CEO Mediatrac : Big data Bantu Analisis Tren Bisnis

0
974

Jakarta, KomIT – Regi Wahyu, CEO Mediatrac, perusahaan big data analysis yang menjadi penyelenggara acara festival big data “Data For Live 2016” mengatakan , big data akan berguna untuk menganalisa suatu hal atau tren, sampai prediksi yang bisa digunakan untuk meramal masa depan. “Kami mengadakan konferensi ini supaya orang Indonesia bisa mengenal siapa mereka. Artinya, bisa mengetahui lebih lanjut jati diri kita. Dan memadukan data-data dari masa lalu dan sekarang,” kata Regi di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut Regi Wahyu menambahkan, “Festival ini kami adakan untuk membangun sebuah ekosistem kolaborasi yang dapat membantu terbangunnya masa depan yang lebih baik. Kami mengajak berbagai pihak untuk berbagi dan menggali wawasan [big data] dengan para pemikir terbaik dari seluruh dunia dan membuktikan bahwa bangsa kita bisa berinovasi dan bersaing dalam bidang teknologi yang masih baru ini.”

Menurut dia, layanan big data ini sesungguhnya akan sangat berguna bagi bisnis, khususnya para pemasar, yang ingin mengetahui perilaku konsumen yang berkaitan dengan produknya. Tujuannya, untuk dapat merancang strategi bisnis yang lebih terarah, kepada segmen tepat, waktu tepat, lokasi tepat, dan dengan komunikasi tepat pula. Pentingnya big data bagi Indonesia, adalah untuk kemajuan negara ini. Dikatakan Regi, ada banyak data yang bisa dipakai sebagai bahan penelitian, dan hasilnya bisa diimplementasikan. “Data-data dari pemerintah, masyarakat, dan lain-lain, bisa diolah untuk kepentingan masa mendatang,” ujar Regi.

Tak hanya itu, dalam dunia digital, ada begitu banyak data dihasilkan. Contohnya, dari mulai foto ataupun video yang kita unggah ke media sosial, hingga jumlah yang like post Facebook kita, yang me-retweet cuitan kita, atau me-regram foto kita di Instagram. Jika data itu dikumpulkan, akan menjadi sebuah data berjumlah besar yang tidak terstruktur alias ‘big data’, yang jika dianalisa dan dikelola, akan sangat berguna bagi banyak bisnis.

Belum lagi sistem yang mengusung teknologi big data analytic untuk membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan publik yang lebih baik lagi kepada pemerintah, membuat aplikasi untuk mengatasi kemacetan Jakarta, berbelanja atau menghasilkan karya seni yang lebih aktraktif dan menarik. “Jadi, perkembangan teknologi big data memiliki potensial yang luar biasa untuk bisnis dan kehidupan,” ujar Tom Malik, COO Mediatrack yang juga pengurus Asosiasi Big Data Indonesia (ABDI)-

Hal menarik lainnya yang akan hadir dalam festival big data kedua Mediatrac datang dari keterlibatan seni yang memanfaatkan teknologi. Data for Life 2016 sendiri direncanakan akan ditutup dengan Tech-Art Exhibition yang memadukan data, teknologi, dan seni. Pameran akan berlangsung dari 31 Agustus 2016 hingga 6 September 2016 dengan tema “Visualizing The Invisible” dan menampilkan berbagai karya seniman seperti Mioon (Korea), Hysteria (Indonesia), Angki Purbandono (Indonesia), hingga Sey Min (Korea).

“Kenapa ada komponen art? […] Karena seorang artis tidak ada bedanya dengan data scientist dalam membuat karya. […] Buat saya, antara art dan teknologi itu mempunya hubungan yang sangat erat. Bukan hanya dari sisi visualisasinya saja, tetapi juga dari sisi proses, kedekatan metodologi, dan passion-nya. […] Bikin seni itu tidak bisa sembarangan atau tiba-tiba, ada riset untuk mempelajari background dan referensinya dulu,” ujar Regi. (red)