dengan omset ritel bahan makanan dan minuman olahan, maka 1% omset ritel online menjadi Rp 16 Triliun ?
Perusahaan analis Moody’s analytics dan Visa menyebutkan nilai transaksi ecommerce di Indonesia sekitar $ 11.49 miliar atau Rp 150 Triliun pada 2015, menjadi (Tempo: 1/11/2016).

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mempunyai perhitungan data ecommerce yang sangat tinggi dan makin bertolak belakang dengan data-data sebelumnya dari berbagai sumber seperti IDC, Bank Indonesia, Google, Temasek maupun jika di interpolasi dengan data dari Aprindo Asosiasi Ritel. Menurut Rudiantara, omset ecommerce di Indonesia mencapai $18 miliar (2015) atau sekitar Rp 220 Triliun, meningkat menjadi $ 30 miliar atau sekitar Rp 400 Triliun dan menjadi $ 130 Miliar atau sekitar Rp 1,500 Triliun pada 2020. Padahal Pemerintah sepakat penjualan ecommerce di Indonesia hanya mencapai sekitar 1% dibandingkan dengan ritel offline atau tradisional yang merupakan anomali, jika data ritel tradisional hanya Rp 200 Triliun (2015).

Diharapkan ritel online akibat disrupsi digital ekonomi tidak hanya menjadi substitusi dan kanibal dari ritel tradisional, namun meningkatkan total kontribusi ritel terhadap PDB Indonesia. Upaya Pemerintah untuk meningkatkan ecommerce adalah membuat roadmap ecommerce bersamaan dengan paket kebijakan ekonomi ke 14 dan saat ini Kementrian Perdagangan sedang menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) agar lebih menjamin transaksi ecommerce dan konsumen menurut Fetnayeti, Direktur Bina Usaha Kementrian Perdangangan (14/12/2016)

ICOR (Incremental Capital Output Ratio) atau jumlah Modal Capital yang dibutuhkan untuk Pertumbuhan Ekonomi misalnya GDP. Sayangnya menurut data Bank Dunia dan BPS 2016 yang dikutip oleh peneliti Indef (Institute for Development of Economy & Finance), ICOR Indonesia meningkat dari 4.5% (2013) menjadi 6.8% (2015) artinya penggunaan modal kapital untuk pertumbuhan GDP semakin tidak efisien dan besar. Atau Pemerintahan Jokowi sedang melakukan investasi infrastruktur yang lebih besar untuk menggairahkan pasar dan ekonomi dalam negeri.

Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI dalam keynote nya mengenai Economic Outlook saat HUT Mastel Desember 2016 juga mengkonfirmasi dan mengingatkan agar Masyarakat Telematika terus mendorong industri ecommerce agar membantu Pemerintah RI meningkatkan pertumbuhan GDP nya yang diharapkan mencapai 5.02% triwulan III (2016) dan optimisme ekonomi, setelah pertumbuhan sempat melambat 4.79% (2015). Sukses Perekonomian RI adalah kontribusi Tax Amnesti (TA) Tahap I, meski TA tahap II kurang sukses dibandingkan Tahap I. Menurut data BPS pertumbuhan tertinggi berada pada sektor informasi dan komunikasi sebesar 9.2%, menyumbang 0.42% dalam pertumbuhan ekonomi. (Kompas: 27/12/2016).

Pertumbuhan ekonomi 1% hanya memberikan lapangan kerja 160.000 (2016), namun untungnya GINI ratio atau index ketimpangan pendapatan 0.397 (2016) turun dari 0.408 (2015) diatas ambang psikologis 0.4 (Kompas:30/12/2016)

Outlook Bisnis Ritel Tradisional maupun Online 2017
Melihat anomali dan angka omset ecommerce 2015-2020, yang saling tidak memiliki korelasi, maka Komite.ID mengambil kesimpulan: (1). Definisi dari masing masing instansi berbeda dan bertolak belakang sehingga hasil omset ritel online juga saling bertolak belakang. (2) Namun semua sepakat bahwa prospek bisnis ritel baik tradisional maupun online 2017 masih baik dan pertumbuhan masih positif sekitar 10% hingga 30%. (3) Jumlah startup 2017 untuk bisnis ecommerce juga masih optimis tumbuh untuk sektor yang lebih fokus dan pasar vertikal. (rrusdiah@yahoo.com)