KDIM: Berupaya Merebut Kedaulatan Ekonomi Rakyat

0
219

Jakarta, KomIT – Indonesia memang pantas menyandang predikat sebagai Negara Super Digital. Dari aspek demografi, jumlah penduduk Indonesia keempat terbesar di dunia setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat (AS). Di dunia maya pun, ranking penetrasi Internet Indonesia sebesar 132.7 juta, penetrasi pengguna Facebook mendekati 100 juta dan Twitter Global capital city.

Namun sayangnya prediktat RI ini, sebenarnya lebih tepat disebut “Konsumen Super Digital”, dimana kedaulatannya ada pada konsumsi konten dan akses Digital majoritas. Bukan dari produksi domestic, sehingga manfaat ekonominya tidak dapat dinikmati oleh Bangsa RI sendiri.

Di ranah Satelit dan Ruang Angkasa pun kita belum sepenuhnya berdaulat, misalnya Slot orbit Satelit di ruang angkasa di atas teritori Indonesia banyak yang dimiliki oleh Satelit Asing. Dari 64 satelit yang melayani footprint di bumi Nusantara hanya 5 yang kepemilikiannya local, sedangkan 59 adalah kepemilikan satelit asing. Beberapa indicator dari lemahnya kedaulatan RI di bidang Telematika seperti setiap tahun Indonesia mengimport 100 juta smartphone dan pengguna Facebook di Indonesia 100 juta dan Instagram 30 juta.

Mengapa Kita Tidak Menjadi Tuan di Ekonomi dan Pasar Sendiri?
Ada beberapa factor: (1) Ego sektoral yang tinggi tanpa national interest sehingga politik ‘divide et impera‘ mudah dijalankan dan sering regulasi tidak memihak kepada industry dan kepentingan bangsa sendiri; (2). Cenderung liberal dan minimnya cinta pada Produksi Nasional sehingga rakyat lebih bangga mengkonsumsi dan menggunakan merek Global; (3) Cenderung Kapitalis dimana ekonomi RI berbasis pada kekuatan modal sehingga investasi UKM tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan terdiskriminasi oleh modal kuat baik dari luar maupun dalam negeri, padahal 90% bisnis di RI adalah UKM; (4) Puas menjadi konsumen dan pedagang tanpa memikirkan ketahanan industri manufaktur dan riset teknologi.

Koperasi Digital Mamdiri (KDIM) Sebagai Solusi
Dengan semangat Kerja Bersama 72 Tahun RI sebagaimana dicanangkan cabinet Presiden Joko Widodo, maka Koperasi Digital Indonesia Mandiri (KDIM) yang dinahkodai Henri Kasyfi Soemartono ingin merubah kondisi lemahnya kemampuan bangsa menguasai industry, perdangangan agar menjadi Tuan di rumah sendiri. Henri, yang juga merangkap sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia) bersama Mastel (Masyarakat Telematika) Indonesia mendirikan KDIM untuk menegakkan kedaulatan industry digital dan Cyber di Tanah Air.

Jalan keluar yang disarankan oleh Henri adalah dengan mengadopsi: Ekonomi Berbasis Kerakyatan dengan Model Koperasi untuk dapat menandingi paradigm Kapitalisme. Karena model Koperasi ini adalah model bisnis baru Share Ekonomi dan Modal Rakyat atau Berjamaah beramai ramai sharing modal dengan semangat “Bersatu kita Teguh”.

Koperasi Digital, KDIM disahkan oleh Menkop UKM di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2016 yang di dukung oleh APJII dan Mastel secara bersama sama dengan Rakyat memproduksi alat alat digital yang dibutuhkan disebut DNA atau Device, Network dan Aplikasi. Produk kategori “Device” dari KDIM adalah Smartphone yang diberi merek “DigiCoop” yang sudah diproduksi 6 bulan setelah KDIM berdiri dan dipasarkan sekitar HUT KDIM yang pertama. Sedangkan produk kategori “Network” adalah berupa rencana kepemilikan Satelit milik Koperasi, menjadi Satelit pertama di Indonesia yang dimiliki sahamnya oleh rakyat, dioperasikan oleh rakyat dan hasilnya atau keuntungannya kembali ke pada Rakyat. Dengan adanya semangat berkoperasi, rakyat dapat secara bersama sama mengimbangi kekuatan raksasa asing; incumbent yang sudah merasuk dan memasuki kehidupan digital Bangsa RI.

Alat digital produk koperasi adalah produk yang diproduksi oleh rakyat, dipasarkan oleh rakyat, dioperasikan oleh rakyat. Saham milik rakyat melalui model koperasi, sehingga berpotensi viral dan keuntungan kembali ke rakyat atau disebut anggota koperasi.

Produk perdana dan awal dari KDIM adalah Smartphone Digicoop yang bukan sekedar Smartphone biasa namun merupakan Platform Netral dan Nasional Digital Bangsa Indonesia yang mandiri serta memberikan fasilitas bagi hasil usaha atau dividen.

DIGICOOP KDIM memiliki fitur unik yang tidak dimiliki oleh Smartphone merek Global sebagai berikut:

  1. Spesifikasi dapat dicustomize sesuai aplikasi dari institusi yang menjadi pelanggan KDIM misalnya Koperasi atau Sekolah.
  2. Mendapatkan 15GB Local Clouds dan Email Service.
  3. Split Screen Technology yang dimanfaatkan oleh Integrated Ads Delivery systems yang menghasilkan Integrated Revenue Sharing systems.
  4. Versi dengan camera yang lebih canggih akan embedded dengan fitur E-Wallet yang kompatibel dengan berbagai e-Walet dan e-money yang beredar di tanah air membangun kedaulatan Financial Technology (Fintech) dll

Dalam waktu dekat KDIM juga mempunyai mimpi agar RI berdaulat bukan saja di Darat, Laut dan Udara, melainkan juga berdaulata di Ruang Angkasa setelah 72 tahun merdeka. Hanya dengan model bisnis Koperasi dimana 1 juta anggota awal Koperasi sudah dapat mengalahkan Multinasional yang memiliki satelit Global atau BUMN mengingat harga sekitar Rp 3 Triliun untuk dapat mempersiapkan satelit; meluncurkan; mengoperasikan dan mengontrol serta menikmati manfaat keuntungan ditambah kedaulatan ruang angkasa.

Presiden Joko Widodo pada Peringatan Hari Koperasi Nasional ke 70, mengajak masyarakat untuk membesarkan koperasi agar dapat berdaulat menjadi institusi utama keuangan dan perekonomian rakyat. Koperasi harus menjadi kekuatan bersama (shared ekonomi) yang bisa cepat mengikuti transformasi digital dan perkembangan zaman (12/7). Sumbangan koperasi pada PDB naik menjadi 3.9%, namun masih rendah dibandingkan Perancis atau Belanda mencapai 18%, padahal kita sering mendengar koperasi sebagai saka guru perekonomian RI.

Semoga di HUT Kemerdekaan RI yang ke 72 Indonesia sudah memiliki produksi Device Gadget milik Nasional bahkan Rakyat Indonesia melalui model koperasi dan pada HUT RI yang ke 75 dapat lebih berdaulat di ruang angkasa dengan kepemilikian satelit Koperasi Digital Indonesia Mandiri. (*)