Bonus Demografi & Kreativitas Siswa Potensi Disrupsi Ecommerce Masa Depan

0
983

Jakarta, KomIT – Keynote Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan sungguh inspiratif, dalam membangun semangat sharing dan mengajak para entrepreneur ecommerce yang sukses agar mengunjungi sekolahnya masing masing. Berbagi ilmu dan pengalaman yang didapat sebagai ‘payback’ time alumni kepada guru dan murid, dan bukan semata mencari keuntungan komersial. Ini konsep ‘link & match’ peer to peer antara pelaku industri dan siswa sekolah yang paling efektif, karena Pemerintah tentu tidak dapat membayar tariff dari para eksekutif yang sukses ini, jadi dalam bentuk ‘payback’ atas ilmu yang dulu pernah diperoleh ketika belajar di SD sampai SMA.

“Guru Sekolah cenderung introvert alias curiga, jika seorang pengusaha sukses blusukan ke sekolahnya waktu masih muda, karena kebiasaan entrepreneur kan selalu mencari proyek dan melupakan sekolahnya, kelakar Anies. Tapi hal ini harus dimengerti dan dijelaskan kepada komunitas guru dan sekolah,” ujar Mendikbud Anies.

Dilanjutkan Mendikbud, Karena seorang Guru sering bukan seorang entrepreneurship dan kewirausahaan ini harus ditularkan kepada Generasi Milenial dan Generasi X,Y and Z Indonesia oleh entrepreneur yang sukses. Karena dari bonus demografi kedepan, generasi muda kita adalah cikal bakal penerus bangsa ini kedepan,” ujarnya kepada Rudi Rusdiah, Editor Komite.ID dalam acara Press Conference, ketika ditanya bagaimana hubungan antara industri Ecommerce dan dunia Pendidikan Dasar.

Sukses entrepreneur adalah dari kreatifitasnya, karena disrupsi dari sebuah industri terjadi jika Generasi muda kita yang membangun Startup dengan kreatifitas, serta ‘Think Out of The Box’. Coba saja perhatikan bagaimana Gojek dan Grab Taxi sebagai ‘new kid on the block’ dengan kreatifitas taxi online apps nya menggilas pemain incumbent dan raksasa Taxi regular menggunakan teknologi radio tranking, argo dan operator dispatcher serta menguasai lapak lapak di airport, hotel dan mall, namun tertinggal oleh teknologi applikasi OTT dan GPS. Biasanya ‘new entrant’ yang minta proteksi menggunakan UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha yang Tidak Sehat, namun UU pun dibuat irrelevant oleh disrupsi ini, baca Laporan utama di Komite.ID. Coba lihat kreatifitas AirBnB peer to peer hotel melawan hotel raksasa dan juga aplikasi Travel online menggerus pasar franchise Travel tradisional, semua ini di analisa di majalah Komite.ID edisi Mei/Juni 2016.

Masin menurut Mendikbud Anies, bagaimana konsep ‘3R’: Read, wRite & aRithmatic sekarang ditambah dengan konsep ‘4C’ yaitu : 1. Creative; 2. Communication Skill; 3. Critical Thinking; 4. Collaboration akan diterapkan pada kurikulum kedepan. Pemerintah membutuhkan banyak volunteer guru yang dapat bergerak ke garis depan daerah perbatasan, pedalaman dan saat ini sudah 7,000 generasi muda kita yang ikut membantu Pemerintah bergerak kedaerah daerah ‘Not Connected’ karena mungkin saja tidak ada Internet dan Blankspot, jalan pun tidak ada harus menggunakan pesawat, seperti pengalaman Rudi, editor Komite membangun ‘Warnet Desa’ didaerah perbatasan Kalimantan Utara, Kabupaten Krayan di Long Bawan, yang terisolir dari kota lain di Nusantara dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia.

Seperti dikatakan Mendikbud, pemerintah masih banyak membutuhkan ‘volunteer’ untuk memberdayakan Generasi muda siswa sekolah di daerah terluar dan terpencil dengan model ‘Pay Back’ bagi yang merasa tergerak hatinya. Ada sekitar 57 juta siswa di NKRI, dimana 20% nya terbaik berdasarkan statistik dan diharapkan dapat menjadi andalan Indonesia. Ingat ujar Anies terkait bonus demografis, 20% dari 57 juta siswa RI sudah lebih dari 10 juta, artinya sudah lebih besar dari jumlah penduduk Singapura, oleh karena itu kedepan saya selalu dan tetap optimis menakhiri dialog press conference (rrusdiah@yahoo.com).