FutureCommerce: Saat Big Data, BlockChain, AI, IOT disrupting Indonesia Ekonomi Digital

0
264

Jakarta, KomITe- Selama beberapa tahun baik Komite.id maupun ABDI mengikuti event yang diselenggarakan oleh Clarion, UKM dengan tema Internet Retailing Expo (IRX), namun pada awal 2019 tema berubah nama menjadi Future Commerce Indonesia (FCI).

Hadir panelist dari Clarion, Julia Kwan Event Director FCI, Vince Gowan, Vice Chairman Kadin Indonesia; Rudi Rusdiah, Chairman ABDI (Asosiasi Big Data & AI); Donald Tirtaatmadja, Director for CMT, Accenture Indonesia; Soegiarto Santoso, APTIKNAS; Donny Wardana, Chief Strategy;Sicepat Expres.

Vince kebetulan bersama Rudi menghadiri event Asean+3 Crossborder Ecommerce di Yuxi, Tiongkok jadi melihat bagaimana peran crossborder pada ecommerce di Indonesia, yang memang majoritas masih menjual produk import, dikarenakan industri domestik tidak siap menghadapi ledakan permintaan ecommerce di Indonesia. Ecommerce di Indonesia memang terbesar di Asean dan ekonomi kita sekarang masuk kedalam top 10 negara dengan GDP terbesar didunia, sehingga memang pasar di Indonesia sangat menarik investor Global.

Rudi menganalisa dari evolusi industri 1.0 dimana otomatisasi menyebabkan perdagangan global meningkat disebut “Commerce”. Kemudian dengan diperkenankannya teknologi listrik, transportasi pada industri 2.0 dan Internet pada industri 3.0 maka “Commerce” menjadi “InternetCommerce” atau “Ecommerce” dan muncul “e” yang lain seperti eHealth; eGov. Dll. ABDI pernah juga memberikan speech pada event Clarion ketika masih bernama “Internet Retailing Indonesia” atau Ecommerce Indonesia. Memasuki era industri 4.0, maka tema berubah dari eCommerce menjadi FutureCommerce memasukkan BigData, AI, Blockchain, Clouds sebagai disrupting teknologi bagi Ecommerce di tanah air.

Terkait perkembangan masalah security apalagi sebentar lagi ada Harbolnas dimana transaksi ecommerce meningkat drastis dan menjadi target para hacker. Sebuah keniscayaan bahwa kemajuan teknologi memiliki dua sisi mata uang, sisi positif adalah bagaimana digital econome dapat berkembang pesat, namun tidak ketinggalan para hacker yang memanfaatkan juga teknologi hacking juga dengan fasilitas dari FutureHacking teknologi. Disinilah peran lembaga seperti BSSN (Badan Sandi dan Siber Nasional ) menjadi sangat strategis di Indonesia.

Big Data di Indonesia meningkat pesat sekali sekitar 17% lebih tertinggi di Asean demikian juga dengan ecommerce, namun tidak perlu membuat khawatir retailer tradisional, karena pasar ecommerce ditanah air baru sekitar 2% dari seluruh ritel di Indonesia. Ecommerce RI pada 2018 menduduki posisi nomor satu di Asean, bayangkan ecommerce RI 65% dari ecommerce Asean.

Soegiarto lebih fokus pada program pelatihan SME, di Tanah Abang agar pelaku SME kita dapat segera aktif memanfaatkan ecommerce dan bagaimana agar masalah Security dapat tetap dijaga apalagi dengan adanya online commerce.

Donny menambahkan bahwa tantangan di Indonesia jauh lebih besar dari di China, karena kalau di China wilayahnya 70% lebih adalah daratan, sedangkan di Indonesia 70% adalah lautan dan rural area, terkadang tidak ada jalan antar kota dan desa, sehingga logistik di Indonesia memang lebih mahal dari di negara tetangga kita.

Accenture melihat ekonomi sekarang sudah berubah dari tradisional menjadi platform ekonomi, bayangkan seperti perusahaan taxi tradisional yang tergerus pasarnya oleh pemain ecommerce yang memanfaatkan teknologi platform seperti halnya Gojek, Uber, Grab.
Future Commerce 2018 sendiri akan diselenggarakan awal tahun 29-30 Januari 2019 sebelum pesta demokrasi Pemilu RI.

Future Commerce Indonesia 2019 juga akan launch Future Commerce Awards, untuk memberi perhatian kepada excellence yang ada di Industri ecommerce dari para pemain dengan digital, retail dan teknologi terbaik.