BEKRAF Dukung Ekraf sebagai Pilar Baru Ekonomi Indonesia

0
34

Jakarta, KomITe- Ekonomi kreatif diyakini mampu menjadi poros ekonomi terbaru  di masa yang akan datang. Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF)  bertugas untuk membangun usaha ekonomi kreatif di Indonesia serta memiliki target berupa kontribusi sektor ekonomi kreatif pada pertumbuhan domestik bruto, tenaga kerja dan nilai ekspor.

Pemaparan hasil kinerja dan pencapaian BEKRAF hingga tahun 2017 dirangkum dalam buku Outlook Ekraf (Opus) 2017. Diharapkan, buku Opus 2017 dapat memberikan pencerahan dan perspektif terkini mengenai peluang serta potensi Ekraf Indonesia. “Kami juga ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ekosistem Ekraf yang baik di Indonesia” kata Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munafdi Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan bahwa ekonomi kreatif pada 2015 telah berhasil menyumbang sekitar 852 triliun rupiah atau sebesar 7,83 persen terhadap total PDB Indonesia. “Ekonomi Kreatif (Ekraf) berpotensi menjadi poros ekonomi di masa mendatang hal ini disebabkan oleh kemampuannya untuk menyerap banyak tenaga kerja melalui lapangan pekerjaan baru yang tercipta, ekspor ke berbagai negara juga peningkatan nilai tambah. Hal ini lah yang berusaha dikembangkan oleh BEKRAF sejak 2015,” ujar Triawan.

Ditunjang oleh ilmu teknologi, pengetahuan, informasi dan inovasi yang mumpuni, EKRAF mampu memberikan dampak yang besar. Menurut hasil riset gabungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan BEKRAF pada 2015 sektor Ekraf berhasil menyerap 15,9% tenaga kerja dan menyumbangkan nilai ekspor sebesar 19,4 miliar dolar AS. Untuk mengembangkan potensi Ekraf, BEKRAF merangkul 16 sub-sektor usaha kreatif dalam arah kebijakan Ekraf yang terdiri dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi dan konservasi untuk menciptakan ekosistem yang baik di masa depan.

Dalam praktek-nya, setiap Deputi BEKRAF telah mengadakan berbagai kegiatan sepanjang tahun 2016 dalam upaya untuk menciptakan ekosistem Ekraf tersebut. Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan (Deputi I) sejak 2015 telah membangun Pusat Unggulan Ekonomi Kreatif serta menjalankan berbagai kegiatan yang tertuang di dalamnya seperti Coding Mum, IKKON, CREATE dan fasilitasi komunitas.

Salah satu lulusan Coding Mum, Siti Aisyah berhasil memenangkan kompetisi internasional yang diselenggarakan oleh Indosat Ooredoo pada 2016. Deputi I juga telah meluncurkan aplikasi BISMA (BEKRAF Information System Mobile Application) untuk mengumpulkan data para pelaku Ekraf di Indonesia dan menawarkan berbagai keuntungan bagi para pelaku. “Deputi 1 bertanggung jawab untuk membantu para pelaku Ekraf untuk membangun SDM yang menjadi kekuatan ekonomi kreatif melalui riset, edukasi dan pengembangan. Sejak tahun 2015, kami telah melakukan berbagai program seperti workshop dan bimbingan teknologi yang diselenggarakan di 25 kota dan diikuti oleh 3.160 peserta dari bulan Mei hingga Oktober 2016,” ujar Abdur Rohim Boy Berawi selaku Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan (Deputi I).

Sementara Deputi Akses Permodalan Fadjar Hutomo, bertugas untuk mempertemukan pemilik dana atau investor dengan para pelaku usaha Ekraf dari keenam belas sub-sektor. Pada tahun 2016, modal dari sektor Non-Perbankan adalah 80 miliar rupiah dengan jumlah pelaku Ekraf yang mendapatkan bimbingan teknis sebanyak 800 orang, sementara jumlah pelaku Ekraf yang mendapatkan bimbingan teknis serta modal dari sektor perbankan mencapai 1.600 orang. Deputi II berhasil menyalurkan 4,2 triliun (859,53% diatas target) ke 2600 orang, dengan peningkatan 130% dibandingkan tahun sebelumnya.

Deputi Infrakstruktur Hari Santosa Sungkari,  bertanggung jawab terhadap terbentuknya ekosistem Ekraf yang kondusif, di mana para pelaku Ekraf dapat berinteraksi, bekerja sama dan merealisasikan visi serta misi mereka secara efektif. Deputi III memiliki program Pengembangan Jaringan Kota Kreatif, Proyek Indobioskop, Ruang Pemasaran (Retail Space) Ekraf di Daerah, serta BEKUP BEKRAF for Pre-Startup. Hingga saat ini, telah terdapat 19 Kota/Kabupaten Kreatif dan 250 peserta pembentukan ekosistem desa/pusat kreatif dalam waktu 3 bulan.

Deputi Pemasaran Josua Puji Mulia Simanjuntak bertugas memperluas pasar produk serta jasa kreatif Indonesia sehingga dapat bersaing di pasar global sekaligus menjadi raja di pasar sendiri. Deputi IV bekerja mengembangkan pasar dalam negeri serta luar negeri melalui program-program seperti Pengembangan Pasar Busana Muslim (Hijab) yang bekerja sama dengan Deputi III, Global Branding bagi produk-produk Ekraf nasional, Mempersiapkan branding dan konten Asian Games 2018, Cita Indonesia Mendunia yang merupakan program branding desainer kain Indonesia serta Rasa Indonesia Mendunia yang mempersiapkan branding sub-sektor kuliner Indonesia agar dikenal pasar global. Hingga 2016, Direktorat Pengembangan Pasar Dalam Negeri berhasil melaksanakan 51 kegiatan dukungan kepada pemangku kepentingan terkait pengembangan pasar dalam negeri serta berhasil menjangkau 2.100 orang pelaku Ekraf di 16 kota Indonesia.

Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi Ari Juliano Gema menyiapkan berbagai program terkait dengan Hak Kekayaan Intelektual di bidang Ekraf untuk membantu para pelaku Ekraf melindungi ide dan karya agar sektor Ekraf dapat bertumbuh pesat. Beberapa program andalan Deputi V antara lain adalah Perancangan dan peluncuran Mobile App Informasi HKI (BIIMA) yang menyediakan berbagai informasi mengenai hak kekayaan intelektual secara lengkap, Konsultasi HKI Massal dan Gratis bagi para pelaku Ekraf, desain ulang kemasan produk indikasi geografis, fasilitasi 5.000 sertifikat profesi bagi pelaku Ekraf, fasilitasi 1.000 pendaftaran HKI, serta mendirikan Satgas Anti Pembajakan untuk memerangi pelanggaran HKI. Hingga saat ini, 1.174 orang pelaku Ekraf di 21 kota telah mendapatkan fasilitasi pendaftaran HKI serta 1.830 orang dari 16 kota telah mengikuti program Fasilitasi Sertifikasi Profesi.

Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Endah Wahyu Sulistianti yang bertugas untuk merancang dan menjalankan program pembangunan dan penguatan hubungan melalui kerjasama serta pembuatan ekosistem Ekraf yang melibatkan akademisi, komunitas, bisnis, serta pemerintah. Beberapa program yang telah dilakukan adalah membentuk satgas pedoman investigasi (DNI) untuk film yang bertujuan untuk memberi keringanan pajak terhadap industri film, menjalankan koordinasi lintas kementerian, lembaga dan daerah, melakukan MoU dengan lembaga pemerintah dan non-pemerintah terkait kerjasama Ekraf, fasilitasi asosiasi dan pembentukan asosiasi baru, membentuk komite kurasi lintas kementerian dan lembaga untuk membantu dan mengawasi program kerja 16 sub-sektor Ekraf, melakukan kerjasama dengan para sineas lokal untuk mendukung serta memajukan industri perfilman Indonesia serta mengadakan Forum Komunitas x BEKRAF. Sejauh ini, Deputi VI telah berhasil melakukan kerjasama berdasarkan MoU dengan 14 kota Indonesia serta 4 negara yaitu Inggris, Korea Selatan, Italia dan Australia.

Berbagai pencapaian serta kegiatan BEKRAF sejak 2015 terangkum lengkap dalam buku Opus 2017, yang turut diluncurkan untuk pertama kalinya. Opus 2017 merupakan perwujudan tugas BEKRAF dalam menerbitkan data, informasi serta laporan mengenai Ekraf sebagai panduan bagi para pelau usaha dan pemangku kepentingan di Indonesia. “Besar harapan kami bahwa buku Opus 2017 dapat memberikan pencerahan dan perspektif terkini mengenai peluang serta potensi Ekraf Indonesia. Kami juga ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ekosistem Ekraf yang baik di Indonesia,” tutup Triawan. (red)