BPPT Rilis Buku Outlook Energi 2018

0
107

Jakarta, KomITe- Belakangan ini, isu ketahanan energi kembali menjadi sorotan penting. Bahkan analisis kepakaran menyampaikan bahwa impor sektor minyak dan gas (migas) kian menjadi faktor yang menyebabkan melemahnya nilai mata uang Rupiah. Selama ini Indonesia terus dianggap sebagai penghasil minyak, gas dan batubara yang besar di dunia. Namun perlu diketahui dan disadari bersama, saat ini konsumsi minyak bumi Indonesia melebihi produksi sehingga menjadikan Indonesia sebagai importir minyak bumi.

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan, Indonesia belum memiliki cadangan penyangga energi lain yang dapat memberikan jaminan pasokan dalam waktu tertentu apabila terjadi kondisi krisis dan darurat energi,” papar Unggul dalam acara Peluncuran Buku Perspektif, Potensi dan Cadangan Energi Indonesia, di Kantor BPPT, Jakarta, (24/9). Buku yang langsung ditulis oleh Kepala BPPT dan tim khusus ini ditujukan bagi para pemangku kepentingan dan seluruh pembaca, agar memahami konstelasi sumberdaya energi. Buku inipun tersaji guna memberi pembuktian akan potensi sumber energi nasional yang semakin menipis jumlahnya.

Unggul menambahkan, kekhawatiran akan ketahanan energi nasional inilah yang mendorong BPPT terus berupaya melakukan kaji terap teknologi di bidang energi.Khususnya untuk menciptakan inovasi energi terbarukan, untuk menuju cita energy mix atau bauran energi. Peluncuran buku ini merupakan salah satu upaya penting untuk mengubah mindset bersama bahwa pola eksploitasi energi yang saat ini dilakukan, perlu diubah, agar Ketahanan Energi Nasional, dapat terus ditingkatkan.

Menurut Unggul ada beberapa rekomendasi yang harus dijalankan bila Indonesia tak ingin jatuh ke “lubang” krisis energi. Misalnya, upaya mengatasi ketergantungan terhadap impor minyak dari negara tertentu dan mengharuskan Indonesia lebih agresif mencari sumber-sumber pasokan (energi fosil) baru “Perlu ditekankan, yakni melakukan perubahan mindset untuk beralih dan mendiversifikasi pemanfaatan energi baru dan terbarukan, sebagai sumber energi yang dapat diandalkan,” terangnya.

Darurat Energi

Indonesia darurat energi. Hal ini patut menjadi alasan untuk mengubah mindset bahwa Indonesia sudah tidak menjadi penghasil minyak yang bersifat surplus. Berbagai kajian membuktikan Indonesia kedepan berpotensi menjadi negara pengimpor minyak, jika kita tidak mengganti perilaku konsumsi energi sehari-hari. Pola konsumsi energi dunia, maupun Indonesia saat ini, masih didominasi energi fosil dalam bentuk minyak bumi, gas, dan batu bara. Hal ini merupakan tantangan yang berpotensi menjadi ancaman di sektor energi,yang diperlukan penanganan serius.

Sejak 1991, produksi minyak Indonesia terus menurun. Penyebabnya, produktivitas sumur-sumur yang ada semakin berkurang. Pada 2018, pemerintah menargetkan produksi minyak sekitar 800 ribu barel per hari. Namun, hingga akhir Juli, data Kementerian ESDM menunjukkan rata-rata produksi minyak masih di kisaran 773 ribu barel, jauh di bawah tahun lalu yang masih di angka 949 ribu barel per hari.

Di saat produksi minyak terus menurun, lanjutnya, konsumsi bahan bakar minyak Indonesia justru terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan populasi kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil. Pilihannya adalah mengurangi konsumsi atau mempertahankan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) tapi dengan campuran etanol (premium) atau biodiesel (solar). Pilihan pertama jelas tak masuk akal, pertambahan jumlah penduduk otomatis akan meningkatkan konsumsi energi, terutama BBM.

Bagaimana pun, BBM akan habis atau setidaknya harganya akan semakin mahal karena kian langka. Belakangan, Energi Baru Terbarukan (EBT) muncul sebagai tambahan alternatif untuk energi fosil. Karena itu, pemerintah wajib terus mendorong penggunaan energi baru terbarukan, termasuk bahan bakar nabati (BBN). Kalau pada akhirnya pilihannya adalah listrik, pemerintah harus mempertimbangkan jumlah pasokan. “Indonesia tidak boleh terlena untuk tidak menyiapkan strategi di bidang energi dan implementasinya sebagai bentuk antisipasi untuk menjaga ketersediaan energi, baik untuk jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang,” pungkasnya. (red)