Refleksi Awal 2017: Fenomena Raksasa Teknologi Terdisrupsi ala Yahoo, Nokia, Blackberry ?

0
825

Jakarta, KomIT – Nokia pada era feature phone pernah menjadi rajanya handphone menggunakan proprietary OS hingga menguasai pasar mobile phone GSM 2G di Eropa dan Asia. Di Indonesia Nokia Communicator laku keras karena masyarakat di Indonesia sangat gandrung dengan short messages SMS dan saat era itu menuju MMS dan WAP tapi gagal. Nokia Communicator model barunya di launching di Jakarta karena penjualan dan pasar RI terbesar di dunia.

Blackberry juga pernah mengalami masa jayanya dengan BlackBerry Messenger (BBM) yang sangat populer di Indonesia menjadi kan Indonesia pengguna BBM terbesar didunia. Obama juga sebelum menjadi Presiden AS adalah pecinta BBM yang konon menggunakan pipa enkripsi end to end dengan Server di RIM (Research in Motion) Waterloo, Ontario, Canada sehingga aman dan sulit di sadap. Pemerintah RI, melalui Menteri Kominfo pernah minta agar Blackberry memindahkan servernya di Indonesia, agar dapat comply dengan UU ITE di Indonesia dan penegak hukum dapat minta Blackberry untuk sharing data messengernya untuk keperluan penyidikan. Namun sepertinya lobby Pemerintah tidak berhasil. bahkan Blackbery membuka pabriknya di Penang Malaysia, bukan di Indoneia yang merupakan pasar terbesar didunia.

Blackberry pun ditenggarai terlambat membuat BBM nya terbuka untuk Apple IOS; Microsoft Windows CE/Mobile/PC; dan Androids didahului oleh Whatsapps (WA), sehingga banyak pengguna yang beralih/migrasi ke WA, apalagi proses identifikasinya sangat mudah menggunakan Nomor Mobile Telephone GSM generik; dibandingkan dengan BBM yang menggunakan pin code proprietary BBM.

Namun sejak populernya Androids karena sifatnya terbuka dan bisa dipakai oleh mobile phone generik, maka banyak yang menggunakan Androids seperti Samsung dan Mobile phone buatan China. Androids mendorong munculnya smartphone lengkap dengan camera yang high resolution dan 3G kemudian 4G.

Pasar produk feature phone seperti Nokia; Siemens; Alcatel featurephone pun tidak dapat bersaing dan pasarnya di substitusi oleh Smartphone Androids; IOS yang semakin populer menggerus pasar mereka, sehingga akhirnya Nokia; Siemens; Sonny; Alcatel featurephone harus menyerah dengan pemain baru yang lebih menguasai konsumen.

Blackberry yang juga membuat smartphone menggunakan proprietary BBM pun terlambat membuka sistemnya untuk pasar Androids; IOS; WindowsPhone; yang pasarnya digerus oleh WA yang membuka sistemnya untuk dapat menggunakan bahkan Blackberry OS; IOS; Windows; Linux.

Sehingga ketika hampir semua pemakai sudah melakukan transformasi ke WA, pengguna WA sudah melewati angka 1 Milyar didunia (2015); maka lambat laun pengguna BBM pun terpaksa migrasi ke WA. Setelah pengguna WA sudah melewati angka psikologis 1 Miliar didunia, maka Wa pun pada 31 Desember 2016 baru baru ini WA mengumumkan untuk tidak lagi dapat mendukung Blackberry OS, yang terbaru sekalipun. Pasar BBM pun semakin tergerus oleh WA yang semakin banyak penggunanya.

Simak hukum Network Law yang melahirkan Ethernet, cikal bakal Internet, yaitu Metcalfe’s Law’ atau disebut The Law of Telecosm (Gilder:2000) “Network Value Rises by the square number of terminal connected” artinya Nilai atau Harga dari sebuah Jaringan meningkat jumlah kuadrat pemakainya artinya eksponensial jumlah pemakainya. Semakin banyak pemakainya maka harga sebuah jaringan meningkat eksponensial dan ini yang terjadi dengan fenomena meningkatnya WA dan tergerusnya BBM. WA dan social media messaging juga menggerus pasar tradisional email seperti Yahoo Email dan Groups.

Sayang sekali pembuat kebijakan perusahaan seperti Blackberry tidak tanggap dan lambat melakukan perubahan menempatkan servernya di Indonesia karena pemakainya terbesar serta cepat mengadopsi BBM nya kepada semua OS sehingga tidak memberikan pesaingnya untuk menggerus pasarnya.

Sama dengan Nokia yang meremehkan Androids sebagai sebuah titik kecil, namun akhirnya tidak dapat melawan kecepatan pertumbuhan Androids yang didorong oleh Google dengan bisnis model Open OS non komersial, yang dapat digunakan oleh banyak startup smartphone generik sehingga pasar di Tiongkok; Taiwan; Korea semua ramai ramai menggunakan Androids dan pasar Nokia yang kurang tanggap akhirnya terdisrupsi oleh perusahaan seperti Samsung; Oppo; Huawei dll.

Bagaimana fenomena Yahoo.com ?

Ketika memasuki era Internet maka satu satunya komunikasi data /berita, baik yang panjang maupun yang pendek adalah melalui Email dan kadang melalui program Chat memanfaatkan PC. PC menjadi primadona sarana utama untuk akses Internet ketika itu dan menjamurnya Internet Cafe atau Warnet dimana mana. Email merupakan komunikasi utama dan menjadi teknologi komunikasi primadona hingga 2010.

Enam tahun yang lalu Yahoo sempat ditawar oleh Microsoft seharga Rp 650 Triliun, namun tidak dilepas oleh pemiliknya dengan harapan tentu dapat dijual dengan harga lebih tinggi ,karena pada era 2000 jayanya email dan warnet valuasi dari Yahoo yang sempat menjadi primadona industri Internet yaitu Rp 1,300 Triliun ($125 miliar) , setara dengan penghasilan pajak nasional RI 2015 atau setara dengan Google dan Facebook saat ini.

Tragisnya 6 tahun kemudian, awal tahun ini dilepas dengan harga Rp 65 Triliun ($ 4.8 miliar) tunai kepada perusahaan Telecom terkemuka di AS yaitu Verizon, yang sebelumnya mengakuisisi raksasa Internet lainnya yaitu AOL seharga $4.4 miliar (Rp 55 Triliun). Kedua portal raksasa yang diakuisisi Verizon diharapkan dapat memberi keunggulan di Mobile Content dan teknologi Advertensi melayani 140 juta pelanggan Verizon, perusahaan raksasa wireless telkom di AS. Yahoo CEO terakhir kedelepan, Marissa Mayer akan berhenti bekerja dengan kompensasi $ 50 juta ( Rp 650 miliar). Sebetulnya, apa yang terjadi dibalik disrupsi dari Yahoo yang bisnis utamanya adalah email pribadi dan group komunitas ? Memasuki era Social Media era Internet 3.0 pasca 2010 menggantikan era WorldWide Web Internet 2.0 pasca 2000; maka muncul produk produk seperti Whatsapps; FB Messenger dan Twitter menggeser dan disrupsi penggunaan Yahoo Email dan Yahoo Chat menggunakan PC produk andalan Yahoo.

Kisah kejatuhan perusahaan yang pernah menjadi raksasa Internet seperti Yahoo menambah kisah kelam para inovator teknologist yang meremehkan sebelah mata kompetitor dan teknologi disrupsi. Terbuai dan malas atau lupa untuk berinovasi, berubah dan melakukan transformasi.

Memang aneh seperti sebuah cerita fiksi perusahaan startup seperti Facebook, Instagram tidak dilahirkan oleh perusahaan seperti Yahoo. Yahoo pernah menganggap remeh Facebook sebagai produk kampus yang tidak akan komersial dan besar. Namun ketika Facebook mencapai pemakai hingga lebih 1.5 miliar melebih penduduk negara terbesar didunia, Tiongkok baru Yahoo menyadari Facebook sebagai perusahaan raksasa. Ketika Facebook menbeli Whatsapps instant messaging social media dan mobile smartphone yang mulai menggeser peranan email messaging era PC baru Yahoo merasakan dasyatnya disrupsi dari teknologi instant messaging ini.

Google yang menjadi raksasa era jayanya Yahoo sekitar penggantian Milenium selalu melakukan transformasi sosial media dan androids, sehingga hingga hari ini masih tetap tumbuh positif. Yahoo pernah disaat jayanya mendapatkan tawaran untuk membeli Google dengan harga Rp 13 Triliun (2002), namun dianggap harga yang terlalu mahal, padahal sekarang nilai kapitalisasi Google Rp 8,000 Triliun.

Jika mengamati sejarah Big Data (Komite edisi Des-Jan2017) maka Yahoo dengan Search Engine Google lah yang mengembangkan teknologi Hadoop yang sekarang menjadi cikal bakal teknologi Big Data yang banyak membesarkan perusahaan termasuk Google.

Divisi PC Samsung,Toshiba, Sharp & Sonny.

Di era jayanya Notebook 1990an juga sama dimana pemain raksasa seperti Toshiba; Sony; bahkan Samsung divisi notebook yang pernah jnaik daun satu dekade yang lalu, kini pada menutup usahanya, karena Notebook dan Desktop PC tergerus oleh Smartphone.

Dahulu pada tahun 1990 dan 2000 satu satunya cara umum mengakses Internet adalah menggunakan PC baik Desktop yang populer di Warnet, maupun Notebook yang lebih mobile. Kini jarang yang menggunakan PC diWarnet untuk mengakses Internet, ketika Internet dapat diakses dengan mudah memanfaatkan Smartphone.

Sejarahnya, PC pernah menjadi primadona teknologi Komputer di atas meja dimana mana menggeser Mainframe migrasi menuju back office dan kini hanya ditemukan di data center perusahaan raksasa, BUMN atau Pemerintah. Kini akses Internet juga dapat dilakukan di Smartphone, sehingga PC pun tergeser dari Front Office migrasi menuju Back Office; Kasir, Administrasi Perusahaan atau Data Center. Dalam bentuk Server dan Storage PC tergeser ke Data Center menampung baik Public atau Hibrid Clouds. Kecenderungannya semakin banyak pengguna Smartphone, maka semakin banyak Clouds dan resources Server di BackOffice Data Center dibelakang layar untuk melayani Smartphone di lapangan dan mobile. Artinya peluang Server PC, Storage dan peralatan Networking Enterprise masih ada, seperti halnya mainframe masih juga ada.

Penyakit khas perusahaan besar meski jawara teknologi inovator seperti Yahoo, Nokia yang terlalu terbuai oleh produk dan dunia nya sendir, namun tidak peduli terhadap startup yang memiliki teknologi disrupsi dan mampu memutar balikan pasar dan teknologi.

Jika sebuah perusahaan besar semakin gemuk dan tidak melakukan bisnis transformasi serta melakukan creative desructions untuk menghilangkan lemak lemak dan teknologi yang sudah usang dengan teknologi disrupsi, maka perusahaan itu akan di ramalkan untuk hancur oleh lemak yang sulit berkembang (dooms to die).

Retail dan Travel Industri

Disektor non teknologi disrupsi juga terjadi oleh fenomena teknologi Cyber seperti bisnis retail atau outlet travel agent yang tergerus oleh e-travel online. Banyak toko tradisional yang mulai memanfaatkan online store, ujar Ketua Asosiasi Retail. Pasar Hotel tradisional yang tergerus oleh AirBnB. Bisnis Taxi tradisional oleh Taxi online. Kodak film terdisrupsi oleh Digital Film dan Camera. Apakah kedepan Video Camera Digital pun akan terdisrupsi oleh Smartphone karena konvergensi teknologi ?

Bagaimana dengan bisnis anda di awal 2017 ini ? Perhatikan teknologi disruptor dan startup disruptor disekitar anda. Demikianlah fenomena disrupsi teknologi yang terjadi disekeliling kita. Sepertinya hanya perubahan yang tidak pernah berubah, siap siap mentransformasi atau migrasi bisnis anda. (rrusdiah@yahoo.com)
Ref: http://www.forbes.com/sites/briansolomon/2016/07/25/yahoo-sells-to-verizon-for-5-billion-marissa-mayer/#7e2a274771b4