Dirjen Penguatan Inovasi Dorong Klaster Inovasi Nilam di Aceh

0
74

Jakarta, KomITE- Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti mendorong pengembangan klaster Inovasi nilam di Aceh. Antara lain, pengembangan Ketel Inovasi penyulingan nilam, pengembangan produk turunan dan pembuatan Demplot (lahan percontohan) untuk nilam di Aceh Jaya. Pasalnya, nilam Aceh merupakan nilam terbaik dunia yang memiliki kandungan Patchouli Alkohol (PA) di atas 30%.

Saat ini, Indonesia merupakan pemasok 90% kebutuhan minyak nilam dunia dan 70% diantaranya berasal dari Aceh. Hingga saat ini minyak nilam Aceh sangat dibutuhkan sebagai bahan blending minyak nilam Indonesia dari daerah lainnya. Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe mengatakan, klaster inovasi (klasinov) nilam Aceh merupakan sebuah model pendekatan untuk peningkatan ekonomi rakyat, mendorong kolaborasi dan sinergi pelaku inovasi khususnya untuk industri nilam di Aceh.

“Kita mendukung Perguruan Tinggi (PT), Pemerintah, Dunia Usaha untuk bersinergi membangun kembali kejayaan minyak nilam Aceh. PT dapat berperan sebagai pusat keunggulan (center of excellent) dalam menghasilkan teknologi yang diperlukan oleh masyarakat,” katanya dalam Rakor Pengembangan Klaster Inovasi Nilam di gedung BPPT Jakarta, Senin (10/9).

Klaster Inovasi Nilam Aceh yang diinisiasi oleh Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti pada tahun 2017, dibuat untuk mendorong peningkatan ekonomi sebuah kawasan. Kaster Inovasi akan mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi atas kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan kerjasama dalam berbagai aspek industri dan kewilayahan.

Sinergi ABG-C mutlak diperlukan dalam pengembangan Klaster Inovasi. Sebagaimana diketahui, Klaster Inovasi menuntut adanya sinergi berbagai pihak yang memungkinkan terjadinya aktivitas inovasi dengan mendorong interaksi secara intensif, sharing fasilitas dan pertukaran pengetahuan dan berkotribusi secara efektif dalam proses alih teknologi, jejaring dan penyebaran informasi.

Di tempat yang sama, Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Syaifullah Muhammad, mengatakan, sejauh ini telah banyak program awal yang dilaksanakan terkait Klasinov Nilam Aceh. Misalnya, Pemkab Aceh Jaya telah menetapkan 2 Ha lahan di Desa Seuneubok Padang kecamatan Teunom Aceh Jaya melalui SK Bupati sebagai pusat Klasinov Nilam Aceh. Dinas Perindustrian Aceh sedang menyusun Masterplan, DED (Detail Engingeering Design) dan dokumen studi lingkungan melalui anggaran 2018. “Berbagai program kalster inovasi nilam dari hulu ke hilir untuk mengangkat perekonomian rakyat harus terus ditingkatkan. Semua pihak harus bekerja sama dan berkontribusi, karena nilam merupakan produk ekspor strategis untuk Indonesia“ tambah Syaifullah.

Sementara itu, Kasubdid Kemitraan Strategis dan Wahana Inovasi Kemenristekdikdi, Kamsol, mengemukakan pentingnya pembentukan konsorsium pengelolaan Klasinov Inovasi Nilam. “Konsorsium pengeloaan Klaster Inovasi Nilam dari unsur ABG-C yang profesional akan sangat menentukan keberhasilan program ini. Kemenristekdikti akan mendukung penuh melalui berbagai kebijakan dan insentif”, pungkas Kamsol.

Sementara itu Bupati Aceh Jaya, Teuku Irfan TB berharap agar petani dapat dibantu melalui teknologi penanaman, penyulingan dan kepastian pasar untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas minyak nilam rakyat. “Penyakit pada tanaman nilam dan teknik penyulingan dengan kualitas rendah merupakan hambatan serius bagi masyarakat. Selain itu masyarakat juga perlu kepastian dan kestabilan harga” kata Teuku Irfan.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Zainal Arifin, Kepala Perwakilan Bank Indonesia di Aceh. “BI konsen untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Nilam Aceh memiliki sejarah yang panjang sebagai komoditi ekspor yang sangat potensial. BI akan berkontribusi pada lini hulu hilir klaster inovasi Nilam Aceh” ujarnya. (red)