Inovator Teknologi ECVT Raih BJ Habibie Award

0
668

Jakarta, KomIT- Seorang lmuwan Indonesia di dunia pengembangan teknologi tomografi, Dr.Warsito Purwo Taruno, mendapat anugerah Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) 2015. BJHTA merupakan anugerah tahunan yang diberikan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).Untuk ke- 8 kalinya penghargaan BJHTA diberikan, tahun 2015 ini berhasil mengembangkan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT).

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan penghargaan ini merupakan bentuk komitmen BPPT dalam mendorong pelaku teknologi untuk lebih berinovasi. Penguasaan dan kemajuan teknologi juga merupakan tolak ukur suatu negara yang mempunyai kedigdayaan. “Dr.Warsito berhasil mengembangkan ECVT atau Electrical Capacitance Volume Tomography, sistem pemindai berbasis medan listrik statis yang telah diaplikasikan secara luas di dunia industru dan medis,” ungkapnya di Auditorium BPPT, Jakarta, (20/8)

Dipaparkan Warsito, teknologi tomografi dan ECVT merupakan sebuah sistem pemindaian berbasis medan listrik statis yang diaplikasikan di dunia kesehatan dan industri lain.ECVT berbeda dengan tomografi konvensional seperti CT-Scan atau MRI yang memakai prinsip pemindaian tertutup, di mana objek harus diletakkan di ruang tertutup dan dikelilingi oleh sensor pemindai.

ECVT mengusung prinsip pemindaian terbuka sehingga objek tidak harus diletakkan di ruang tertutup. Itu berarti objek bisa diletakkan di mana saja, tidak harus seluruhnya dikelilingi sensor. Konsep pemindaian terbuka ini dikemas dalam bentuk helm untuk bagian kepala dan cup untuk kanker payudara. “ECVT ini memanfaatkan gelombang energi samping atau fringing. Sering dianggap menyimpang dan terbuang, justru kami manfaatkan dan nyatanya gelombang pinggir ini bisa memberikan informasi yang bisa diekstrak untuk proses digitalisasi aktivitas otak ke dalam komputer,” jelas Warsito.

“Dengan konsep ECVT ini, pemindaian obyek di dinding luar pesawat ulang-alik dari dalam pesawat seperti yang dilakukan di NASA. Namun, dengan konsep open scanning ini memungkinkan ECVT untuk memindai kanker payudara dan otak serta aktifitas otak manusia dengan sensor terbentuk cup atau helm,” tambahnya.

Lebih lanjut, ECVT dapat digunakan dalam bidang proses kimia yaitu teknologi piranti lunak untuk komputasi aliran fluida di dalam reaktor kimia yang diolah dari citra 4D yang dihasilkan oleh ECVT. Dengan teknologi ini bisa didapatkan citra distribusi 4D kecepatan partikel dan gas di dalam reaktor secara riil yang selama ini hanya mampu dilakukan dengan simulasi super computer. “Teknologi terbaru ini juga dipakai oleh Morgantown Nasional Energy Technology Laboratory milik Departemen Energi Amerika untuk mengembangkan generasi baru generator listrik,” kata Warsito.

Dengan demikian, pemindaian otak manusia dengan gelombang listrik berenergi rendah seperti ECVT mempunyai tingkat tantangan secara teknis yang tinggi karena menunut kecepatan pemindaian yang sangat tinggi untuk bisa memindai aktifitas otak yang cepat, serta sensitifitas sensor yang sangat akurat untuk bisa menangkap perubahan besaran nilai kapasitas listrik yang sangat kecil ukuran femtofarad yang sebelumnya belum bisa dipecahkan oleh para peneliti dan pengembang teknologi tomografi. (ju/red)