Pentingnya Gerakan Bottom up & Top Down perangi Hoax

0
714

img-20170108-wa0030Jakarta, KomIT – Masyarakat Sipil dari Mastel, APJII, ATSI, ABDI dll bergabung dng Masyarakat Indonesia Anti Hoax serta Pemerintah, Kementrian Kominfo dan masyarakat peduli berkumpul menggelar kegiatan sosialisasi sekaligus deklarasi pada hari Minggu, 8 Januari 2017 di Bunderan Hotel Indonesia (HI) disamping Menara BCA, MH Thamrin di Jakarta bersama teman teman di 6 kota lainnya seperti Surabaya, Wonosobo, Semarang, Solo , Bandung dll.

Kegiatan ini mengajak agar semua komponen masyrakat agar peduli dan bersama sama memerangi penyebaran informasi yang bersifat hoax atau bohong dan tidak berdasarkan fakta serta sumber yang tidak jelas ujar Ketua Masyarakt Indonesia Anti Hoax (Masinfo) Septiaji Eko Nugroho.

Generasi Milenial yang majoritas pengakses Internet, merupakan bagian dari masyarakat yang paling rentan terhadap bahaya hoax. Sangat disayangkan kalau Indonesia yang seharusnya menikmati bonus demografi di tahun 2030 nanti justru di isi oleh orang orang yang tidak cerdas danber etika dalam memanfaatkan media sosial dan dunia Cyber masa depan.

Hoax yang merupakan berita bohong dan tidak jelas sumbernya sering berisi fitnah merugikan sesama rekan sosmed dan Internet, yang dapat memecah belah pertemanan, keluarga, kebhinekaan bahkan persatuan bangsa dan berpotensi menyebabkan masalah yang lebih besar yaitu degradasi bangsa dan Negara, menurut Rudi Rusdiah, ABDI (Asosiasi Big Data Indonesia). Sudah banyak contoh, menjadi Negara gagal dan terdisintegrasi di kawasan Timur Tengah yang salah satu sebabnya adalah penyebaran berita hoax dan asimetris untuk tujuan membuat chaos, memecah belah bangsa dan revolusi yang tidak jelas serta diskriminatif pada era Arab Spring, bahkan mungkin berawal dari krisis 1998 ditanah air. Sebelum masalah hoax ini mengancam persatuan, kesatuan, kebhinekaan mengingat Negara kita adalah sangat majemuk tersebar di 17,504 pulau serta kaya dengan berbagai agama, suku bangsa dan budaya yang dipersatukan dan dibangun oleh Founding Father kita melalui Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan semangat NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Marilah kita bersama sama menjaga keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia dengan mulai bertanggung jawab terhadap data dan informasi yang kita miliki atau diliungkungan kita dan yang kita sebarkan, dimulai dari kita sendiri, lingkungan terkecil dan masyarakat atau Bottom Up approach yang kita tunjukkan bersama segenap komponen masyarakat dan bangsa yang berkumpul pagi tadi 8 Januari 2017 di Bunderan HI dekat Menara BCA. Agar kita mulai dari lingkungan kita yang paling dekat, menjaga agar informasi dan komunikasi yang berlangsung dapat dipertanggung jawabkan, reliable (veracity) atau berdasarkan fakta, kebenaran dan bukan berita yang tendensius, bohong dan berbahaya bagi kesatuan dan persatuan serta kebhinekaan bangsa Indonesia.

Pemerintah juga sudah sangat mendukung dari hadirnya Rudiantara, Menteri Kominfo dan Dirjen Aptika Bapak Semuel A Pangerapan dan staffnya, untuk mendukung aspirasi masyarakat dari bawah (bottom up) yang berkumpul di bunderan HI dengan semangat regulasi. seperti yang sudah banyak dilakukan Kementrian Kominfo antara lain “Internet Sehat” untuk memerangi pornografi dan SARA, serta situs TrustPositif.kominfo.go.id , UU ITE dan lainnya.

Usaha memerangi hoax ini memang harus dilakukan sekarang juga sebelum terlambat oleh semua komponen bangsa baik dari pendekatan bottom up oleh masyarakat, maupun pendekatan top down oleh Pemerintah, seperti rencana Bapak Presiden Joko Widodo untuk membentuk Badan Cyber Nasional untuk memerangi informasi negative didunia Cyber, yang semakin massif di era Big Data ini dan melindungi privacy data pribadi masyarakat dan pengguna layanan social media serta terhadap cross border data flow yang berkaitan dengan resilience (ketahanan) dan sovereignty (kedaulatan) Cyber.

Perang masa depan adalah Perang Hibrid menurut Gatot Nurmantyo, Panglima TNI dimana Cyberwarfare dan di Gatra Ekonomi serta Politik menjadi target utama melebihi perang konvensional di medan Perang. Negara adidaya seperti AS saja sudah sering diserang oleh Cyberwarfare baik oleh State actor seperti serangan terhadap salah satu kandidat Pemilu AS yang ditenggarai oleh NSA dan FBI, maupun serangan dari dalam (insider attack) oleh whistleblower staff NSA seperti Edward Snowden dan Bradley Manning staff militernya di Irak.

Definisi Big Data pun memanfaatkan 4 “V”, yaitu Volume data yang semakin massif, Velocity atau Kecepatan data yang berkembang semakin cepat dan harus cepat diantisipasi; Variety dimana data dan informasi dari dunia Cyber berasal dari banyak sumber baik yang sifatnya terstruktur; tidak terstruktur; hybrid maupun dari Surface Web; Dark dan Deep Web, baik yang positif maupun yang negative.

Semoga kegiatan masyarakat sipil bersama Pemerintah dan asosisi terkait dapat bermanfaat dan di ikuti oleh seluruh komponen bangsa yang memanfaatkan internet dan Social Media agar lebih bertanggung jawab menuju Masyarakat Informasi Indonesia dan Cyber yang damai, berdaulat, berdaya saing dan sejahtera (rrusdiah@yahoo.com).