Dorong Energi Surya untuk Sumber Daya Kelistrikan

0
58

Jakarta, KomITe –Di Indonesia, pembangunan energi dihadapkan pada masalah pokok berupa kesenjangan antara potensi sumber energi (energi primer) dan konsumsi berbagai jenis energi. Sebagai contoh, rasio antara tingkat produksi dan potensi cadangan minyak bumi sangat besar, sedangkan rasio panas bumi pemanfaatannya lebih lama karena sifatnya sebagai energi terbarukan. Tingginya pemanfaatan energi final perjenis energi masih belum proporsional.

Menurut Deputi Bidang Teknologi Pengkajian Kebijakan Teknologi (PKT) BPPT Gatot Dwianto, sebagai negara yang beriklim tropis, Indonesia perlu memanfaatkan energi surya yang saat ini tengah dikembangkan oleh berbagai pihak. Pemerintah Indonesia disampaikan olehnya, melalui berbagai kebijakan telah mendorong tumbuhnya manufaktur komponen pembangkit tenaga surya di dalam negeri.

“Seperti misalnya penerapan TKDN bagi procurement perangkat tenaga surya yang dilaksanakan instansi pemerintah dan BUMN untuk mendorong tumbuhnya industri komponen Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di dalam negeri,” ungkapnya dalam FGD bertema “Penyusunan Roadmap Industri Manufaktur Komponen dan Usulan Kebijakan untuk Meningkatkan TKDN Industri Pembangkit Surya” yang digelar oleh Pusat Pengkajian Industri Manufaktur, Telematika dan Elektronika (PPIMTE) BPPT di Jakarta, Rabu, (05/0).

Ditambahkan Gatot, pemanfaatan energi surya dengan menggunakan teknologi solar photovoltaic (PV) atau sel surya, menjadi salah satu sumber sumber energi pilihan. Teknologi PV atau solar photovoltaic ini diharapkan mampu menjadi pilihan untuk menggantikan sumber energi primer untuk dikonversi menjadi tenaga listrik.

Sekedar diketahui, pemanfaatan energi oleh konsumen rumah tangga, industri, dan transportasi terbilang jauh dari kata efisien. Hal ini tercermin dari perilaku pemilihan jenis energi untuk berbagai sektor yang belum efektif dan konsumsi energi yang lebih konsumtif serta rendahnya tingkat efisiensi peralatan.

Sedangkan terkait sumber energi primer dunia hingga tahun 2100, prediksi German Federal Government menunjukkan bahwa mulai tahun 2030 sumber energi primer yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dunia (minyak, batubara dan gas bumi) akan mengalami penurunan drastis dan akan digantikan dengan sumber energi terbarukan terutama energi surya.

Direktur PPIMTE BPPT, Andhika Prastawa menambahkan, FGD ini menjadi ajang untuk bertukar gagasan terkait penyusunan Roadmap dan kebijakan pengembangan industri manufaktur pembangkit dan komponen PLTS. “Roadmap tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan menyusun kebijakan pengembangan industri manufaktur komponen PLTS di Indonesia. Selain menjadi alternatif sumber energi ramah lingkungan, dan menggantikan sumber energi primer untuk dikonversi menjadi tenaga listrik,” jelasnya.

Mengenai TKDN, pada FGD ini juga dibahas rencana pengembangan industri nasional bidang energi surya atau PV, serta kebijakan peningkatan TKDN. “Terkait TKDN inipun akan lebih mempertimbangkan atau mengaitkan proses kepemilikan intelektual (process based) dibandingkan dengan perhitungan biaya (cost based),” katanya.

Sementara untuk potensi dan permasalahan pengembangan industri sel surya, inverter dan batere di Indonesia, diharapkan FGD ini dapat menghasilkan masukan substansi teknis dan non teknis dari narasumber dan stakeholder, serta tercipta kesepakatan dalam konsep roadmap dan kebijakan pengembangan industri manufaktur pembangkit dan komponen PLTS. “Dengan itu, optimalisasi pemanfaatan tenaga surya dapat menjadi solusi nuhan kebutuhan listrik di masa mendatang, di lain pihak manufaktur perangkat pembangkit tenaga surya dapat menciptakan lapangan kerja baru serta efek ganda terhadap perekonomian,” pungkasnya. (red)