Rapat Pleno Ristekdikti & Pemrov Riau Bahas Hakteknas ke-23

0
123

Jakarta, KomITe- Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti), Jumain Appe, menggelar rapat pleno panitia nasional Hakteknas di Ruang Rapat Melati Kantor Gubernur Riau. Rapat pleno tersebut menindklanjuti penunjukkan Provinsi Riau sebagai tuan rumah Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23, digelar di Pekanbaru, awal Agustus mendatang

Rapat yang dihadiri Kepala Subdit Kemitraan Strategi dan Wahana Inovasi yang juga wakil Ketua Harian dalam kepanitiaan Hakteknas, Kamsol, juga Sekdaprov Riau Ahmad Hijazi dengan jumlah peserta sebanyak 150 orang tersebut dimanfaatkan untuk melakukan supervisi dan memantau progres dan kesiapan berbagai kegiatan panitia terkait dengan rangkaian kegiatan, pembagian tugas panitia pusat dan daerah, kelengkapan sarana dan prasarana lokasi pusat pelaksanaan hari puncak Hakteknas ke-23.

Event nasional yang rencananya dibuka Presiden RI Joko Widodo, merupakan pertama digelar di Sumatera setelah sebelumnya dilaksanakan di Pulau Jawa. Riau dinilai Kemenristekdikti telah mampu dan sukses mengembangkan inovasi di daerah. Kegiatan Hakteknas pad 10 Agustus 2018 ini, akan ada hal yang baru dan membuat dampak yang positif untuk masyarakat dalam menumbuhkan usaha-usaha. Tentunya, hal ini perlu dilakukan agar perkembangan ekonomi lebih bergairah, melalui inovasi inovasi yang dihasilkan.

“Kita harapkan kehadiran presiden, agar nanti bisa memberikan arahan komitmen tentang perkembangan inovasi nasional. Peringatan Hakteknas sekaligus sebagai wahana promosi produk hasil inovasi berbasis potensi kearifan lokal,” kata Jumain, (30/4). Untuk tema peringatan Hakteknas Ke-23 tahun ini yakni “Inovasi untuk Kemandirian Pangan dan Energi dan sub tema: Sektor Pangan dan Energi di Era Revolusi Industri 4.0. Melalui adanya inovasi di daerah diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat yang semakin maju dan baik. Karena inovasi menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan global.

Lebih lanjut Jumain Appe, Hakteknas dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya iptek dan inovasi dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam membangun kolaborasi, maupun sinergi peran dan fungsi berbagai stakeholder (ABG+C) sebagai strategi implementasi kebijakan pemerintah berkenaan dengan hilirisasi dan komersialisasi hasil riset perguruan tinggi/lembaga litbang.

Jumain Appe menambahkan, ada tiga hal harus dilakukan jika masyarakat agar bisa bersaing di era globali seperti sekarang ini. Pertama, kita harus kreatif dalam menciptakan sesuatu, baik teknologi atau yang lainnya dari masyarakat. Kedua adalah masyarakat harus berinovasi untuk merubah sesuatu menjadi yang lebih baik. Dia berpendapat, jika tidak melakukan perubahan maka penindasan yang terjadi. Ketiga harus ada jiwa entrepreneur.

“Kita harus menjadikan suatu usaha yang bisa mandiri agar tidak selaku bergantung. Kita harus memberi dan ini yang harus dibangkitkan dengan melihat apa yang pernah kita lakukan. Seperti misalnya dulu Indonesia bisa membuat pesawat. Maka dari itu, generasi penerus harus ditegaskannya agar bisa membuat hal yang lebih baru, lebih baik dan melakukan inovasi baru.

Lebih jauh diterangkan Kamsol, Hakteknas merupakan salah satu hari bersejarah nasional yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus berdasarkan Kepres No. 71/1995. Akar sejarah kebangkitan teknologi nasional sendiri, menurutnya berawal dari keberhasilan penerbangan perdana pesawat N-250 GATOTKACA pada tanggal 10 Agustus 1995 di Bandung. Hasil karya anak bangsa ini menjadi bukti nyata bahwa sejak dua dekade yang lalu, bangsa kita telah mampu mengembangkan jiwa Iptek yang inovatif sejajar dengan bangsa maju lainnya. (Red)