Hermawan Kertajaya : Digital Marketing-From Trend to Necessity

0
492

Jakarta, KomIT – Hermawan Kartajaya, pakar marketing dan CEO MarkPlus mengatakan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah berdampak luas dan memberikan pengaruh besar dalam dunia usaha. Mulai dari proses produksi, distribusi, dan sebagainya, termasuk bidang marketing yang kian dinamis teermasuk melalui berbagai media sosial yang kian menjadi lebih efisien dan efektif.

Konektivitas yang dibangun melalui dunia digital, juga memampukan banyak pelaku bisnis, termasuk para startup hingga bisa menembus dan terhubung dengan akses-akses modal dan pasar baru yang lebih luas. Ia mencontohkan bukalapak.com dan juga tokopedia yang dalam waktu tidak terlalu lama bisa mendapatkan kepercayaan dukungan modal hingga triliunan rupiah dari perusahaan modal ventura global.

“Ini tren baru yang tidak mau juga harus disikapi oleh para pelaku bisnis dalam menentukan strategi marketingnya. Dalam kondisi seperti sekarang, mereka harus mau belajar dan memahami generasi melenial yang lebih melek IT, sehingga tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem konvensional”, ujarnya  saat menjadi keynote speech dalam seminar edukasi tentang digital marketing, yang mengangkat tema “Digital Marketing: From Trend to Necessity” di Jakarta, (21/8)

Dalam kaitan ini, pihaknya bersama Philip Kotler, dan Iwan Setiawan telah memperkenalkan konsep Marketing 4.0 dalam buku berjudul “Marketing 4.0, Moving from Traditional to Digital” (Wiley, 2017). Marketing 4.0 katanya, merupakan pendekatan pemasaran yang mengkombinasikan interaksi online dan interaksi offline antara perusahaan dengan pelanggan.

Selain mengkombinasikan online dan offline, Marketing 4.0 juga mengintegrasikan antara style dan substance. Artinya, merek tidak hanya mengedepankan branding bagus, tetapi juga konten yang relevan dengan pelanggan atau menyuguhkan konten yang bagus dengan kemasan yang up-to-date dan menarik. Marketing 4.0 juga mengembangkan konektivitas machine-to-machine dan artificial intelligence dalam rangka mendongkrak produktivitas. Tetapi, itu harus diimbangi dengan pengembangkan konektivitas human-to-human, karena hal ini justru akan memperkuat customer engagement.

Lantas apakah dalam hal ini pemasaran tradisional menjadi usang? Menurut Hermawan, jawabannya adalah tidak. Dalam Marketing 4.0, digital marketing tidaklah menggantikan pemasaran tradisional. Sebaliknya, keduanya hadir bersama alias coexist di era sekarang. Keduanya saling mengisi peran satu sama lain, khususnya dalam perjalanan pelanggan atau customer path.

“Bagaimana pun, pemasaran tradisional tetap diperlukan. Sebab digital marketing tidak bisa bisa sepenuhnya menggantikan pemasaran tradisional. Justru keduanya harus bisa bersama saling mengisi peran satu sama lain yang tujuan utamanya adalah memenangkan advokasi konsumen,” tandasnya.

Hadir pula pembicara lain, di antaranya Chief Enterprise & Business Solution Smartfren, yang juga penulis buku “Naked Sales”, Tanto Surioto, Managing Director Paramount Enterprise, Pendiri Komunitas NurKhazanah dan Instruktur Kursus Online Gratis IndonesiaX “The Art of Selling”, Budianto Andreas Nawawi, serta Praktisi Pemasaran Digital yang juga Penulis buku “Digital Marketing in Action”, Juanda Rovelim. (red/ju)