2020, Unisat Gandeng Intersputnik Luncurkan Satelit Komunikasi

0
799

Jakarta, KomIT – Universal Satelit Indonesia (UNISAT) bekerjasama dengan INTERSPUTNIK akan meluncurkan satelit komunikasi di tahun 2020, yang akan ditempatkan pada slot orbit 103BT (Bujur Timur).

UNISAT adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam pelayanan jasa satelit di Indonesia yang diawaki oleh para profesional dan tenaga ahli di bidang persatelitan di Indonesia dengan berbagai layanan jasa komunikasi satelit untuk memberikan layanan terbaik di bidang telekomunikasi dan solusi terpadu; sedangkan INTERSPUTNIK adalah perusahaan dengan skala global yang berkedudukan di Moscow – Rusia, yang memberikan layanan terpadu untuk seluruh aspek layanan jasa satelit di dunia.

Presiden Direktur UNISAT, Widodo Mardijono mengatakan dewasa ini kebutuhan layanan jasa transmisi satelit di Indonesia terus meningkat dan hanya dapat dipenuhi pasoknya sekitar 50% oleh penyedia layanan jasa transmisi satelit di dalam negeri; selebihnya dipasok oleh penyedia jasa dari luar negeri.

Pada sisi lain, INTERSPUTNIK yang menjadi mitra UNISAT sebagai perusahaan global yang bergerak di dalam layanan jasa terpadu dalam bidang satelit transmisi dan satelit komunikasi, memiliki banyak alternatif layanan jasa satelit termasuk kerja sama pemakaian slot orbit yang mereka miliki untuk secara sinergis dipergunakan oleh mitra-mitra mereka di negara-negara lain untuk memberikan layanan jasa satelit ini.

“Kerja sama dengan INTERSPUTNIK ini menempatkan UNISAT sebagai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa satelit yang relatif muda ke sebuah posisi yang sangat penting di dalam kancah industri jasa satelit, khususnya di Indonesia,” ungkao Widodo saat acara penandatanganan kerja sama antara UNISAT dan INTERSPUTNIK di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (28/2).

Dilanjutkan, UNISAT akan menjelma sebagai sebuah kekuatan baru dalam bidang persatelitan, yang mampu menawarkan layanan dan ketersediaan transponder bagi kebutuhan telekomunikasi, penyiaran, komunikasi data, dan layanan dalam sektor lain seperti perikanan, perhubungan, pertambangan, kehutanan dan lain-lain.

“Posisi satelit yang nantinya akan ditempatkan di slot orbit 103BT merupakan sebuah posisi yang sangat srategis dilihat dari sudut pandang balance coverage di seluruh Indonesia; posisi 103BT yang berada pada posisi tegak lurus di atas kawasan Padang dan Jambi menjadikan pancaran atau beam signal satelit UNISAT nantinya akan benar-benar merata di seluruh tanah air,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan bahwa Indonesia saat ini masih dan sangat membutuhkan adanya dukungan transmisi satelit untuk mengakselerasi ketersambungan seluruh tanah air ke dalam suatu jaringan telekomunikasi yang merata, sampai ke titik-titik 3T, daerah terluar, tertinggal dan terpencil. (tambahkan bahwa dengan ini berarti secara nasional bertambah resources orbital slot dan kapasitas transponder satelit)

Kristiono, Ketua Umum Mastel mengatakan MoU tersebut merupakan bukti nyata besarnya peran swasta di dalam membantu pemerintah mencapai target untuk keterhubungan seluruh nusantara ke dalam suatu jaringan telekomunikasi yang handal dan merata; ditegaskan juga peran penting layanan jasa setelit sebagai infrastruktur telekomunikasi sebagai wahana untuk mencapai tujuan Digital Inclusion yang sangat strategis menuju Indonesia sebagai Digital Economy terbesar di Asia tenggara tahun 2020 yang akan datang.

Hal senada dikatakan Dirjen Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri RI dan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia yang masing-masing menyampaikan apresiasi kepada UNISAT dan INTERSPUTNIK. Kerja sama antar kedua perusahaan ini mencerminkan juga eratnya hubungan yang terjalin antara kedua negara Indonesia dan Federasi Rusia dan diharapkan terus berkembang ke bidang lain yang menguntungkan kedua belah pihak. (hal ini menunjukkan hasil nyata kunjungan Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo pada tahun lalu ke Rusia)

Sekedar diketahui, Slot orbit juga sudah sangat crowded (penuh sesak) di khatulistiwa dan sulit di daftarkan (filing) di ITU (International Telecommunication Union), yang membuat kerjasama slot orbit ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menambah jumlah satelit yang dibutuhkan pada 2020.

Yang sangat dibutuhkan adalah TCO (Total Cost of Ownership) yang rendah bagi pengguna di Indonesia, dimana Satelit ini harus kompetitif dan memiliki keunggulan komparatif dibandingkan satelit asing misalnya dengan throughput yang tinggi serta diameter parabola VSAT yang lebih kecil sehingga mudah di kirim kedaerah terpencil dan terluar.

Selain untuk penggunaan swasta, Bakamla masih sangat membutuhkan banyak transporder untuk komunikasi dan mengawasi perairan Indonesia yang sangat luas mencapai dua pertiga teritori Indonesia dari kegiatan pencurian ikan dan kekayaan laut Indonesia, ujar Ari Sudewo.

Pengalaman Rudi Rusdiah, editor Komite.ID menggunakan parabola VSAT 1.2 m memanfaatkan satelit Ku Band di daerah perbatasan Long Bawan, Krayan, Kaltara dengan Sarawak, Malaysia sangat menyulitkan, karena diameter satelit 1.2 meter sulit masuk pesawat Cesna yang melayani daerah terpencil dan terluar serta terisolasi dari kecamatan dan kota ada di wilayah Kalimantan dan Indonesia.

VSAT merupakan satu satunya alat mengakses Internet untuk seluruh kecamatan Krayan, padahal masyarakat setempat di wilayah NKRI harus dapat bersaing dan memiliki sarana komunikasi yang sama dengan wilayah penduduk disisi lain dari perbatasan Indonesia dan Malaysia. Disini peran sangat srategis teknologi satelit untuk mempersatukan bangsa dan tanah air Republik Indonesia (RI) serta memberikan daya saing terhadap masyarakat terluar, terpencil dan terisolir dari kecamatan, kota di wilayah RI yang lain. Peran strategis teknologi satelit, non terestrial ini tidak mungkin dapat dilayani oleh teknologi terestrial seperti jaringan kabel fiberoptik.(rrusdiah@yahoo.com).