50 tahun Peringatan Asean & Bilateral RI & Singapore

0
90

Jakarta, KomIT – Pada Peringatan ke 50 berdirinya Asean dan 20 tahun Asean plus Three, yang merupakan bentuk kerjasama Asean dengan Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan, Mark Plus Inc berkolaborasi dengan Philip Kotler Center for Asean menggelar 3rd asean Marketing Summit (AMS) 2017 di Raffles Hotel Jakarta( 7/9). Mengangkat tema “Asean & Indonesia as Host: New Opportunities from the East”.

Menurut Hermawan Kartajaya dalam sambutannya bahwa Asean dimulai dari hubungan G2G antar pemerintah, kemudian B2B yaitu antar bisnis dan institusi berkembang menjadi P2P atau antar masyarakat serta dalam acara ini M2M antara para marketeers pada Asean Marketing Summit (AMS) ke tiga kalinya. Asean merupakan kawasan yang terus tumbuh dan berkembang dan patut diperhitungkan sebagai poros kekuatan ekonomi baru, apalagi dengan terbentuknya Asean Economic Community (AEC).Asean mewakili 6.2% GDP dunia (2016) atau hampir dua kali lipat jika dibandingkan Asean yang hanya mencapai 3.2% GDP dunia (1967).

Sejak terbentuknya Ekonomi tunggal Asean (2016), GDP gabungan negara Asean menempati peringkat enam terbesar dunia dan peringkat ketiga di Asia dengan nilai total ekonomi US$ 2.55 Triliun meningkat 400% dibandingkan 1999, disebabkan karena Asean merupakan kontinen yang paling solid dan damai, menjunjung unity in diversity, dan merupakan Hub for plus atau konektor bagi kerjasama dengan mitra lainnya seperti plus 3 dengan Tiongkok, Jepang dan Korea, menjadikan Asean sebagai mitra kerjasama yang paling dapat diandalkan karena stabilitas regionalnya. Meski tentu semua ini tidak terlepas juga masih adanya konflik relatif kecil, seperti di Rohingya, negara bagian Rakhine Myanmar, Marawi, Mindanao Filipina dan Papua RI, ujar Philip Jusario Vermonte, Direktur Eksekutif CSIS Indonesia. Juga masih adanya konflik di Laut Tiongkok Selatan dan konflik nuklir di Semenanjung Korea.

Sudut Pandang Negara Plus 3: Tiongkok, Jepang & Korea.

Sedangkan dari sisi Asean melihat Negara Plus Three sebagai: (1) Jepang merupakan saudara lama, prinsip menjaga kualitas dan reliabilitas dengan Kaizen yaitu Continous Improvement atau semangat memperbarui diri menuju kearah kesempurnaan, serta Jepang mengembangkan strategi bisnisnya dari manufaktur produk ke jasa; (2). Tiongkok dilihat sebagai kekuatan global baru didukung oleh strategi ekspansi OBOR (One Belt One Road) untuk memperkuat jalur sutra neo-maritim dan rempah ditambah kekuatan diaspora Tiongkok (Hua Qiao) serta perubahan Tiongkok dari ekspor barang “Made in China” emenuju investasi Tiongkok diberbagai bisnis di negara Asean.

Tentu reciprocal Asean minta Tiongkok lebih menerapkan balance of trade atau perdagangan yang berkeadilan dan tidak melakukan dumping harga. Total investasi Tiongkok ke Asean USD 9,2 milyar dan perdagangan Asean Tiongkok USD 368 milyar (2016) ; (3) Korea Selatan(Korsel) dikenal dunia melalui pop culture (GangNam); Negara yang smart dan creative serta prinsip kerja yang serba cepat dan dikenal sebagai ‘pali-pali’ serta negara in between antara Tiongkok dan Jepang.

Hubungan Asean dengan Negara besar seperti Tiongkok yang membuka pasar, ekspansi dan investasi ditengah perlambatan pertumbuhan ekonomi nya serta AS yang menerapkan proteksionisme dan menarik sejumlah investornya. Sehingga terkesan agak konyol ketika delegasi US ABC (Dewan Bisnis AS-Asean) dalam rapat bilateralnya menanyakan kebijakan RI yang cenderung protektif terhadap AS terkait rencana beleid penerapan National Gateway atau Over the Top dan pemanfaatan bahan baku local melalui TKDN, ujar Enggartiasto, Menteri Perdagangan RI.

Pemerintah RI malah mendukung transparansi exim dan customs, salah satu upayanya dengan menolak menghapus FOB dari Form Surat Keterangan Asal Barang(SKA) dalam mendukung keterbukaan tariff preferensi skema Asean Trade in Good Agreement dan mendukung pasar Zona Kawasan Perdagangan Bebas Asean (AFTA). Sekretariat Asean berada di Jakarta dan penduduk RI terbesar di Asean atau penduduk RI mendekati 40% dari penduduk Asean, sedangkan GDP RI 857,603 juta terbesar di Asean atau GDP RI sekitar 34% GDP total Asean, artinya RI adalah terbesar di Asean dalam hal GDP, teritori maupun penduduknya

Para Menteri ekonomi Asean berkomitmen meningkatkan perdagangan Intra-Asean atau diantara negara Asean sebesar dua kali lipat mulai 2017 hingga 2025 melalui upaya Zona Kawasan Perdagangan Bebas Asean (Asean Free Trade – AFTA) yang bisa meningkatkan ekspor RI pada rangkaian pertemuan Menteri Ekonomi Asean (AEM). Menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, total perdagangan Asean 2016 sebesar USD 2,22 Triliun, dimana 23.1% andalah intra Asean sedangkan RI tetap terbesar di Asean.

Acara Asean Marketing Summit ini juga di isi dengan pembagian awards kepada perusahaan perusahaan seperti Pertamina, Gojek dan BCA. Sedangkan penerima Indonesian champion for Asean 2017 adalah BRI, Mandiri, Lion Group, PT Kalbe Farma, AlfaMart dan lainnya.

RISING 50

Pada saat yang bersamaan Presiden Jokowi bersama beberapa Menteri berkunjung ke Singapura memperingati 50 tahun hubungan Indonesia Singapura, menandatangani 8 MOU (Nota Kesepahaman) terkait program pertukaran akademisi dan pendidikan vokasi; Program pelatihan ketrampilan ekonomi digital; pariwisata, enerji dan lain-lain. Presiden Jokowi bersama PM Lee Hsien Loong sambil menyaksikan defile atraksi RISING 50 gabungan pesawat tempur 10 pesawat F16 TNI AU & 10 F16 Republik Singapore AirForce (RSAF) dari Marina Bay Cruise Centre membentuk angka “50”. Kementrian Pertahanan Singapore menyatakan bahwa Flypast defile bersama TNI AU – RSAF menunjukkan testimoni dari kekuatan hubungan bilateral pertahanan RI & Singapore (SGP).

Total perdagangan RI dengan SGP sebesar USD 26,409 miliar, dimana ekspor RI sebesar USD 11,86 miliar (2016) dan impor USD 14,55 miliar, masih ada deficit USD 2,687 miliar yang perlu diperbaiki oleh RI dan total investasi 5,800 proyek sebesar USD 9.2 miliar (2016) sekitar 31.7% terhadap investasi seluruh PMA naik dari USD 5.9 miliar (2015). RI mengirim turis terbanyak dari manca Negara dan WNI yang tinggal di SGP sekitar 216.000 orang. Beberapa isu menarik seperti AEoI transparansi pajak dan amnesti pajak RI; Kabut Asab akibat kebakaran lahan di Sumatra dan banyak MOU yang ditandatangani pada kunjungan Presiden Jokowi (rrusdiah@yahoo.com).