Menuju Giant Dream 2020 & 100 Juta Penumpang Smart Airport

0
115
Muhammad Awaluddin, Direktur Utama AP II

Jakarta, KomITe.ID – Angkasa Pura II turut menyukseskan event akbar ASIAN Games dengan spirit kerja 3S (Solid-Speed-Simplify) dalam mengelola bandara udara strategis dari Banda Aceh hingga Banyuwangi, khususnya bandara internasional Palembang Sultan Badaruddin II dan bandara internasional Jakarta Soeta (Soekarno Hatta) yang banyak menerima tamu dan atlet dari manca negara dan Asia.

Diperkirakan 105 juta penumpang akan dilayani oleh bendadra-bendara AP II, dimana lebih dari 50%nya terlaksana melalui Bandara Soeta. Sebagai bandara Internasional, Soeta dan Badaruddin, memiliki peran strategis menjadi gateway turis dan atlet yang ingin menyaksikan dan berjuang di pesta ASIAN Games dan akan menjadi Windows of Asian Games ke 18, serta pintu gerbang negara Republik Indonesia.

Spirit Energy of Asia, mengalihkan perhatian dan semua mata pada pesta akbar Asian Games dan membuat Indonesia menjadi tujuan wisata Asia. AP II juga menjadi official Supplier for Internasional Airport dari ASIAN GAMES 2018, yang dikoordinasikan oleh INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee).

Mungkin banyak di antara para tamu yang ingin melihat acara Opening dan Closing Ceremony Asian Games dan ratusan atlet yang mengikuti pertandingan ASIAN Games bersama pendukungnya, baru pertama kali berkunjung ke Indonesia. Artinya pertama kali menginjakkan kakinya alias first encounter, moment yang amat menentukan adalah di kedua fasilitas bandara AP II, Soeta dan Badaruddin.

Berbagai pertandingan akan berlangsung di Jakarta dan Palembang hingga closing ceremonynya. Akan hadir 150,000 penonton dan 20,000 official atlet memberikan dampak ekonomi langsung dari Asean Games ke 18 ini Rp 3 Triliun, namun Bappenas memperkirakan dampak keseluruhan pendapatan bisa mencapai Rp 45,1 Triliun yang akan dinikmati secara tidak langsung oleh hotel, transportasi, restoran, media, toko dan UKM Indonesia.

15 Bandara AP II: Aceh hingga Banyuwangi
Bandara bandara internasional yang dikelola AP II sangat strategis untuk meningkatkan devisa dan turis global, karena target kunjungan wisman (wisata manca negara) yang ditetapkan 17 juta (2018), dimana lebih kurang 15 juta wisman yang berkunjung ke Indonesia (2017). Menurut data BPS wisman yang masuk melalui Bandara International Ngurah Rai Bali kuartal I/2018 mencapai 3,08 juta sedangkan yang ke bandara Soeta 1.78 juta. Sebagai perbandingan turis yang berkunjung ke Asean sebanyak 125 juta wisman, sedangkan Thailand dikunjungi oleh 35 juta wisman (2017), artinya Indonesia masih harus banyak berjuang untuk dapat mengejar Thailand.

Di acara Sidang Komisi bersama Indonesia-Thailand, Menlu RI Retno Marsudi bersama dengan Menlu Thailand Don Pramudwinai mendorong program Two Countries One Destination, Indonesia dan Thailand, untuk meningkatkan wisman yang berkunjug ke Thailand kemudian juga singgah di Indonesia dan tentu Bandara dan penerbangan seperti Garuda, Lion serta hotel hotel memegang peranan penting meningkatkan pendapatan devisa dari Wisman.

Jumlah penumpang pesawat di Indonesia rute domestik 96,9 juta dan rute Internasional 12,4 juta, total 109,3 juta penumpang (2017). Sumbangan devisa pada sektor Pariwisata USD 16,8 miliar (Rp 200 Triliun lebih) pada 2017 dan diproyeksikan meningkat hingga USD 20 miliar (2018).

Ranking kunjungan Wisman ke Indonesia didominasi oleh Tiongkok 3 juta wisman; Singapura 1.7 juta wisman; Malaysia 1.5 juta dan Australia 1.35 juta wisman. Sebagai informasi dari data UNWTO (2017) pengeluaran paling besar dikeluarkan oleh turis dari Tiongkok USD 258 miliar; AS USD 135 miliar; Jerman USD 84 miliar; UK USD 63 miliar dan Perancis USD 41 miliar.

Index Daya saing RI menduduki posisi 42 dari 136 negara diatas posisi Vietnam (67); Filipina (79); Laos (94) dan Kamboja (101). Rangking peta potensi pariwisata di Tanah Air adalah Danau Toba (Sumatra Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT) dengan semboyan Wonderful Indonesia.

Terminal 3 Soekarno-Hatta Airport (Dok. Photo AP 2)

Bandara SOETA (SOEKARNO HATTA)
Soeta pertama dibangun 34 tahun yang lalu (1984). Hingga (2017), penumpang yang tiba dan berangkat dari Bandara Soeta berjumlah 63 juta orang (domestik 77%), padahal kapasitas bandara hanya 43 juta orang, setelah beroperasinya Terminal 3 November 2017.

Sebelumnya, kapasitas Soeta hanya 22 juta penumpang. Contohnya Terminal 1 hanya bisa menampung 9 juta penumpang, namun saat peak harus melayani 24 juta penumpang sehingga terjadi backlock capacity dan overcrowded airport, demikian juga dengan terminal 2 dan 3.

Sebaran penumpang Terminal 1 sebanyak 19 juta orang, Terminal 2 sebanyak 15 juta dan 12 juta penumpang Terminal 3 (2017) dengan pertumbuhan jumlah penumpang di Bandara Soeta sebesar 9%, tertinggi di Asia Pasifik. Untungnya di Jakarta juga terdapat bandara Halim Perdanakusuma yang dapat membantu menampung 7 juta penumpang (2017).

Penumpang pesawat yang datang dan pergi di Bandara Soeta sudah melampaui jumlah populasi di wilayah Jabodetabek sekitar 50 juta orang, sedangkan populasi Jakarta sekitar 10 juta orang lebih.

Statistik jumlah penumpang per hari tercatat 172,656 dimana 51% berangkat. Pergerakan penumpang tertinggi oleh Garuda Indonesia 8,62 juta dengan 139 ribu pesawat, Lion 7,5 juta dengan 84,3 ribu pesawat, Batik, Citilink, Sriwijaya, Singapore Airlines (2016). Jumlah penumpang tertinggi sebanyak 208 ribu penumpang per hari (2017).

Bandara Soeta menerima anugerah The World Most Improved Airport di Schiphol Airport, Belanda dari Skytrax, sebuah perusahaan konsultan Inggris, karena posisi Soeta meningkat tajam dari posisi 63 (2016) ke posisi 44 (2017).

Kini Soeta memiliki landasan pacu 3.660 x 60m x 2 dikunjungi oleh 61 maskapai penerbangan dengan 92 tujuan di 47 negara. Pergerakan 72 pesawat per jam, 1.228 pesawat per hari dan 331 ribu per tahun.

Di tahun 2018 ini, ada beberapa investasi pengembangan usaha AP II di Bandara Soeta seperti:

  • Revitalisasi Terminal 1 dan 2.
  • Pembangunan (relokasi) Cargo Village dan Pembangunan Gudang Aero Plex.
  • Pembangunan Runway 3.
  • Pengembangan Integrated Building Terminal 1 & 2 dan Akuisisi Perusahaan Parkir.
  • Pengembangan Sky City, integrated parkir dengan SkyTrain ke semua Terminal 1, 2, 3.
  • Pengembangan aplikasi Smart Airport.
  • Pengembangan East Cross Taxiway.
  • Pemerintah membangun kereta eksekutif bandara dan sudah beroperasi serta kereta layang berteknologi automated people mover systems.

Benchmarking dengan Bandara Kelas Dunia Changi
Penumpang pesawat yang datang dan pergi di Bandara Soeta 63 juta (2017), sedangkan Changi Airport 82 juta. Terminal terbaru di Bandara Soeta adalah terminal 3 dengan kapasitas 25 juta penumpang, sedangkan terminal terbaru di Changi airport adalah Terminal 4 kapasitas 16 juta penumpang dengan teknologi pengenalan wajah Fast & Seamless Travel, bandara tanpa manusia sebagai check ini counter dan immigration counter.

Jadi memang terjadi kejar mengejar antara bandara internasional Soeta dan Changi. Di Nusantara jelas Soeta adalah bandara terbesar dan tersibuk. Di kelas Global, maka mendapatkan rangking hub terbesar dengan ukuran bandara 2,138 hektar (lahan tanah 8,300 hektar) dan tersibuk kedua di Asia Pacifik.

Data Disruptive Smart Airport
Angkasa Pura II dengan andalannya Bandara Soeta melakukan airport transformasi menuju Smart Airport, dengan target pendapatan dari bisnis di luar Aero (non Aero) lebih dari 50% (2018), meningkat pesat dari 39% (2017).

Konsep Smart Airport dan disrupsi data yang diusung akan diimplementasi teknologi Airpot Operasional Control Center, menurut Direktur Tehnik dan Operasi Djoko Murjatmodjo setelah melakukan studi banding di Frankfurt dan Zurich.

Muhammad Awaluddin dengan latar belakang dari PT Telkom mempunyai angan angan untuk menggeber pembangunan fisik bandara dan mulai fokus pada digitialisasi Bandara Soekarno Hatta dengan mengusung konsep “Airport Digital Journey Experience” untuk Terminal 3.

Dengan big data dari jumlah 109,3 juta penumpang pertahun, 208,000 penumpang perhari dan pergerakan 331,000 pesawat pertahun, 1.228 pesawat per hari, maka teknologi data analytics dan AI akan menghasilkan insight yang dapat meningkatkan drastis customer satisfactions dan bisnis baru bagi banyak pertokoan dan restoran yang ada di lingkungan bandara AP II. Ditambah mimpi membangun Terminal 4, apakah sebagai low cost carrier terminal atau full service terminal, yang rencananya akan ditenderkan akhir tahun ini dengan tujuan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus kepuasan pelanggan atau customer experienced (CX).

Konsep “Airport in your hand” dengan membangun aplikasi Indonesia Airport (2018) menghabiskan anggaran Rp 200 miliar untuk pengembangan infrastruktur softwarenya dan potensi aplikasi Big Data Analytics menjadi lini bisnis non aero (di luar bisnis penerbangan) dengan mimpi dan target AP II menjadi “One Trilion Company”. **