Pesan Panglima TNI Gatot Nurmantyo Mengenai Nilai Luhur Pancasila

0
288

Jakarta, KomITe- Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memaparkan nilai luhur Pancasila kepada Perhimpunan INTI pada Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober di Jakarta International Expo, Kemayoran. Hadir pada acara ini sejumlah undangan perwakilan dari MUI, ICMI, PB NU, Masjid Istiqlal, anggota INTI, Tokoh Pendiri INTI dan masyarakat Tionghoa lainnya. Tema acara silaturahmi ini adalah ‘Dengan Kesaktian Pancasila Mewujudkan Indonesia Sebagai Bangsa Pemenang Melalui Peran Pengusaha Dalam Penguatan Ekonomi Nasional’.

Panglima TNI mengawali sambutannya dengan menjelaskan latar belakang geopolitik Indonesia, salah satunya gemah ripah loh jinawi. Pasalnya, hanya ada tiga lokasi didunia yang dapat ditanami vegetasi pangan sepanjang tahun di ekuator atau jarud chatulistiwa yaitu di negara dikawasan Asean, Amerika Selatan dan Afrika Utara.

Gatot menambahkan, negara-negara yang dimaksud ini bukan negara maju dan berpotensi konflik, seperti yang dipaparkan dalam peta konflik dunia, karena banyak dilirik dan diincar oleh negara maju, yang dahulu adalah negara kolonialis. Apalagi Indonesia masuk dalam ring of fire, dengan banyaknya gunung berapi, tanahnya semakin subur dan cocok untuk berbagai rempah dan tanaman pangan, meski banyak potensi gempa vulkanik dan kegiatan vulkanik.

“Itulah sebabnya 350 tahun lebih Indonesia dijajah hanya untuk menguasai rempah dan potensi sumber daya alam dengan cara mudah memecah belah antara kerajaan kerajaan yang tersebar di bumi nusantara atau dikenal dengan “divide et impera’,” ujarnya saat silatutahmi tersebut.

Panglima TNI mengutif teori Malthus, negative sums game, karena pertumbuhan jumlah manusia adalah deret ukur meningkat eksponensial, namun jumlah produksi pangan adalah deret hitung yang meningkat secara linier, sehingga suatu saat akan terjadi dimana pertumbuhan manusia juah lebih besar dari pertumbuhan pangan, dan dunia akan defisit pangan, dimana pada saat itu akan timbul krisis pangan.

Hal ini, kata Gatot, diperparah oleh kondisi dimana diprediksi ada 12,3 miliar penduduk dunia pada 2043, sekarang sekitar 7.5 miliar (2017) hampir meningkat dua kali lipat. Muncul pertanyaan, apakah produksi pangan bisa menyediakan supply sebesar itu ? Apalagi 9.8 miliar (80%)jiwa berada di non ekuator. Sedangkan di equator hanya 2.5 miliar (20%) jiwa minoritas dan terbatas sekali, sehingga ketimpangan ini dapat menjurus pada potensi konflik pertama dan krisis pangan dunia.

“Saat ini kapasitas penyanggah gaya hidup manusia modern yang sarat enerji dan pangan saat ini hanya 3 – 4 miliar, separuh dari jumlah penduduk 7.5 miliar, diperkirakan setiap hari 41 ribu anak meninggal atau 15 juta setahun karena faktor kemiskinan, kelaparan dan gizi serta kesehatan yang buruk,” tambah dia.

Menurut Gatot, krisis kedua adalah krisis energi dimana diperkirakan energi fosil akan habis 2056, Indonesia dari dahulu menjadi negara pengekspor minyak bumi dan anggota OPEC, sudah bebrapa tahun menjadi net importir minyak. Bayangkan jika energi terbarukan seperti solarcell; bioenergi; tenaga angin, nuklir dan geothermal tidak dapat menggantikan peranan energi fosil atau minyak dan gas bumi. Titik titik pada Peta konflik dunia terletak pada negara yang kaya energi minyak, apakah ini yang disebut the curse of oil atau kutukan oleh sumber daya minyak.

“Kadang kekayaan yang dianggap aset, menurut Presiden Soekarno dapat menjadi rebutan dan iri negara tetangga, bahkan menurut Presiden Joko Widodo, sumber daya alam bisa berpotensi menjadi petaka, karena incaran ketika terjadi krisis SDA dan bumi Nusantara sejak jaman penjajahan menjadi incaran dan rebutan banyak negara,” imbuh Gatot.

Berukut ini, paparan lengkap Panglima TNI agar masyarakat dapat memahami ancaman multi dimensi dan menyadari nilai nilai luhur Pancasila sebagai modal Indonesia menjadi Bangsa Pemenang di Hari Kesaktian Pancasila

Seperti diketahui, dewasa ini negara maju sering menjalankan teori hegemoni dengan memunculkan kekuatan dunia (hegemoni) unipolar, bi polar diantara mereka memanfaatkan kultur modern global untuk mempertahankan hegemoni mereka dengan menyebarkan nilai global seperti: (1) demokratisasi; (2)Hak Asasi Manusia; (3) Globalisasi dan Pasar Global; (4) Keterbukaan/transparansi dan (5) pluralisme.

Padahal Pancasila adalah tradisi & kearifan lokal yang kita miliki sudah lama mengajarkan HAM; Keterbukaan; Demokrasi dan Pluralisme; bahkan ditambah Ketuahan Yang Maha Esa, yang ingin diganti dengan model nilai kultur global hegemoni yang sarat dengan kepentingan untuk menguasai negara lain melalui nilai global. Keterangan diatas adalah potensi Weakness (kelemahan) dalam SWOT analyse, sedangkan potensi ancaman antara lain: (1) Narkoba; (2) Terorisme; dan (3) Hoax di Social Media. Narkoba terbukti pernah dimanfaatkan oleh Ingris untuk menjajah Tiongkok pada era Perang Candu 1839-1860, dimana masyarakat dan Tentara Tiongkok dirusak dengan candu; sehingga akhirnya Kaisar Tiongkok menyerah dan menyerahkan Hongkong; Taiwan dan Macau kepada Ingris dan Perancis.

Data menyebutkan, bahwa saat ini ditenggarai 2% penduduk RI (sekitar 5.1 juta menggunakan narkoba dan 15.000 meninggal setiap tahun. Data Penyitaan Shabu oleh BNN dan PolRI sungguh mengerikan: (2013): 542.6 kg narkotika disita; (2014) 1.1 Ton; (2015) 4.5 Ton dan 2016 meningkat menjadi 250 ton Shabu/ Narkoba ditenggarai masuk Indonesia. Bayangkan, bandar narkoba sudah merasuk ke generasi muda milenial, karena gaya hidup orang tua yang berubah dengan adanya teknologi gadget dan lebih menyerahkan anaknya kepada pembantu; sehingga kontrol orang tua terhadap anak semakin kurang. Pendidikan agama dan budipekerti tidak lagi diajarkan di sekolah. Pencegahan hanya dapat dilakukan dengan mengembalikan kontrol orang tua dan mempertahankan pendidikan agama , budi pekerti dan Pancasila sejak dini, sehingga sejak dini generasi milenial diajarkan untuk mencintai sesama, budi pekerti, keadilan dan menerapkan sila Pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tengok saja, perang asimetris melalui sosial media sudah terjadi, bahkan menimpa pemilihan Presiden AS (Amerika Serikat) antara Donald Trump dan Hillary Clinton yang sarat dengan hoax dan populism untuk menyebarkan kebencian dan mengkotak kotakan masyarakat dengan sosial media dari sebuah negara AS, demokrasi tertua 400 tahun lebih. Ditenggarai negara musuh besarnya bermain menggunakan proxy membela salah satu calon Capres yang semestinya unggul tapi akhirnya jatuh karena strategi populisme pihak lawan.

Dalam kaitan ini, di sosial media ada fenomena dimana yang dijajah merasa tidak dijajah bahkan rela memberikan data pribadi, penetrasi hingga ke dalam rumah, bahkan dana kepada penjajah. Perpecahan dengan faham populisme dan tribalisme dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa pada saat pilcagub DKI yang berakibatkan fatal bagi salah satu calon yang semestinya unggul. Dengan poulisme Medsos dapat menjadi sarana profokasi dan penyebaran kebencian dan pertentangan,

Jika menengok sejarah dunia negara modern, maka Negara Pecah dan Hancur dapat disebabkan oleh: (1) masalah Bahasa dan Agama misalnya perpecahan di negara Yugoslavia (1999); (2) Etnis/Suku dan Agama yang menghancrukan Suriah dan memecah belah Irak (2004); (3) Ekonomi dan Agama dimana Uni Soviet, negara raksasa terpecah setelah 1991 menjadi 15 negara bagian.

Belum lagi, perang melawan Terorisme dan Kebencian melalui Sosial Media hanya dapat dipatahkan dengan Panca sila dan Bhineka Tunggal Ika; dimana Ketuhanan Yang Maha Esa adalah milik agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu tanpa mempertentangkan perbedaan antar agama, bahasa ataupun suku dengan Bhineka Tunggal Ika. Bahkan perbedaan dapat menjadikan Indonesia menjadi lebih beragam budaya; besar; kuat dan bersatu. Dari pelajaran diatas, maka pertanyaan, mengapa NKRI berhasil mempertahankan persatuan dan kesatuan selama 72 tahun adalah berkat Kesaktian dari Pancasila; Bhineka Tunggal Ika, padahal NKRi mempunyai banyak perbedaan dari Suku/Etnis; Agama; Warna Kulit; Bahasa; Letak Geografis yang tersebar dari Sabang hingga Merauke; Adat istiadat serta kesenjangan ekonomi.

Sebagai perbandingan, banyak negara yang disebut diatas seperti Afghanistan; Irak; Syria; Rusia pecah karena memiliki hanya puluhan bahasa lokal dan suku bangsa. Padahal Indonesia adalah negara yang sangat besar. Bayangkan : NKRI sebagai negara archipelago dengan 17,000 pulau terbanyak didunia dan garis pantai terpanjang nomor 2 didunia, serta majoritas teritorinya adalah laut sebesar 5.8 juta km. NKRI adalah negara dengan 34 propinsi, 1100 bahasa lokal dan 714 suku bangsa, dipersatukan dengan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.

Apalagi, selama 350 tahun lebih bumi Nusantara dijajah dengan menggunakan teori divide et impera dan kolonialisme (sekarang imperialisme dan hegemoni), namun setelah Soekarno mempersatukan Indonesia dengan UUD 1945, Pancasila dan Bhineka Tunggal ika, sejak itu penjajah Belanda harus angkat kaki dari bumi Nusantara dan Indonesia menjadi negara kesatuan Republik Indonesia, yang merdeka dengan ekonomi dan demokrasi Pancasila. Indonesia dapat bersatu dan dipersatukan dalam wadah NKRI oleh Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika menjadi negara yang subur, aman dan kaya SDA nya selama lebih dari 72 tahun merdeka.

Nah, melihat banyaknya ancaman dan kelemahan baik global dan dari dalam negeri, itulah sebabnya Generasi muda kita harus dapat mengamalkan dan menegakkan nilai nilai luhur Pancasila untuk mewujudkan Indonesia sebagai NKRI dan Bangsa Pemenang, yang berdaya saing memasuki era Globalisasi, disrupsi digital dan dunia Cyberspace tanpa batas ruang dan waktu. (rrusdiah@yahoo.com).