Rohit Talwar, Kiat How, Han Yu & Foxconn: Menerawang Transformasi AI, IOT & Big Data

0
179
Rohit Talwar, Futurist bersama Rudi Rusdiah di CommunicAsia 2017 singapore.

Jakarta, KomITe.ID – Rohit Talwar, futurist London pada session keynote di CommunicAsia 2017 yang fokus pada AI, pernah berujar, “Sulit meramal masa depan. Jika demikian bagaimana manusia dapat mempersiapkan masa depan dan beradaptasi terhadap masifnya transformasi teknologi dengan mempelajari semua kemungkinan scenario perubahan yang akan terjadi, agar kita tidak terdisrupsi dan tertinggal.”

Sering kali kita hanya memikirkan perkembangan teknologi, lupa aspek manusia, sehingga teknologi dapat menjadi ancaman, karena tidak memiliki etika dan perasaan. AI adalah area dari Ilmu Komputer yang focus untuk menciptakan mesin pintar yang bekerja dan bereaksi seperti manusia. Misalnya Speech Recognition, Persepsi Visual, belajar, berpikir (reasoning), membuat strategi, planning, keputusan dan menerjemah bahasa dll. Jadi banyak bentuk dari AI kedepan yang juga akan embedded di Smartphone kita dan AI akan medisrupsi smartphone seperti halnya smartphone mendisrupsi feature phone dan PC.

Rene Haas – President IP Group ARM, saat keynote speech di CommunicAsia 2017

AI (IArtificial Intelligent)
AI akan memiliki banyak rupa dan bentuk dari machine learning, memproses image/text/suara/hand writing, bahasa dan recognition, sampai ke deteksi threat/fraud, otomasi robotik di manufacturing, kedokteran hingga autonomous/telematics mobil dll. Banyak yang khawatir AI dan robot mengancam akan menggantikan pekerjaan manusia, ujar Rohit.

Menurut Rene, President ARM di Computex, AI akan masuk pada industry Smarthome Assistance (Appliances/TV), Autonomous Vechiles, Intelligence Surveillance dan Robotics/Manufacturing. Namun jika kita dapat memahami kekuatan (force) yang dapat merubah masa depan, maka kita dapat menyiapkan dan adaptasi sebagai individu, bisnis bahkan negara dan bangsa. Dari pengalaman yang ada misalnya Internet dan IT bukan menggantikan pekerjaan manusia, namun malah banyak industry dan perusahaan baru seperti Google, AirBnB, Facebook berbasis data dan IT yang tidak ada dua decade yang lalu, malahan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan saat ini.

Jadi manusia tidak perlu khawatir dengan AI, namun jangan pasrah karena siapa yang tidak dapat mempelajari kemungkinan scenario yang akan datang, pasti akan terdisrupsi, apakah itu individu manusia, perusahaan yang bankrupt, karena terdisrupsi dan tidak dapat melakukan transformasi atau adaptasi, misalnya Negara menjadi tertinggal, semoga tidak menjadi lost generation. Di dunia politik dengan AI kita tidak perlu lagi terlalu menyimak kampanye seorang politikus, bahkan secara real time dan instant dapat mengetahui apakah politikus tersebut berbicara jujur atau bohong dengan AI, dulu dengan lie detector, karena dilengkapi Big Data Analytics dan AI dimasa mendatang secara real time ujar Rohit.

Menurut Gerd Leonhard tahun lalu, seseorang berbahasa Indonesia dapat berkomunikasi langsung dengan mitranya menggunakan bahasa Mandarin dengan masing-masing membawa gadget penterjemah smart AI device. Teknologi storage berkembang sangat pesat, dimana informasi dari jutaan buku dapat disimpan dalam setetes air, artinya seluruh Internet dapat disimpan dalam sebuah botol besar.  Ditambah mesin yang selalu belajar dan adaptasi, cikal bakal machine learning AI misalnya dalam dunia perbankan akan berubah menjadi always on industry jasa perbankan yang di drive oleh algorithm dari AI sebagai mesin nya dan data sebagai bahan bakunya (algorithm led business), menurut Rohit Talwar futurist di CommunicAsia 2017.

Raksasa Pencari di Cyber Baidu dari Tiongkok tentu juga tidak ketinggalan perang AI antara mesin pencari Google Deepmind’s Alpha Go dengan Chinese Go Master Ke jie menjadi pemicu. Baidu menguasai 75% pasar Search Engine market Tiongkok dengan 700 juta pemakai dan mobile apps Baidu ranking nomor 7 dengan 244.3 active mobile user (2017), sisanya pemain Search engine di Tiongkok seperti Sogou dan Qihoo 360. Sehingga tentu seperti Google dengan kapasitas Big Data yang besar harus memanfaatkan AI di Baidu Cloud menurut Yin Shi Ming VP Baidu Cloud Computing di Shenzhen (South China MP:29/5). 30,000 enterpreneur memanfaatkan Baidu Cloud dan Industri Clouds di China akan tumbuh menjadi HK$ 489 miliar (2019) dari HK$150 miliar (2015), menurut Kementrian Industri dan IT, Tiongkok. Saat ini 70% market strategic decision sudah based on big data analytics dan AI, dimana penggunaan AI secara komersial, termasuk perception, machine learning & deep learning. diluncurkan November 2016 di Beijing.

Menurut Chin Han Yu CEO Appier di Keynote AI, Computex, Taipei pertumbuhan Global AI dan Robotics CAGR naik 50.51% periode 2017-2021, dimana pada 2025 mencapai omset pasar global sebesar $ 50 Triliun (atau Rp 600,000 Triliun). Evolusi AI dari pengembangan Logic systems sebelum 1980; menuju Expert Systems 1980-1995; kemudian human generate feature machine (1995-sekarang) dan machine dan deep learning (2011-).

Menurut Mike Yang, President Quanta Computer Inc. Taiwan, dunia akan kebanjiran data pada 2020, karena Internet user akan menghasilkan data trafik rata-rata 1.5 GB per hari; Smart Hospital produksi rata rata 3,000 GB per hari; Self Driving Car produksi 4,000 GB perhari; Sebuah pesawat memproduksi 40,000 GB per hari dan sebuah Smart Factory 1 juta GB per hari.

Kenapa saat ini menjadi momentum perkembangan AI? Label Data yang meningkat drastic hingga 114.7 Yottabyte (2020); Peningkatan kemampuan GPU (grafis) dan CPU untuk komputasi yang semakin canggih dengan teknologi Hadoop yang memungkinkan cluster ratusan node atau computer; Algorithms yang semakin canggih dan Komunitas Mindset yang siap menerima perkembangan AI.

Ekonomi dunia $ 78 triliun (2017) akan berkembang menjadi ekonomi opportunity $120 triliun (2025) penuh dengan kesempatan dan bisnis baru yang saat ini tidak dapat kita prediksi, bayangkan karena belum lahir hari ini. Jadi ke depan akan makin banyak kesempatan dari pada yang kita khawatirkan menurut Rohit.

Banyak yang dapat kita persiapkan dengan mempelajari berbagai kemungkinan scenario agar kita tidak terkaget dan terlena dimasa mendatang dan bukan terdisrupsi, namun malahan mendisrupsi, alias tidak shock terhadap masa depan dan selalu optimis. Demikian sharing informasi mengenai masa depan AI dari berbagai sumber mulai dari futurist AI Rohit di CommunicAsia 2017, Singapura hingga ahli AI Han Yu di Computex 2017 Taipei.

Fang Ming Lu-VP FoxConn, saat keynote speech di CommunicAsia 2017

Smart Manufacturing – Out-Light/Dark Factory di era Big Data
Bagaimana pandangan Fang Ming lu, VP FoxConn tentang smart Factory saat ini? Menurut Fang Ming, dunia berubah cepat: 7 miliar manusia connected (IOH), 30 miliar IOT, 46% M2M Connections melahap 44 ZB Data. Economic Value dari IOT Total adalah $ 11 Triliun dimana terbesar adalah pemakain IOT di Manufacture $ 3.7 Trilun, Infrastructure $ 1.7 Triliun, Healthcare $1.6 Triliun, Retail $1.2 Trilun, Logistic $0.9 Triliun.

Fang berbicara mengenai Industry 4.0 dimana Advanced Teknologi convergence antara dunia cyber dan Physical World. Ekosistem IOT dari layer Aplikasi, Platform Big Data, AI, Clouds hingga Sensor IOT dan layer fisik dari Infrastruktur Manufacturing. Yang sudah lalu adalah Manufacturing 2.5 dimana labor intensive dan Electrical Control serta IT. Saat ini adalah Manufacturing 3.5 memanfaatkan Automation dan ke depan Manufacturing 4.0 memanfaatkan Big Data Predictive Analytics, AI memanfaatkan robot.

Keywords Manufacturing 4.0 adalah Clouds Computing, Mobile Devices, IOT, Big Data, AI, Network dan Robotics dimana pada Manufacturing 4.0 disebut Out Light Production atau Dark Factory karena tidak perlu lampu penerangan, terkunci dan sunyi senyap suara manusia, karena yang bekerja bukan lagi manusia tapi robot. Tidak perlu lagi satpam security mengawasi pekerja pabrik, karena yang dibutuhkan adalah data security mengawasi robot, clouds dan trafik data. Apakah ini alasan Foxconn menunda masuk ke Indonesia, karena visi Manufacturing 4.0 nya?

IOT (Internet of Thing) + IOH (Internet of Human) = IOE (Internet of Everything)
Data akan berkembang semakin cepat menjadi 114.7 Yottabyte oleh 50 miliar connected IOT device (2020) dari 28.4 milyar (2017) menurut Christopher Bergey, Western Digital di Computex 2017, Taipei. IOH adalah jumlah koneksi Internet oleh manusia saat ini dan IOT adalah jumlah koneksi oleh gadget dikenal juga dengan komunikasi M2M (Machine to Machine).

Menurut Rene Haas, President IP Group, ARM aka nada 275 Miliar connected device (2035).  Hingga 2013 ARM sudah produksi 50 miliar chips, 100 miliar (2013- 2017) dan diprojeksi 200 miliar (2017-2021) untuk berbagai macam gadget termasuk IOT Pertanyaan Bergey, bagaimana raw (label) data dari 50 Miliar sensor IOT di captured, compress dan disimpan oleh Edge Computing, untuk kemudian dikirim ke core computing di clouds yang terdisribusi dekat edge atau end point untuk diproses oleh Big Data dan AI menjadi context metadata yang kemudian menjadi insight?

Menurut MediaTech (2016), Top IoT Prospek Aplikasi adalah Transportasi (Tracker), Metering, Health Care, Payment/Point of Sales, Security, Industrial Computing dan Remote Maintenance & Control, Personal Assistance, Business Tools, Wearable/Fitness Trackers.

Lilee Systems dari Taiwan sukses membantu Freight Railroad jalur kereta api di AS dengan membangun Clouds Based Centralized Management Control Center mengatur 24,000 aset perusahaan Kereta Api barang AS seharga $ 20 miliar. Salah satunya, Valley Metro LRT memiliki 40 km double track melayani 12,000 penumpang. Atas perintah Presiden Bush pada Oktober 16, 2017 setelah terjadi kecelakaan antara kereta penumpang Metrolink dan kereta barang Union Pacific menyebabkan kematian 25 orang agar perusahaan Kereta Api AS mengimplementasi Positive Train Control (PTC) atau teknologi IOT sensor dan Big data Analytics untuk menghindari musibah dikemudian hari. Sistem PTC ini selain untuk menghindari musibah juga membantu menghemat $ 3 Miliar pertahun biaya bahan bakar atau 6-10%.

Pameran IOT Asia mengulas standar bi direction komunikasidari IOT seperti LoRaWan (Low Range, Lo Power) alliance bagi miliaran narrow band device IOT yang berkeliaran di dunia. Security aspek dari LoraWan dengan data encription AES 128 dan authentications Device geolocation pakai GPS free menggunakan aplikasi tracking dengan power rendah. LoRa menggunakan ISM unlicensed radio spectrum seperti Wifi. Kompetitor dari LoRaWan adalah sigfox dan NB-IOT yang diprakarsai oleh 3GPP mobile network (Huawei/Vodafone & Ericson/Nokia/Intel). Dari sisi harga Radio module Sigfox $5, LoRa $10 dan NB-IOT $12.

Tan Kian Hong, IMDA, Singapura fokus pada AI, 5G & Cyber Security
Menurut moderator Gary Kim, founder Spectrum Futures, Singapore ketika membuka keynote Tan Kian Hong dan Rohit sebagai panelist di CommunicAsia, bahwa Industri Telekomunikasi 4G maupun Smartphone di Singapura berada diambang sunset, pada fase maturity dan jenuh. Ditandai mulai menurunnya margin penjualan voice traffic, sms/text messaging untuk 3G dan 4G. Bahkan sekarang penjualan broadband 4G yang sukses dimasa lalu, namun saat ini sulit untuk dapat meningkatkan revenue dan opportunity dengan 4G seperti masa silam, meski sudah melakukan penambahan infrasturktur, bandwidth. Oleh karena itu harapannya adalah dengan transformasi bisnis model 5G dan menerawang scenario aplikasi AI & IOT yang dipaparkan para futurist Rohit dan Kian Hong.

Menurut Tan Kian Hong, CEO IMDA, Singapore regulator TIk dan Media pada paparan dengan judul “Connecting the Future”, bahwa saat ini dengan Asean Community, Singapore berada pada momentum dan geopolitic yang paling menarik yaitu di tengah perekonomian Asean tumbuh pesat, dengan penduduk 644 juta jiwa, jumlah pelanggan seluler 854 juta melebihi populasinya, 305 juta aktif pengguna sosmed meningkat 47%. Dimana dengan roadmap jangka panjang, Singapura beradaptasi dengan program National IT Plan (1886), IT 2000 dan Infocom 21 (2000), Intelligent Nation (2015) dan Infocom Media Master plan 2025 untuk menjadikan Singapura menjadi Digital Smart Nation, Digital Business, Empowering SME dan Connected Citizen atau penduduknya ujar Tan Kian Hong pada keynote berjudul ‘Connecting the Future Now’. Upaya digitalisasi Ekonomi Singapura mempetakan transformasi 23 industri disektor Manufacturing, Environment, Trade dan Connectivity, Lifestyle Masyarakatnya melalui ICT dan Media. Bagaimana SME Go Digital meningkat dalam value chainnya. Memanfaatkan Artificial Intelligence pada 4 key technology yaitu Immerse Media, AI & Data Science, Cyber Security dan IOT serta infrastruktur komunikasi masa depan. IMDA Singapura memberikan dana funding sebesar $150 juta (Rp 1.5 Triliun) selama 5 tahun untuk kombinasi AI, Big Data dan Data Science, serta data sebagai sumber daya strategis masa depan. Singapore juga menaruh perhatian sangat besar terhadap Cyber Security karena Singapura ingin menjadi Digital Hub, Ecommerce Hub, Financial Hub dan Logistik Hub yang semuanya tergantung pada teknologi IT (critical infrastructure), sehingga Cybersecurity menjadi strategis dan IT sebagai critical infrastruktur. Menghubungkan Everything, Everywhere dan Everytime dengan IOT dan Infrastruktur connectivity masa depan. Singapore mempersiapkan Future Ready ICT Infrastructure yang resilient (tahan banting), High Accuracy, Big Data, Real time dan yang penting Secure dan Trusted dibidang Logistik, Transportasi, Kesehatan, Finance, Retail, Energy, Manufacturing dll.

Menurut Shannedy Ong, Country Director Qualcomm Indonesia di acara Snapdragon Tech Day, Singapura, bahwa penjualan smartphone di RI mencapai 35 juta unit, diluar feature phone 2G melalui produsen ODM seperti Xiaomi, Lenovo, Asus, Vivo, HTC dan Sony. Pada 2020 jumlah perangkat smartphone 3G dan 4G di Asean diprediksi menembus 730 juta meningkat dibandingkan 450 juta unit (2017). Pasar RI masih focus pada 4G mencapai 60-70% penjualan menggantikan 2G yang sudah sunset dan menurun, sedangkan 3G stagnant dan juga sunset. *(rudi.rusdiah@gmail.com)