Ristekdikti Gelar Bakti Teknologi untuk Negeri di Sulsel

0
497

Makassr, KomIT -Dalam rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-22 yang akan dipusatkan di Makassar pada bulan Agustus mendatang, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki rangkaian kegiatan untuk menggelorakan inovasi. Salah satunya kegiatan Bakti Teknologi untuk Negeri Tanam Serempak Padi Unggul di 22 titik di Kab/Kota Se Propinsi Sulawesii Selatan dalam usaha menjadikan propinsi ini menjadi lumbung pangan nasional.

Demi terwujudnya Propinsi Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan, Kemenristekdikti mengawalinya dengan program Training Of Trainer (TOT) Implementasi IPAT BO (Intesifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik) kepada para PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) dan kelompok tani se-Propinsi Sulawesi Selatan.

“Inovasi akan menggerakkan ekonomi masyarakat dan tujuan dari inovasi ini untuk meningkatkan daya saing bangsa. Bagaimana memperkuat Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan sehingga kita bersama-sama memyusun program ini untuk membangun sinergi antara dunia perguruan tinggi, lembaga litbang, pemerintah daerah dan dunia usaha,” ujar Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti Ophirtus Sumule saat membuka acara TOT mewakili Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe, di ruang Garuda Hotel La Macca, Makassar, (6/4).

Ophirtus menambahkan kegiatan ini tidak berhenti di sini saja, karena kegiatan ini akan terus bergulir yang merupakan kontribusi dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa. Ketua Panitia Gunawan Wiebysana mengatakan program ini merupakan kegiatan tanam serentak benih unggul padi di 24 Kabupaten Propinsi Selawesi Selatan, diawali dengan program TOT untuk melatih PPL dan kelompok tani untuk mengimplementasikan Teknologi IPAT BO yang memiliki berbagai keunggulan.

Sementara itu Tualar Simarmata yang mengembangkan Teknologi IPAT BO sejak 2006 menjelaskan ini merupakan kerjasama Universitas Padjajaran (Unpad) dengan Kemenristekdikti, kemudian teknologi ini berkembang cepat dari tahun 2006 sampai sekarang bisa dikatakan di seluruh Indonesia sudah menerapkan Teknologi IPAT BO ini. Teknik ini menurutnya akan menghemat bibit, menghemat penggunaan air, serta memanfaatkan pupuk berbasis organik dan hayati Hasil dari teknologi IPATBO ialah mampu mengurangi penggunaan air hingga 35%, mengurangi pemakaian pupuk anorganik sebesar 25%, serta menghemat bibit hingga 50%. IPAT BO juga mampu menaikkan produktivitas lahan sampai dua kali lipat.

“Nilai ekonomisnya jika menggunakan Teknologi IPAT BO ini jika dibandingkan dengan teknologi konvensional lainnya bisa menaikan hasil hingga dua puluh lima persen, berdasarkan pengalaman kita pada waktu yang sama jika yang lain bahannya sudah mulai berkurang kita masih dua puluh lima persen lebih tinggi, padahal dari sisi inputnya tidak jauh berbeda hanya lebih hemat, misalkan yang meenggunakan teknologi konvensional empat puluh kg kita cukup lima belas sampai dua puluh kg,” jelas Tualar.

Panyuluh petani Kabupaten Goa Sulawesi Selatan Mahsen Yahya telah menerapkan Teknologi IPAT BO ini sejak tahun 2008 tepatnya di Kecamatan Sunggobu, Teknologi IPAT BO ini memiliki banyak manfaat untuk petani. “Saat menerapkan teknologi ini dulu bisa mencapai tujuh sampai sepuluh ton. Saat penyuluhan respon petani sangat bagus karena mereka sendiri merasakan keunggulan dari teknologi IPAT BO ini. Keunggulannya produksi bisa meningkat, namun kendalanya benihnya masih kurang. Harapan saya kedepan kesediaan benih dan pupuk perlu diperhatikan,” harapnya. (red)