Mahasiswa Antusias Dukung Big Data Week 2017 di Jakarta

0
560

Jakarta, KOmIT – Konferensi Big Data Week (BDW) 2017diselenggarakan di Hotel Sahid Jaya penuh sesak oleh 3,000 pengunjung dari komunitas Telematika, Data Scientist, Universitas Binus, UMN, Telkom University dan berbagai sektor industri hingga sore, menunjukkan minat luar biasa masyarakat terhadap Data Teknologi (DT) dan kolaborasi Data Sharing, ujar Andrew Martin, Asia Online Publishing Group(AOPG) (23/3/2017).

Seperti yang dikatakan oleh Jack Ma, CEO Alibaba bahwa gap antara negara maju dan negara berkembang atau MNC dan UKM domestik belum terlalu besar, sehingga membuka peluang besar bagi startup, mahasiswa, UKM untuk belajar dan memanfaatkan teknologi DT yang belum sematang (mature) seperti teknologi IT (Information Technology). Para pakar dunia yang khusus datang dari manca negara seperti Ingris, Hongkong, Singapore, New York membuat BDW 2017 hype (heboh) dan membludak oleh startup dan mahasiswa yang ingin mengejar karir sebagai Data Scientist dan Engineer, yang menurut banyak pembicara akan menjadi primadona dan gaji tinggi dibandingkan konvensional programmer,system analyst dan engineer.

BDW 2017 diselenggarakan oleh AOPG dan PT Panorama Evenindo dibuka dengan keynote speech Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aptika (Aplikasi Informatika), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Delegasi dari Cloudera dan Nutanix sebagai sponsor utama, serta Dell Indonesia, RedHat,Telkom Universitas, Data Science, ABDI (Asosiasi Big Data Indonesia), Fusionex, Bank Danamon, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Komite.id sebagai media partner.

Cloudera penyedia platform global untuk big data analitik dan machine learning meluncurkan BASE (Big Analytics Skill Enablement), sebuah ekosistem Information Technology (IT) yang dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja profesional data technology masa depan yang sudah diluncurkan dengan sukses di Singapura, Malaysia, Tiongkok dan Korea, ujar Daniel Ng, Senior Director, Cloudera APAC Singapore, ‘Father of Base’, pengembang Base inisiatif dan Vishal Rao, SVP, Cloudera, AS kepada Rudi Rusdiah, editor Komite.id. Ditambahkan oleh Fred Groen, Country Manager Cloudera Indonesia dengan melihat pasar Indonesia yang besar dan perkembangan serta antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Big Data Analytics(BDA), Cloudera berencana membuka kantor perwakilan di Indonesia. “With Big Data, will make everything impossible today, possible tomorrow” ujar Daniel.

Nutanix memperkenalkan solusi Hyper Converged Box yang sangat kompak dimana tradisional Server, Storage, Network yang semula terpisah pisah, sekarang menjadi satu box dan semua di kontrol melalui Software Defined Infrastructure. Ini trend data storage masa kini yang digunakan oleh raksasa Internet Facebook, Google, Amazon dll. Rahasia dibalik kecanggihan infrastruktur yang tidak pernah down dari Facebook, Google meski harus berkembang melayani dari 500 juta pelanggan 10 tahun lalu hingga kini 1,7 miliar pelanggan, karena menggunakan Hyper Converged dan data yang direplikasi dibeberapa node sehingga sangat reliable, ujar Paul Serrano, Chief Evangelist Asia Pacific, Nutanix.

Bagaimana hubungan antara Digitization, Big data dan Smart Nation, dimana digitisasi adalah massproduction konversi informasi analog menjadi digital, sehingga ketika jumlahnya, variasi banyak disebut Big Data. Smart Nation adalah system integrasi dari banyak solusi, aplikasi dan data untuk menjalankan sebuah Kota atau Negara. Big Data dapat menghasilkan insight yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan untuk mengelolah Smart Nation kedepan memanfaatkan sensor data dari IOT (Internet of Things).

Secara global, pasar BDA akan meningkat terus dan mencapai $ 20 miliar pada 2020 terdiri dari perusahaan pendukung Big Data (infrastruktur storage dan lainnya) dan perusahaan Big Data murni ( data analytics, bisnis intelijen, data warehousing, data science dan lainnya), yang juga menjadi klasifikasi anggota perusahaan dari ABDI.

Perkembangan industry dan awareness terhadap BD berbeda untuk masing negara, namun terjadi perubahan yang besar dimana 10-15 tahun yang lalu majoritas perusahaan membangun infrastruktur dan core enterprise system dengan tujuan automation dari proses, namun lima tahun terakhir inisiatif sudah mulai banyak yang memanfaatkan infrastruktur dan core system enterprise untuk data analytics untuk pengambilan keputusan.

Menurut IDC, 62% perusahaan di Indonesia masih merasa belum siap memanfaatkan BDA secara profesional dan seutuhnya, meskipun menurut Semuel saat kita berangkat ke kantor memanfaatkan Waze untuk analisa trafik dan jalur yang akan kita lalui, tanpa kita sadari, sudah menggunakan analytics dari data technology milik Waze atau aplikasi Qlue untuk keluhan masyarakat Smart City Jakarta. Pemanfaatan BDA merupakan produk cross platform (horizontal) dengan basis yang sama yaitu data sebagai aset. Di industri kesehatan BDA dipakai untuk analisa mengapa seorang bayi menangis, di perbankan untuk tracking fraud dan analisa kredit, diindustri transportasi untuk menghidari traffic jam, sedangkan di industri Telco untuk churn analytics.

Regulasi Perlindungan Data Pribadi (PDP) di Indonesia sudah ada dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen) melindungi konsumen agar BDA atau bisnis intelijen dilakukan secara agregasi industrinya sesuai kebutuhan, namun harus menghindari analisa data secara individu atau profiling, karena akan melanggar hak privacy seseorang. Permen juga melindungi konsumen agar perusahaan data collector dan processing transparan mengenai untuk apa data klien tersebut digunakan (asas manfaat) dan harus ada akuntabilitas agar jangan sampai data base atau data lake tersebut diretas dan disalahgunakan. Kominfo sendiri akan membangun projek Big Data untuk sektor horizontal pemerintahan. Sampai jumpa di BDW 2018. (rrusdiah@yahoo.com).