Chat with Najwa Shihab: Demokrasi, Transformasi dan Disrupsi Sosial Media?

0
390

Jakarta, KomIT – Sesi Fire Chat Moderator Antonny Liem, CEO MCM dengan Najwa Shihab, Journalist & Host Mata Najwa, yang diliput Komite.id menjadi semarak meski menjelang akhir acara Sosial Media Week (SMW) 2017 pada hari ketiga (15/9) diawali dengan video perpisahan Najwa sebagai host dan tentu what’s next ada dibenak peserta conference SMW 2017 ?

Perjalanan Transformasi manfaatkan Sosmed

Tanpa disadari dan direncanakan Najwa Sihab dari sejak awal sudah memanfaatkan Sosmed  umumnya Twitter, kalau bahas spesifik untuk acara Mata Najwa di Metro TV. Dari sejak brain-storming mencari ide, menciptakan progam Mata Najwa bersama rekan, ketika itu tentu masih dengan pertanyaan apakah akan berhasil, memanfaatkan tools sosmed seperti Twitter. Bahkan diskusi logo pertama Mata Najwa juga dengan rekan di Twitter dan pemberitauan recruitmen staff, termasuk mengundang nara sumber juga pakai twitter. Jadi dari awal proses perancangan, produksi sudah heavy memanfaatkan medsos. “Jika flashback, pernah tim Mata Najwa mencoba mengundang Menteri Kominfo, Tifatul Sembiring lewat jalur resmi dan konvensional surat menyurat malah sempat ditolak, sehingga akhir saya colek di twitter dan ribuan follower sempat twit mendorong “pak Tif” agar berani muncul di Mata Najwa, dan akhirnya Tifatul hadir di Mata Najwa”, ujar Najwa.

Banyak tokoh tokoh penting presiden, anak anak presiden, pejabat bahkan anggota dewan yang terhormat juga lebih suka dan efektif memanfaatkan sosmed,  karena kini adalah era keterbukaan dibandingkan dengan era sebelum reformasi. Moderator acara SMW2017, Antonny Liem sempat menanyakan  Najwa dan jawaban Najwa bahwa rahasia dapur acara Mata Najwa terkait sosmed baru pertama diungkap khusus untuk acara SosMed Week, disambut applause peserta acara sosmed week yang beruntung.

How to follow news, dari pekerjaan cari duit, terutama proses ingin mengumpulkan informasi, narasumber memanfaatkan Twitter, misalnya  saat breaking news yang sempat ramai hastag #Indonesia United. Yang selalu teringat, misalnya gempa di Padang beberapa tahun yang lalu. Sempat dibahas dengan beberapa teman teman aktif di sosial media, peranan dan konvergensi sosmed dan twitter dengan mata najwa dan media elektronik Metro TV yang ternyata sangat intense. Batasan 140 karakter message dari Twitter memudahkan penyebaran berita dengan cepat, padat dan interaktif, yang sangat cocok untuk breaking news, serta feedback dua arahnya, meski Mata Najwa lebih dulu dengan Facebook yang lebih untuk berita dari aspek sosial dan story telling. Malah moderator Antonny yang kaget ketika ditanya balik oleh Najwa terkait pemanfaatan sosmed pribadi, menjawab dulu seingat Antonny pernah menggunakan Friendster yang sekarang hilang terdisrupsi disambut tawa penonton. Jadi Mata Najwa berhutang banyak dan penggunaan sosmed sangat intense terutama twitter dan disrupsi sosmed pun menjadi tools media elektronik TV yang pernah paling populer di Indonesia, apalagi saat prime news dan breaking news.

Back to the Future

Pengalaman 17 tahun menjadi jurnalis desk Politik Hukum sejak umur 17 tahun, bagaimana menggunakan Teknologi dan Sosial Media dengan positif pada setiap kesempatan.

Apakah Najwa juga terdisrupsi oleh digital ? Saat ini Najwa sedang proses mempersiapkan masuk kedalam dunia digital. Namun digital medium nya seperti apa, mengingat latar belakang pengalaman sukses di dunia TV, jadi memang ada pride dan kesombongan sebagai insan TV, apalagi industri TV sebelumnya memang mendisrupsi industri media tradisional lainnya dan pernah menguasai majoritas share media dan iklan masyarakat RI. Menurut Najwa,  sedang dalam proses  mempersiapkan transformasi ke dunia digital dan brainstorming beberapa ide dan pilihan. The beauty of digital, menurutnya adalah sangat cepat, murah dan mudah eksperimen dengan berbagai format media atau multimedia, trial hingga berhasil.  Berkesempatan mengamati keberhasilan di acara Metro TV dan bagaimana bisa lebih di optimalkan memanfaatkan tools dan dunia digital, jadi Najwa masih dalam tahap persiapan. Jika selama ini engagement dunia media tradisional dan elektronik lebih terbatas satu arah, namun di sosial media bisa lebih interaktif two ways, multimedia online dan offline sehingga banyak masukan dari masyarakat dan bisa menciptakan yang lebih baik.

Khas soul dari acara Najwa yang berani bicara dan berpikir kritis agar masyarakat tidak menelan bulat bulat atau kucing dalam karung  ketika menghadapi para politisi dan voter.

Demokrasi & Disrupsi (Teknologi) SosMed

Indonesia tidak lama lagi akan menghadapi turbulence 2019, ujar Antonny dan disambut oleh Najwa agar masyarakat sadar bahwa tidak lama lagi bulan Agustus 2018 sudah pendaftaran Capres, kurang dari satu tahun dan September 2019 tepat dua tahun lagi sudah ada pendaftaran calon Presiden. Jadi acara seperti keterbukaan Mata Najwa masih dibutuhkan masyarakat ujar Antonny.

Melihat kebelakang, misalnya pengalaman Najwa dalam Quickcount 2004, bagaimana dengan transformasi dan disrupsi teknologi pada pesta demokrasi di RI. Najwa merasakan transformasi perubahan tersebut sejak awal menjadi wartawan politik lulusan fakultas hukum UI. Dan sejak awal ditempatkan di desk Politik dan Hukum. Jadi beragam liputan ke teman-teman kita yang terhormat, ke DPR; ke istana; ke kantor polisi sesuai bidang Najwa. Mengingat banyak persistiwa politik penting di RI yang dialami, maka Najwa alhamdulilah berkesempatan terlibat intense di berbagai peristiwa, salah satu yang utama suksesi kepemimpinan.  Tiga kali pemilu langsung bisa hadir meliput  2004, 2009 kemudian terakhir 2014 yang memang mengalami perubahan yang cepat sekali. Quickcount, misalnya pertama kali digunakan Metro TV, 2004, bahkan dianggap produk ahli nujum oleh banyak politisi politis, karena ketika itu pertanyaannya, bagaimana mungkin baru tutup TPS satu jam sudah dapat menampilkan hasil insight dan ketika itu yang menang adalah presiden SBY. Pertanyaan kritis, bagaimana mungkin dapat  memperoleh hasil hanya dengan mengambil sample populasi  beberapa ratus TPS dari jumlah populasi TPS yang ada 2004 ketika itu? Jadi akhirnya,  dibuat gambar satu sisi Quick Count dan disampingnya Real Count.

Ketika itu Real Count baru bisa memberikan hasil setelah satu bulan dan ketika pengumuman resmi nya ditutup angka insight dari Quick Count sama dengan angka dari Real count Pemerintah. Pada 2009 masyarakat sudah lebih terbiasa dengan Quick count, ketika pemilu-kada diberbagai daerah dan tentu konsultan politik menjadi pekerjaan favorit,  dapat memprediksi sehingga survey menjadi primadona. 2009 muncul instrument baru diduna politik yaitu menggunakan analytics Exit Pole

TPS belum tutup jam 11 sudah dapat memprediksi siapa yang akan menang.

Ketika Exit Pole ditampilkan sempat menimbulkan kontroversial, karena kecepatan analytics untuk mendapatkan political insight dan semua ini memanfaatkan teknologi informasi dan data analytics. 2014 juga mengalami hal yang sama sama Jadi Najwa menekankan disrupsi teknologi digital dan sosmed adalah nyata  mempengaruhi bagaimana berdemokrasi.  Presiden Jokowi dan beberapa Menteri juga sangat akrab dengan social media membuat VBlog, video blog pendek agar lebih dekat dengan masyarakat mengangkat hal hal yang sederhana dan kadang menggelikan, sehingga mudah menjadi viral dan populer di era SosMed.

Pertanyaan floor terkait masalah Pegiat Literasi mengurangi Literasi dan meningkatkan gemar membaca, menurut Najwa karena harga buku di Indonesia masih mahal relative ke daya beli. Seperti beberapa waktu lalu penerapan pajak penulis, ditambah banyaknya ekonomi biaya tinggi seperti pajak ppn kertas, dan berbagai elemen pajak serta distribusi yang mahal, sehingga harga buku di took buku menjadi mahal. Benchmark dengan Malaysia yang tidak mengenakan pajak pada buku ditambah mahasiswa Malaysia mendapatkan subsidi voucher 250 ringgit ketika membeli buku pelajaran. Jadi solusinya, bagaimana RI memberikan berbagai kemudahan dan subsidi agar pelajar dapat membeli buku dengan harga murah.

Demikian liputan Komite.id sekitar  talkshow dengan Najwa,  sehingga sepertinya puzzle akan semakin jelas, kemana arahnya eDemokrasi, Media Politik, disrupsi Sosial Media yang sangat cepat dan massif. Jika berita Komite.id ini di analisa secara menyeluruh, semoga menjawab kearah mana Najwa akan berkiprah di tengah disrupsi dunia digital media (rrusdiah@yahoo.com)