Audisi Born To Protect Mulai Digelar di Kampus Gunadarma

0
127

Jakarta, KomIT – Dalam rangka mencari bakat-bakat cyber security di kalangan masyarakat, PT Xynexis International bekerjasama dengan Kementerian Kominfo menggelar program “Born To Protect”, yang diharapkan bisa melahirkan gladiator cyber security yang bisa diandalkan. Kegiatan ini diadakan antara lain juga untuk menjembatani adanya ketimpangan di bidang teknologi informasi yang kian melesat jauh dengan kemampuan SDM yang ada. Terutama kesenjangan, minimnya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian khusus, di bidang IT security. Padahal seiring meningkatnya kemajuan teknologi infomasi di era Internet of Things (IoT), ancaman kejahatan cyber juga makin mengkhawatirkan.

“Program penjaringan bakat tenaga cyber security ini sebenarnya sudah mulai dibuka sejak 25 Januari lalu yang diresmikan langsung oleh Pak Menkominfo, Rudiantara. Kegiatan ini juga mendapat dukungan kerja sama dari Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer (APTIKOM) seluruh Indonesia yang akan membantu memfasilitasi kegiatan roadshow dan kegiatan audisi bagi penjaringan bakat cyber security ini. Sejak pertama kali pendaftaran dibuka, jumlah yang mendaftar secara online sudah mencapai 3.000 lebih. Makanya kita lakukan audisi untuk proses seleksi lebih lanjut. Nantinya proses audisi juga akan kita lakukan di kota-kota lain. Makanya kita masih beri kesempatan untuk pendaftaran yang bisa dilakukan melalui website http://www.borntoprotect.id atau https://m.Facebook.com/BornToProtect/,” ungkap Eva Noor, CEO PT Xynexis International dalam jumpa pers yang dihadiri Rektor Universitas Gunadarma, Prof. Dr. E.S Margianti, SE,MM, Direktur Keamanan Informasi Ditjen Aplikasi Informatika Kominfo, Aidil Chendramata, dan Ketua Panitia Audisi I Born To Protect, Dr. Rer.nat, Avinanta Tarigan, pada (19/8), di Kampus Gunadarma Karawaci – Tangerang.

Menurut Eva Noor, yang juga penggagas kegiatan Born To Protect ini. Untuk mendorong lebih banyak peserta, pihaknya juga melakukan roadshow di 10 kota lain di Indonesia. Antara lain Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Malang, Bali, Samarinda, Makassar dan Manado. “Kegiatan roadshow ini antara lain bertujuan mengajak masyarakat luas, khususnya mahasiswa dan generasi muda, yang berpendidikan menengah atas hingga perguruan tinggi untuk mengikuti ajang kompetisi ini. Program ini terbuka umum dari usia 17 tahun ke atas. Targetnya bisa menjaring 10.000 kandidat gladiator cyber security dari seluruh Indonesia yang akan kita seleksi lagi untuk mendapatkan 100 orang terbaik yang akan diberikan training khusus cyber security,” ujarnya.

Audisi Pertama “Born To Protect” di Kampus Universitas Gunadarma Karawaci ini dibuka oleh Menkominfo, Rudiantara yang diwakili Direktur Keamanan Informasi Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Aidil Chendramata. Dalam sambutan tertulisnya, Menkominfo Rudiantara menyatakan, kegiatan ini sangat penting di tengah ancaman cyber security yang juga terus meningkat belakangan ini.

“Kita harapkan dari Born to Protect ini bisa diperoleh bakat-bakat untuk dibina agar kelak bisa menjadi SDM tangguh yang memiliki keahlian cyber security untuk menghadapi riuhnya ancaman serangan siber yang makin meningkat. Sampai saat ini, Indonesia masih sangat kekurangan tenaga-tenaga berbakat di bidang cyber security. Padahal kebutuhannya makin tinggi, baik untuk dunia bisnis, goverment, serta institusi lain,” ujarnya.

Disebutkan, berdasarkan Laporan Indonesia Cyber Security Report 2017 yang diterbitkan ID-SIRTII pada tahun 2016 terdapat sebanyak 135,672,948 total serangan. Angka tersebut meningkat lebih dari 50% dibandingkan dengan tahun 2015 dengan jumlah total serangan 89.691.783 serangan. Port terbanyak yang diserang adalah Port 53 yang digunakan untuk mencari domain name system (DNS). Adapun negara sumber serangan terhadap Indonesia terbanyak berasal dari Amerika dengan jenis serangan terbanyak DDOS.

Masih menurut data ID-SIRTII serangan paling banyak terjadi pada bulan April 2016 yaitu sebanyak 46.338.965 kali serangan. Sedangkan domain pemerintah (go.id) yang menjadi host phising sebesar 17.73% dan .id 13,64%. Adapun berbagai bentuk trend serangan dan insiden itu menggunakan instrumen cyberspace sebagai saluran utama dalam melaksanakan tindakannya. “Melihat tren ancaman kejahatan cyber yang makin tinggi, keberadaan SDM yang memiliki keahlian IT security ini, sangat penting. Kita harapkan Born to Protect ini bisa menjadi salah satu solusi permasalahan ini,” ujarnya.

Karena itu lanjutnya, Kementerian Kominfo sangat mendukung penuh program ini. Dalam kegiatan Born to Protect akan dilakukan pemeringkatan terhadap bakat-bakat cyber security yang terjaring. Pemeringkatan talent Cyber Security ini juga diharapkan dapat memunculkan double impact. Mereka menjadi lebih dikenal dunia industri, sebaliknya dunia industri semakin mudah mendapatkan tenaga kerja cyber security yang berkualitas untuk dapat bekerja di instansi mereka.