BPPT Hadirkan Teknologi Cable Based Tsunamimeter/CBT

0
49

Jakarta, KomIte- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan meluncurkan teknologi pendeteksi gempa dan tsunami berbasis kabel atau disebut juga dengan Cable Based Tsunamimeter/CBT. Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa alat yang berbentuk seperti kabel dan dibentangkan di bawah laut tersebut diklaim dapat mendeteksi secara lebih baik jika terjadi bencana gempa dan tsunami di Indonesia.

Lebih lanjut Hammam menambahkan, inovasi CBT jauh lebih cepat dan murah dari pada teknologi buoy. Teknologi ini juga lebih aman atau anti-vandalisme karena letaknya di bawah laut. “Indonesia sangat berpotensi membangun teknologi mitigasi CBT, apalagi kita memiliki sistem komunikasi kabel laut yang memang bisa dipakai untuk pengembangan Cable Based Tsunamimeter,” katanya dalam acara Pemaparan Teknologi Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami yang digelar di Gedung BPPT, Jakarta (6/10).

Selain itu, BPPT juga mengirimkan Kapal Baruna Jaya 1 ke perairan Palu dan Donggala untuk melakukan operasi Survei Bakti Teknologi dan Bakti Sosial, dimulai sejak Rabu (4/10) hingga 10 hari ke depan. Dalam survei ini, BPPT berupaya melakukan riset batimetri, serta mengirim bantuan untuk korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Menurutnya, selain memiliki misi penelitian, Kapal Baruna Jaya 1 ini juga membawa Teknologi Air Siap Minum (Arsinum) untuk menyediakan air bersih dan air siap minum kepada korban bencana di Kota Palu dan Donggala. Teknologi Arsinum sebelumnya juga telah diterapkan untuk membantu korban bencana gempa di Lombok Utara, sebagai wujud Bakti Teknologi BPPT. Terbukti selama pengoperasian alat tersebut sejak 9 September 2018 telah menghasilkan sekitae 65.000 liter air siap minum, yang aman dikonsumsi oleh korban gempa.

Bahkan teknologi Arsinum ini ada yang sifatnya mobile, dipasang pada mobil berkabin ganda, sehingga mampu menembus wilayah terdampak bencana dan menyediakan kebutuhan air bersih dan air siap minum. Ia menambahkan, selain teknologi deteksi tsunami, tentu dibutuhkan solusi terhadap mitigasi bencana gempa bumi yang kini belum dapat diprediksi. Meski begitu, mitigasi gempa dapat dilakukan untuk menghindarkan banyaknya korban.

Inovasi dan layanan teknologi unggulan yang dimiliki BPPT untuk kebencanaan, dibagi dalam beberapa tahap yaitu Teknologi Tahap Pra Bencana, diantaranya SIJAGAT, Teknologi Kajian Keandalan Gedung Bertingkat Terhadap Ancaman Gempa Bumi. Teknologi ini digunakan untuk mengukur keandalan sebuah Gedung terhadap ancaman gempa bumi, dan memberikan solusi berupa rekomendasi teknis.

SIKUAT, Teknologi Monitoring Gedung Bertingkat Terhadap Bencana Gempa Bumi. Merupakan system monitoring kesehatan Gedung yang dilakukan dengan memasang segera diketahui (Tahap ujicoba). Sistem deteksi dan peringatan dini gempa dan tsunami melalui teknologi Cable Based Tsunameter (tahap detail desain). Rumah Komposit Tahan Gempa (tahap industrialisasi), dan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (layanan teknologi).

Selanjutnya, pada tahap Teknologi Tanggap Darurat Bencana, diantaranya adalah Biskuneo, Biskuit tahan lapar (tahap industrialisasi), dan Operasi Kapal Baruna Jaya (layanan teknologi). Kemudian, tahap Teknologi Pascabencana, yaitu Teknologi Air Siap Minum yang ditujukan untuk menyediakan air bersih dan air siap minum kepada korban bencana.

Kembangkan Teknologi CBT

Lebih jauh Hammam menjelaskan, sebenaranya teknologi CBT lebih mahal pemasangannya (daripada Buoy) tapi operasionalnya jauh lebih murah, dan kita pasti menginginkan kecepatan milisecond, kalau lewat satelit itu ada delay komunikasinya dalam detik. Bahkan, dari segi keakuratan CBT ini juga jauh lebih akurat dan kuat dibanding tsunami modeling system ataupum buoy. “CBT ini akan lebih akurat dan kuat lagi data data kita dalam menyampaikan peringatan dinip terhadap tsunami dan gempa,” tambah Hammam.

Hammam mengatakan teknologi CBT ini akan menjangkau seluruh wilayah Indonesia sejauh 5.000 km dan harapannya akan segera terwujud di tahun 2020-2024. “CBT kalau misalnya kita bisa masukkan ke dalam RPJMN berikutnya 2020-2024 itu akan sangat bagus. Dalam 5 tahun kita bisa cover seluruh daerah yang memang membutuhkan tsunami early warning system,” tutup Hammam. (red)