Puspa Iptek Sundial Bandung Gelar Kompetisi Roket Air

0
77

Jakarta, KomITe – Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-Iptek) Kemenristekdikti bersama Puspa Iptek Sundial, Padalarang-Bandung kembali menggelar Kompetisi Roket Air Regional (KRAR) Jawa Barat 2018. Pemenangnya mendapatkan hadiah yang tunai total Rp20 juta, piala, dan 10 tiket menuju laga Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) pada 28 September- 1 Oktober 2018.

Kompetisi roket air digelar untuk mengakomodasi ketertarikan siswa terhadap sains. Selain itu diharapkan menumbuhkan ketertarikan anak-anak kepada teknologi kedirgantaraan dan antariksa. Pada hari kedua pelaksanaan peluncuran di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (9/9), berlangsung seru.

Kepala Puspa Iptek Sundial Joko Santoso menuturkan tahun ini sebanyak  266 siswa peserta dari 56 sekolah di Jawa Barat. Pesertanya SMP dan SMA serta SMK yang berusia 12 hingga 16 tahun. “Tahun ini, kami membatasi jumlah peserta yang ikut berkompetisi. Pasalnya, lokasi untuk kompetisi roket air hanya menampung 260 peserta. Tahun lalu, di Bale Pare Kota Baru Parahyangan bisa menampung hingga 500 peserta,”  ujarnya didampingi Direktur PP-Iptek Mochammad Syachrial Annas.

Setelah mengikuti Kompetisi Roket Air selama dua hari pada Sabtu (8/9) dan Minggu (9/9), dari 266 pelajar yang mengikuti kompetisi itu, akhirnya enam pelajar dinyatakan sebagai pemenang. Adapun para pemenang yaitu Hasnat Ferdiananda (SMP Pasundan 1 Bandung, Juara 1), Retno Dewi Wulandari (SMKN I Losarang Indramayu, Juara 2), Shabrina Nibrasalhuda (SMP Al-Masome Jatinangor, Juara 3), Nawal Alifiah HIdayat (SMPIT Asy-Syifa Boarding School Subang, Harapan 1), Nabil Riano Zaky ( SMPIT Asy-Syifa Boarding School Subang, Harapan 2), dan Pricilia Alianda Hud (SMPN 1 Cimahi, Harapan 3).

Keenam pelajar tersebut diputuskan menjadi juara setelah roket air yang mereka buat dari dua botol karbonasi ukuran besar diluncurkan pada Minggu (9/9) . Penilaian berdasarkan kecepatan dan ketepatan saat roket air mendarat di tempat yang sudah ditentukan. Para peserta dinilai berdasarkan skor terbaik dari dua kali peluncuran yaitu jarak terdekat jatuhnya roket terhadap titil pusat target

Lebih lanjut Joko Santoso mengaku bersyukur karena setiap tahun minat siswa mengikuti kompetisi ini mengalami peningkatan. Hal tersebut menandakan minat siswa terhadap Iptek mengalami peningkatan. “Penyelenggaran kompetisi roket air ini bertujuan untuk memperkenalkan teknologi peroketan sejak dini kepada generasi muda. Sekaligus dalam rangka penyebarluasan sains dan teknologi secara mudah dan menyenangkan,” tambahnya.

Ditempat yang sama Syachrial Annas mengatakan bahwa di Indonesia saat ini terdapat 23 pusat sains dan rencananya pada 2018-2019 , pihaknya akan menambah empat science center baru yakni di  daerah Sumatera barat,  NTB, Riau dan Sulawesi Tengah. Idealnya di setiap kabupaten/kota memiliki satu wahana science center  sebagai bagian upaya pengenalan Iptek sejak usia dini.

“Pembangunan science center sangat bergantung pada dukungan dari  pemerintah daerah (Pemda) setempat. Persoalannya, Kepala daerah itu selalu berganti dan ujungnya kebijakannya pun selalu berbeda. Karena kalau kepala daerah yang sekarang setuju pembangunan science center, belum tentu kepala daerah yang menggantikan akan mengiukuti atau meneruskan pengelolaan science center tersebut ,” paparnya.

Masih menurut Syachrial, sebenarnya kalau ada satu daerah berinisiatif membangunscience center maka pihaknya akan memberikan satu insentif berupa alat peraga sebagai pemicu. Misalnya, PP Iptek Kemenristekdikti memberikan 10 hingga 20 alat kepada daerah yang berminat membangun science center dan daerah bisa mengembangkan dengan menggandeng pihak swasta. (red/*)