Terobosan AP II Gratiskan Jasa Porter sebagai Airport helper

0
128

Jakarta, KomIT – Dalam rangka meningkatkan layanan di Bandara Soekarno-Hatta agar seperti bandara internasional lainnya,  PT Angkasa Pura II  melakukan terobosan dengan memberikan layanan gratis atau cuma cuma kepada penumpang di di Terminal 1 dan 2 dan 3. Peran para porter akan lebih sebagai airport helper, di mana mereka bertugas mengumpulkan troli dan tetap membantu mengangkut barang bawaan calon penumpang.

Menurut Branch Communication Manager Bandara Soekarno-Hatta, Dewandono Prasetyo Nugroho, meski mengedepankan cara self service seperti bandara kelas dunia, kami memandang tetap perlu ada petugas pengumpul troli dan airport helper untuk saat ini. Penghapusan layanan jasa porter berbayar diharapkan menghilangkan terjadinya transaksi yang tidak sesuai tarif.

Belum lama berselang, muncul keluhan dari pengguna jasanya. Hal tersebut terlihat  dalam video yang beredar di media sosial baru-baru ini. Dalam video yang kemudian viral di media sosial itu.tersebut, orang yang merekam menilai para airport helper bekerja malas-malasan karena tidak aktif membantu pengguna jasa bandara mengangkut barang, melainkan hanya berdiri, ngobrol, dan bermain ponsel.

Head of Corporate Secretary and Legal PT Angkasa Pura II Agus Haryadi mengungkapkan, telah memantau kinerja para airport helper setelah muncul keluhan dari pengguna jasa. Berdasarkan pantauannya  nampak tidak ada masalah dengan kinerja mereka. “Bagi kami, laporan itu menjadi trigger untuk mempercepat perbaikan. Untuk jangka pendeknya, kami menunjuk 16 orang supervisor setiap hari untuk pengawasan sehingga kinerja mereka bisa kami awasi,” ujar Agus.

Dirut AP II Menyamar Jadi Porter

Sementara itu, menyikapi keluhan dari warganet tentang kinerja  airport helper yang disebut malas-malasan, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengecek kebenaran info itu dengan pura-pura jadi helper di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (8/9) pagi. Seperti dikutif Kompas.com,  Awaluddin melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan para petugas agar bisa memantau bagaimana kinerja mereka yang sesungguhnya di lapangan.

Awaluddin menjelaskan, dari temuan serta penglihatannya, tidak nampak helper seperti yang disebut warganet sedang bermalas-malasan. Kemudian, dia juga menilai perlunya fungsi supervisi dengan fokus pada people, process, dan facilities berbasis teknologi informasi untuk memudahkan kerja para helper. Sehingga, pihaknya memastikan akan memberikan aplikasi di ponsel sebagai salah satu alat bantu kerja para helper.
Lalu, dia juga ingin agar ada integrasi layanan helper dengan proses operasi lain di bandara, seperti jadwal kedatangan dan keberangkatan penerbangan, termasuk keterangan soal jadwal dan jumlah petugas yang sedang in charge. Terakhir, perlunya evaluasi dan review berkala dalam rangka pemberian penghargaan bagi helper yang berkinerja baik. (red)