PT INTI Menang Tender Mesin Sensor Internet Kominfo, Manfaatkan Kearifan Lokal

0
164

Jakarta, KomIT- PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) memenangkan tender pengadaan Peralatan dan Mesin Sistem Monitoring dan Perangkat Pengendali Situs Internet Bermuatan Negatif alias mesin sensor internet.”Pemenang tender perangkat pengendali situs internet bermuatan negatif adalah PT INTI,” kata Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, Senin (9/10).

Dikatakan Semuel, Pada 6 Oktober, BUMN tersebut  dinyatakan sebagai pemenang, dan saat ini berlangsung masa sanggah. Pengadaan barang ini dibiayai dengan metode Lumpsum atau turnkey project. Adapun harga penawaran yang diajukan PT INTI adalah Rp 198 miliar dengan harga terkoreksi Rp 194 miliar.Pengadaan mesin penyensoran ini sesuai dengan upaya pemerintah dalam melakukan penanganan konten negatif di internet yang terdapat pada UU 19/2016 Tentang Perubahan UU 11/2008 Informasi dan Transaksi Elektronik.

Data dari Komite.id menyebutkan, bahwa PT INTI menggunakan produksi dalam negeri dan tenaga ahli dari  pelbagai perguruan tinggi ternama  di Indonesia, antara lain ITB, UI dan lain sebagainya sehingga memiliki peluang harga yang lebih kompetitif. Selain itu, sistem atau alat  yang ditawarkan oleh PT INTI menjadi lebih aman dan menjaga kedaulatan negara karena menggunakan semua komponen lokal.

PT INTI  berhasil mengalahkan 71 peserta yang mengikuti lelang dengan  metode prakualifikasi tersebut.  Kementerian Kominfo  menilai PT INTI  telah memenuhi syarat kualifikasi, baik secara administrasi dan teknis. “Jika semua proses lancar, penandatanganan kontrak akan dilangsungkan pada 12 Oktober mendatang dan instalasi alat paling lambat akhir Desember 2017,” tambahnya.

Berdasarkan pengamatan Komite.id, PT INTI memiliki keunggulan kompetitif karena kebanyakan pesaingnya menggunakan produk impor. Tak hanya itu, PT INTI juga menggunakan  kearifan lokal  dalam  memberikan solusi mengingat bahasa yang akan di sensor majoritas menggunakan bahasa Indonesia dan 1100 dialek/bahasa lokal. Apalagi Indonesia negara kepulauan yang   memiliki 718 suku bangsa.

Semuel menambahkan, alat pengendali internet di Tanah Air bakal memakai sistem crawling. “Crawling adalah sistem yang digunakan secara jamak di Indonesia. Analisa media sosial pun mekanismenya crawling,” terangnya.   Diharapkan nantinya mesin sensor internet ini  bisa melakukan pencarian konten-konten negatif di internet secara otomatis berdasar kriteria yang telah ditetapkan.

Lebih lanjut dikatakan, crawling berfungsi mengambil semua konten hasil pelaporan masyarakat melalui situs pengaduan di situs Trust Positif. Konten-konten itu dibuka dan dianalisa oleh mesin, sehingga lebih efektif dan efisien waktu. “Selama ini crawling kami lakukan secara manual. Banyak waktu yang terbuang,” ujarnya.

Semuel mengklaim mesin dengan sistem crawling ini bisa menumpas konten-konten negatif dengan sangat cepat dalam waktu singkat. Kendati begitu, ia tak menjabarkan lebih lanjut persentase peningkatan kecepatan dari mekanisme manual ke mesin. “Kalau bisa 30 juta konten pornografi yang ada langsung cepat diblokir semua,” sambungnya.

Seperti  diketahui, Kementerian Kominfo telah membuka lelang pengadaan mesin sensor internet ini sejak 30 Agustus 2017 lalu. Lelang diikuti oleh perusahaan-perusahaan teknologi informasi (TI) seperti Telkom, Infomedia Nusantara, LEN Industri, Astra Graphia Technology, Sigma Cipta Caraka, dan Samafitro.

Tender e-sensor sebagai upaya untuk terus mengembangkan infrastruktur TIK. Hal ini sejalan dengan upaya pengembangan ekonomi digital Indonesia yang memiliki beberapa isu penting pada peta e-commerce seperti sumber daya manusia, funding, perlindungan konsumen, pajak, logistik, keamanan cyber, payment, dan infrastruktur TIK. (rrusdiah@yahoo.com)